Pembelajaran Bahasa Arab Alquran

"..Prinsip pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing secara elementer sama dengan pembelajaran bahasa ibu.."


Sumber foto: bezaat.com

Bahasa Arab adalah bahasa Alquran dan hadis Nabi Muhammad saw, sumber pokok ajaran Islam. Setiap muslim niscaya mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa khazanah intelektual dunia Islam dengan cara apa pun, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal.

Keistimewaan bahasa Arab antara lain, pertama, bahwa sejak zaman dahulu kala hingga sekarang bahasa Arab merupakan bahasa yang hidup. Kedua, bahasa Arab adalah bahasa yang lengkap dan luas untuk menjelaskan tentang ketuhanan dan keakhiratan. Ketiga, bentuk-bentuk kosakata dalam bahasa Arab mempunyai tasrif (konjugasi) amat luas yang tak terdapat dalam bahasa lain.

Landasan teologis pembelajaran bahasa Alquran adalah firman-firman Allah swt,

Alif lam ra`. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Alquran) yang nyata (dari Allah).  Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.(QS 12:1-2).

Demikianlah, Kami telah turunkan Alquran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS 13:37).

Demikianlah Kami turunkan Alquran dalam bahasa Arab, dan Kami terangkan  berulang kali. Di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau agar Alquran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.(QS 20:113).

Ialah Alquran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan di dalamnya supaya mereka bertakwa.(QS 39:28)

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.(QS 41:3).

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Alquran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul-Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya, serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk jahannam.(QS 42:7).

Sesungguhnya Kami menjadikan Alquran dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya.(QS 43:3).

Sebelum Alquran itu telah ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Ini (Alquran) adalah Kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS 46:12).

Kecakapan berbahasa meliputi empat ketrampilan secara bertahap, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Skala prioritas masing-masing ketrampilan dalam praktik pembelajaran bahasa adalah sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan yang dimaksud.

Prinsip pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing secara elementer sama dengan pembelajaran bahasa ibu. Anak-anak yang sejak kecil mendengarkan ujaran dan diajak berbicara dengan bahasa Indonesia, misalnya, pada saatnya ia bisa berbicara dengan bahasa Indonesia, tanpa mengenal dan mempelajari tata bahasanya sedikit pun. Begitu pula bila seseorang dibiasakan mendengarkan dan diajak berbicara dengan bahasa Arab.

Pembelajaran bahasa Arab di lembaga pendidikan Islam idealnya adalah untuk membekali peserta didik agar mampu memahami Alquran dan sunnah serta kitab-kitab pendukung untuk memahami keduanya, yakni tafsir, syarah hadis maupun kitab-kitab para ulama seputar kedua sumber pokok ajaran Islam.

Pelajar kelas satu sampai dengan tiga SD/MI diusahakan telah dapat membaca Alquran dengan lancar. Selanjutnya pelajar kelas empat sampai dengan enam diberi pengalaman membaca Alquran dan makna/terjemahnya hingga khatam 30 juz. Kelas empat membaca Alquran dan Terjemahnya juz 1-10, kelas lima membaca Alquran dan Terjemahnya juz 11-20, dan kelas enam membaca Alquran dan Terjemahnya juz 21-30.

Materi pembelajaran bahasa Arab pada jenjang SMP/MTs adalah ayat-ayat Alquran, baik struktur dan pola kalimat (tarkib), gaya bahasa (uslub), maupun kosakata (mufradat). Lebih dahulu kepada para pelajar diberikan pengantar tentang urgensi Bahasa Arab dan faedah mempelajarinya.

Salah satu kunci pembelajaran bahasa Arab di Pesantren Gontor bahwa santri menggunakan bahasa tersebut untuk percakapan sehari-hari tanpa perasaan takut salah dari segi gramatikanya. Dengan cara demikian santri cepat memperoleh pengayaan kosakata bahasa tersebut. Pada tahun kedua barulah mereka dikenalkan dengan kaidah nahwu atau gramatika bahasa Arab sederhana melalui buku An-Nahwu al-Wadhih.

Terdapat adagium dalam tradisi pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren, “Al-‘arabiyyatu bila nahwin kal-maraqati bila milhin – bahasa Arab tanpa nahwu ibarat sayur tanpa garam.”  Tidak ada yang salah dengan adagium tersebut, akan tetapi apa jadinya bila santri lebih dahulu belajar nahwu sebelum ia memiliki perbendaharaan kosakata. Ibarat makan nasi dengan garam tanpa sayur.

Buku ajar ialah buku pegangan siswa yang berisi materi pelajaran yang disusun sedemikian rupa untuk jangka waktu dan jenjang pendidikan tertentu guna mengembangkan secara berimbang antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Buku ajar ibarat hidangan berisi makanan lezat, bergizi, dan menyehatkan yang disajikan kepada peserta didik, sedangkan guru kokinya.

Asas pedagogis dan psikologis penyusunan buku ajar, pertama, dimulai dengan materi yang mudah ke yang kompleks, dari yang konkret ke yang abstrak, dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. Kedua, disesuaikan dengan tingkat berpikir dan umur siswa. Ketiga, mempertimbangkan prinsip perbedaan individu.

Ciri-ciri buku ajar yang baik, pertama, dirancang dengan saksama. Kedua, menimbulkan minat baca. Ketiga, meningkatkan motivasi dan keingintahuan. Keempat, terstruktur berdasarkan kebutuhan dan kompetensi yang akan dicapai. Kelima, memberikan kesempatan berlatih. Keenam, mengantisipasi kesulitan belajar. Ketujuh, meningkatkan kemampuan berpikir.

Kegunaan buku ajar bagi guru, pertama, memudahkan tugas guru. Kedua, mengubah peran guru sebagai pengajar menjadi fasilitator. Ketiga, menjadikan proses belajar lebih efektif dan interaktif. Keempat, memandu aktivitas proses pembelajaran. Kelima, sarana evaluasi pencapaian hasil pembelajaran.

Adapun kegunaan buku ajar bagi siswa, pertama, sebagai sarana belajar di dalam kelas. Kedua, memudahkan siwa belajar di luar jam pelajaran. Ketiga, melatih siswa belajar mandiri. Keempat, menjadi pedoman belajar dalam kurun waktu tertentu.

Kesuksesan pembelajaran apa pun berada di tangan guru. Kalimat popular di dunia pendidikan, “Ath-thariqah ahammu minal maddah, wal-mudarris ahammu minath-thariqah, wa ruhul-mudarris ahammu min nafsihi – metode adalah lebih penting daripada materi; guru lebih penting daripada metode; dan ruh kependidikan guru lebih penting daripada dirinya.”

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals