Berkenalan dengan Qiraat Al-Qur’an

Ilmu Qiraat merupakan satu di antara skop keilmuan yang begitu urgen untuk memahami intisari Al-Qur’an.


Sumber gambar: quranonline.net

Ilmu Qiraat merupakan satu di antara skop keilmuan yang begitu urgen untuk memahami intisari Al-Qur’an. Manna Khalil al-Qattan mendefinisikan ilmu qiraat sebagai salah satu mazhab pelafalan Al-Qur’an yang dipilih oleh seorang imam qurra’ untuk membedakan antara satu mazhab dengan mazhab lainnya. Pelafalan tersebut meliputi harakat, huruf-huruf, dan bentuk lainnya, misalnya, membuang huruf (hafz) atau menetapkan huruf (isbat), memberikan harakat (tahrik), memisahkan huruf (fashl), menyambung huruf (washl), dan menggantikan huruf (ibdal) (Abdul Hadi al-Fadli, Al-Qiraat Al-Quraniyah).

Keragaman qiraat membuka ruang adanya penyelewengan dan pelintiran makna, yang tentu saja dapat berimplikasi pada proses istinbat hukum. Kendati demikian, hal tersebut sedikit pun tidak mengusik otentisitas Al-Qur’an. Ini mengindikasikan benarlah Al-Qur’an terjamin kesucian dan kemurniannya (al-Hijr [15]: 9).

Adapun dampaknya terhadap penetapan hukum tidak berlaku secara integral. Adakalanya berimplikasi, adakalanya tidak. Pun demikian terkait arti kata.

Baca juga: Al-Qur’an dalam Dua Dimensi

Macam-macam Qiraat
Saat ini dikenal tujuh macam qiraat atau biasa disebut dengan qiraat sab’ah. Ada juga yang membagi menjadi sepuluh qiraat (qiraat ‘asyrah), bahkan empat belas qiraat (qiraat arba’a’ ‘asyrah).

Selain qiraat sab’ah, juga dikenal sab’atu ahruf. Sering muncul kerancuan pemahaman terkait dua istilah tersebut. Kiranya perlu dipaparkan sekilas tentang sab’atu ahruf. Di antara hadits yang memuat istilah tersebut,

Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Jibril membacakan kepadaku atas satu huruf, maka aku kembali kepadanya, maka aku terus-menerus minta tambah dan ia menambahi bagiku hingga berakhir sampai tujuh huruf.”

Berdasar pada hadits tersebut muncul penafsiran sedikitnya 35 pandangan. Di antaranya ada yang memahami term sab’atu ahruf sebagai tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab mengenai satu makna. Ada pula yang mengartikan, tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab sebagaimana Al-Qur’an diturunkan. Dan seterusnya.

Bila dicermati pendapat di atas maka tampak selisih antara qiraat sab’ah dan sab’atu ahruf. Sama sekali beda.

Akan halnya penetapan qiraat yang tujuh (qiraat sab’ah) merupakan buah dari ijtihad Abu Bakar Ahmad bin Musa bin ‘Abbas bin Mujahid (wafat 334 H), atau biasa dikenal dengan Ibn Mujahid.

Qiraat sab’ah disandarkan kepada imam qira’at yang tujuh, mereka adalah Abdullah al-Katsir al-Dari, Nafi’ bin Abdurrahman bin Abi Naim, Abdullah al-Yasibi, Abu Amar, Hamzah, Ashim, dan Kisa’i.

Maraknya perkembangan model-model qiraat di masyarakat, yang sering kali mengundang polemik dan perselisihan, telah mendorong Ibn Mujahid untuk merumuskan nama-nama imam qiraat beserta mazhab mereka berdasarkan 3 syarat yang cukup eklektis sebagai berikut: 1) Setiap Qiraat mesti sesuai dengan kaidah nahwi, 2) selaras dengan rasm usmani, dan 3) memiliki sanad sahih (Ibn al-Jazari, Ṭayyibah al-Nashr fī al-Qirā‘āt al-’Ashr, 2000).

Baca juga: Geliat Qiroat yang Lesu

Jika syarat-syarat itu tidak terpenuhi maka secara otomatis dianggap syadz.

Namun demikian, keberadaan qiraat syadz dalam beberapa tafsir, di antaranya Tafsir Mafatih al-Ghaib, justru dapat mengafirmasi qiraat yang shahih atau mutawatir. Berhubung di masa khalifah Usman terjadi ‘penunggalan’ qiraat, banyak dari pengkaji Al-Qur’an menyisipkan poin qiraat dalam penafsiran Al-Qur’an. Belakangan, dari situlah para ulama mengumpulkan kembali qiraat-qiraat syadz.

Tingkatan Qiraat
Berdasarkan sanad, ada 5 tingkatan qiraat:
mutawattir, masyhur, ahad, syadz, dan maudu’.

Qiraat mutawatir ialah qiraat yang diriwayatkan oleh banyak sahabat dan tidak mungkin ada celah dusta dan rekayasa. Qiraat masyhur berada setingkat di bawah qiraat mutawatir perihal sanad. Qiraat ahad, sahih sanadnya, namun berbeda dari segi penulisan (rasm utsmani). Qiraat syadz memiliki sanad yang tidak absah atau cacat. Sedangkan qiraat maudhu’ ialah qiraat yang dipermasalahkan asal-usulnya (Jalal al-Din al-Suyuti, Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an).

Ulama berbeda pendapat soal penetapan status keabsahan qiraat. Misalnya, ulama nahwu berprinsip meskipun sanadnya sahih, jika kaidah nahwunya bermasalah maka tidak bisa diterima. Namun, ada juga ulama berpendapat salah satunya Abu Amr Usman al-Daniy (444 H/1052 M), seorang ahli fiqh Maliki, bahwa suatu qiraat bisa diterima jika sahih sanad dan pengutipannya.

Bagaimana pun, sejak era sahabat hingga sekarang ilmu qiraat di antara ilmu yang terus bergerak. Perkembangan ilmu qiraat begitu pesat dan terus diapresiasi oleh kaum muslimin dan para pengkaji Al-Qur’an dalam berbagai rupa. Dari bangku madrasah hingga perguruan tinggi ilmu qiraat terus dipelajari, sebagai bentuk merawat khazanah keilmuan Islam. Bahkan perlombaan Qiraat Sab’ah juga dihelat di banyak negara, tak terkecuali Indonesia. Hampir setiap tahun Qiraat Sab’ah diapresiasi dalam agenda akbar MTQ, dan selalu menampilkan bakat-bakat muda yang mumpuni lagi fasih.

Editor : Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Al-Qur'an dan Hadis

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals