Eksploitasi Perempuan Modern

"...ajaran al-Qur’an ini masih kalah dengan dominasi kerakusan manusia yang ingin mengeksploitasi perempuan sampai mencerabut harga diri.."


Ada banyak hal yang mengganjal dalam kehidupan modern seputar laki-laki dan perempuan. Misalnya dalam berpakaian, perempuan modern adalah yang dicitrakan dengan kaos-kaos dengan dada terbuka. Sedangkan laki-laki memakai baju berjas dan berdasi. Busana kaum laki-laki menggunakan jenis kain yang tebal, sementara perempuan justru begitu tipis, transparan dan tembus pandang.

Masyarakat modern mencap tidak sopan bila laki-laki memakai pakaian yang seadanya tetapi perempuan yang memakai celana atau rok yang memperlihatkan betis dirayakan keberadaannya. Walaupun sedang dalam musim dingin.

Perlu diketahui bahwa dunia fashion dikendalikan oleh kaum Adam sehingga mereka bisa membuat desain yang bisa memuaskan syahwatnya. Dengan dibantu oleh media dalam melakukan kampanye dan propaganda, kini perempuan menganggap bahwa mengenakan pakaian minim merupakan sesuatu yang menunjukkan status dan wujud dari modernitas dan kebebasan.

Sebaliknya perempuan dengan baju tertutup atau baju adat merupakan simbol dari keterbelakangan. Pemikiran semacam ini sudah tertanam dalam benak banyak orang.

Dalam masalah kosmetik, perempuan seolah membenci tubuhnya sendiri. Bentuk alis dan dahinya, cara berjalan dan bicaranya, rona bibir, kuku dan bibirnya. Sehingga semuanya harus dihias agar terlihat indah walaupun semu semata.

Rambutnya dianggap tidak lagi trendy alami sehingga perlu diubah sedemikian rupa walaupun harus mengeluarkan banyak biaya. Dalam masyarakat seperti ini, para perancang busana dan penata rambut serta pembuat kosmetik adalah orang-orang yang paling banyak memperoleh keuntungan.

Ketika laki-laki menyeimbangkan tubuh mereka pada sepertiga inci sol sepatu, perempuan justru diharapkan menyeimbangkan tubuhnya dengan mengenakan sepatu berhak tinggi. Hal ini telah menciptakan abnormalitas yang disebut dengan lordosis dalam istilah medis.

Lelaki mendapatkan banyak uang dengan memamerkan ketelanjangan perempuan melalui bisnis-bisnis “terhormat” mereka seperti dalam strip bar, tempat wisata, pergelaran fashion, lukisan, dan kini melaui situs-situs internet.

Kultur kota yang disebut modern tidak hanya memeragakan hal-hal di atas namun ia pun menunjukkan statistik yang mengejutkan dengan tingkat presentase pertumbuhan berlipat ganda melalui jumlah orang tua tunggal, anak-anak tak berayah, keluarga yang berantakan, kejahatan seksual, perceraian, bunuh diri, pemakaian obat-obatan terlarang, anak-anak terlantar, wisma bagi orang tua yang tak diinginkan, klinik bagi pemuda kriminal dan lain sebagainya.

Budaya negatif perkotaan tersebut sudah masuk ke sudut-sudut desa melalui internet dan televisi tanpa bisa dicegah. Justru hari ini sudah dianggap sebagai hal biasa. Nilai-nilai dan norma masyarakat mengenai perilaku perempuan sudah tak lagi ada diganti dengan nilai-nilai baru yang sudah sejak jauh-jauh hari berhasil mengubah pola pikir masyarakat desa.

Dewasa ini ada perkiraan bahwa sampai 80% masyarakat Amerika menunjukkan sebagian bentuk dari masalah psikologis dan hingga 22% memiliki problem yang cukup serius untuk membatasi kehidupan keseharian mereka yang tidak dapat didiagnosis. Di Amerika Serikat data memperlihatkan bahwa 25-35% gadis-gadis mengalami pelecehan seksual, khususnya oleh kalangan laki-laki yang amat dikenal mereka.

Perempuan yang terkena post traumaticstressdisorder (kekacauan yang sama diidap oleh sejumlah besar veteran perang Vietnam) mencapai presentase tinggi yang mengarah kepada kebiasaan dan gangguan subtansi dan akhirnya kepada kemiskinan serta ketidakmampuan memiliki rumah. Dengan demikian, perempuan Amerika hidup dalam sebuah “zona perang” di rumah-rumah mereka sendiri.

Dalam tatanan masyarakat yang seperti itu, kebebasan perempuan telah direduksi ke suatu jargon untuk menjual produk-produk. Para penjual kebebasan yang kebanyakan laki-laki menawarkan kepada perempuan kebebasan melalui fashion, rokok, alkohol, makanan, minuman dan kosmetik. Kebebasan komersial ini sampai pada ongkos yang besar bagi perempuan dan berperan untuk mengisolasi mereka melalui kebiasaan.

Agama Islam, sebagai satu-satunya agama di dunia yang mengatur masalah kesetaraan perempuan melalui ayat, “Dan bagi perempuan adalah hak yang sama terhadap mereka dalam keadilan,” telah memberikan rambu-rambu mengenai cara hidup berdampingan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan porsi masing-masing. Namun ajaran al-Qur’an ini masih kalah dengan dominasi kerakusan manusia yang ingin mengeksploitasi perempuan sampai mencerabut harga diri.

Ini adalah pekerjaan besar umat Islam untuk bisa menang melawannya. Tentu bukan pekerjaan mudah. Butuh ijtihad yang sungguh-sungguh untuk bisa mengalahkan kekuatan pemikiran yang terlalu menjunjung tinggi persoalan duniawi secara berlebihan. Mereka didukung oleh dana dan kecerdasan. Sedang umat Islam masih belum memiliki metode dan strategi yang memadai untuk berpikir ke arah itu.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Iin Erinda Sari
Iin Erinda Sari, Amd. adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang suka menulis, menetap di Lamongan, Jawa Timur.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals