Belajar Menjadi Perempuan Salihah yang Tangguh dari Film “Wedding Agreement”

Bekal pengetahuan, finansial yang mapan, serta kecerdasan emosional adalah tembok-tembok kokoh penghalau badai kehidupan.


Gambar: Liputan6.com

Film berjudul Wedding Agreement ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama, buah karya Mia Chuz. Film ini tayang pertama kali pada pertengahan tahun 2019 lalu tepatnya pada bulan Agustus. Film ini mengangkat tradisi lama dalam pernikahan yakni perjodohan. Tari dan Bian adalah nama pemeran utama dalam film ini. Bian yang sebenarnya masih memiliki kekasih itu, dijodohkan oleh ibunya dengan seorang perempuan bernama Tari. Permintaan tersebut terpaksa ia laksanakan karena sang ibu dalam keadaan sakit.

Film ini mulai menunjukkan pergolakan ketika Bian menyodorkan sepucuk surat perjanjian pernikahan kepada Tari yang berisi kontrak pernikahan selama satu tahun dan setelah itu mereka akan berpisah. Sontak saja, Tari yang digambarkan begitu agamis merasa keberatan dan tentu saja menolak. Namun, sikap bersikeras Bian dengan kontrak pernikahannya membuat Tari tak bisa berbuat banyak.

Lalu apa sebenarnya yang menarik dari film ini? Gejolak batin? Pernikahan yang dipermainkan? Tokoh Tari sebagai seorang yang tulus menikah dengan Bian? Dalam tulisan ini, penulis sengaja menyorot tokoh Tari dalam film tersebut. Di balik penggambaran kultur perjodohan yang selama ini masih mengakar kuat di masyarakat, penyimpangan dalam pernikahan dan gejolak batin yang teramat kuat dalam pernikahan, ternyata film ini juga hendak ingin menyampaikan betapa kuatnya seorang perempuan.

Perempuan, dengan citra feminimitas yang melekat padanya selalu dikaitkan dengan hati yang lembut, perasa, emosional, pasif dan tak berdaya. Bahkan dalam beberapa literatur mengenai ‘perempuan’,  ia dikatakan sebagai makhluk kelas dua. Namun, film ini menunjukkan betapa stigma tersebut nyatanya tidak lah benar.

Baca juga: Membaca Perempuan dari Masa ke Masa

Pertama, pada scene Tari menolak dan memberikan pendapat kepada Bian bahwa kontrak nikah selama satu tahun merupakan hal yang tidak patut dan tidak diperbolehkan oleh agama. Hal ini jelas menumbangkan stigma bahwa perempuan itu akalnya lemah. Perempuan tentu saja berhak berpendapat jika dirasa ada suatu hal yang salah dan tidak menguntungkan. Apalagi dalam relasi yang diikat dengan pernikahan. Tari menjadi lakon yang mendeskripsikan betapa perempuan juga harus aktif dalam rumah tangga serta ikut andil dalam menentukan arah hubungan. Yah, meski akhirnya tetap terkalahkan dengan sosok Bian yang keras kepala.

Kedua, penggambaran tokoh Tari sebagai sosok perempuan yang bekerja di bidang bisnis kuliner serta motivator yang sukses. Tokoh Tari dibentuk sebagai perempuan yang aktif dalam ruang publik, mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki dan mencurahkannya dalam kesibukan mengisi seminar pengusaha di berbagai kota. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan yang cerdas dan mapan dalam segi pengetahuan dan finansial. Ketangguhan sosok Tari dibendung dengan segala kesibukan dan pengembangan potensinya.

Namun, di balik kesibukannya itu ia tetap menjadi istri yang sangat manis di rumah. Seperti memasak, menyiapkan keperluan suaminya dan lain sebagainya, meskipun ketika dilirik kembali bahwa pekerjaan domestik bukan semata-mata kewajiban perempuan. Apakah ini yang dinamakan double burden? Entahlah. Tari, dengan segala kekuatan hatinya tetap memilih mempertahankan rumah tangganya dibanding perpecahan.

Baca juga: Pemahaman Sinis Terhadap Feminis

Ketiga, ia merupakan perempuan yang cerdas dan pandai menghalau cemburunya. Dalam film tersebut, Bian tetap berhubungan dengan kekasihnya, Sarah. Penonton pasti dibuat gemas dengan tokoh ini. Tokoh yang sangat mencintai Bian, bahkan ketika tahu ia menjadi suami orang lain. Ia tergambar pasif dengan perasaan yang ia punya dan janji seorang laki-laki. Namun tidak dengan Tari. Tari dengan tegas ingin memutus hubungan mereka karena sadar bahwa dia lah satu-satunya perempuan yang berhak dikasihi Bian. Ouh, sad! Tari dengan tegas memperingatkan Sarah dalam beberapa pertemuan antara keduanya agar Sarah tak bertemu bahkan bertemu dengan suaminya lagi.

Keempat, Tari gambaran istri salehah sesungguhnya. Relasi kuasa dalam masyarakat memainkan penggambaran bagaimana menjadi “istri” yang baik. Wacana yang marak di tengah masyarakat tentang seorang istri yang baik adalah yang penurut dan pasif. Tari, alih-alih dipoligami, ia tak ingin pernikahannya bahkan perasaannya diduakan atau dipermainkan oleh laki-laki. Ini menjadi tamparan sekaligus kritikan bagaimana mereka yang di luar sana bisa mengizinkan suaminya untuk menikah lagi dengan alih-alih tafsir agama yang mengatakan bahwa hal tersebut bagian dari pengabdian kepada suami. Ups.

Ia nampak tegas menghalau pihak ketiga masuk dalam hubungannya, menolak bahwa apa yang dilakukan Sarah telah menyalahi aturan. Ia menjadi representasi sosok istri yang baik sesungguhnya, melalui penggambaran tetap berbaik hati pada suami, bersikap manis pada keluarga juga nampak tegas pada hal yang tak menguntungkan. Ia mendobrak stigma bahwa peran dan partisipasi perempuan yang selama ini cenderung represif akan politik budaya. Kebaikannya bahkan meluluhkan seorang Bian yang keras kepala yang akhirnya luluh padanya, bahkan karena kebaikannya pula memantapkan hati sang suami untuk tetap bersama Tari.

Baca juga: Apakah Al-Qur'an Membolehkan Suami Memukul Istri?

Bukan bermaksud menjunjung tinggi perempuan, nyatanya Tari tetap perempuan perasa, menangis dan punya titik lemah. Ketika keteguhan hatinya berada di ujung tanduk, ia pergi dan ingin menyudahi pernikahannya. Bian datang tepat ketika Tari dalam kegundahan hatinya dan memeluknya tanda bersatunya hati mereka.

Pada intinya, penulis hanya ingin menggarisbawahi bahwa menjadi perempuan harus dibekali dengan pengetahuan yang cukup serta tetap mengembangkan potensi sebagai bekal yang mantap menghadapi kehidupan, terlebih pada relasi yang asimetris. Pun, jangan menjadi penerima yang pasif ketika dalam keadaan yang tertekan. Bekal pengetahuan, finansial yang mapan, serta kecerdasan emosional adalah tembok-tembok kokoh penghalau badai kehidupan. Jadi, kamu tetap mau jadi perempuan lemah yang dianggap salihah itu atau mau jadi perempuan yang kuat?[]

 _ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukainya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Izza Royyani

Master

Seorang mahasiswi yang sedang menuntut ilmu di salah salah satu universitas di Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals