Bubur Syuro: Nasab Bukan Tiket Surga

Hanya orang-orang bodoh dan tidak berwawasan sajalah yang mau percaya bahwa keturunan Nabi bisa menyelamatkan...4 min


Sudah menjadi tradisi, setiap malam sepuluh Muharram, jamaah salah satu masjid di kelurahan Terkul, Rupat, melaksanakan acara syuronan. Saya dan Ustaz Abdul Bari diundang untuk ikut meramaikan. Kegiatan diawali dengan makan bersama setelah Maghrib di rumah ketua panitia, Pak H. Wiji. Dilanjutkan dengan acara pengajian setelah sembahyang Isya berjamaah di masjid.

Dalam sambutannya, H. Wiji meminta kami menyampaikan beberapa hal yang terkait dengan Hari Asyura. Karena diminta menjadi pembicara pertama, saya mengambil bagian yang paling saya ingat untuk diceritakan. Pertama, Bubur Syuro, dan kedua, pantang larang di bulan ini.

Pusaka tradisi nonbenda yang disebut Bubur Syuro dan sebagian masyarakat Melayu menyebutnya Bubur Lambuk itu berkaitan langsung dengan banjir bandang zaman Nabi Nuh. Dikisahkan bahwa Nabi Nuh adalah utusan Allah yang diberi umur paling panjang. Mufassir Ibnu Abbas mengatakan bahwa beliau berumur 1.050 tahun dan berdakwah selama 950 tahun. Umur panjang itu disebabkan doanya: agar orang kafir dilenyapkan di muka bumi.

Allah mengabulkan. Cara Allah melenyapkan orang yang ingkar adalah dengan mendatangkan banjir bandang. Dan agar banjir itu tidak menimpa orang beriman, Allah mewahyukan kepada Nabi Nuh untuk membuat perahu yang bisa menampung umatnya yang taat. Nabi Nuh kebingungan, bagaimana dan dengan apa perahu itu dibuat.

Singkat cerita, Allah memerintahkan Nabi Nuh menanam biji agar tumbuh pohon. Dari pohon itulah, jika sudah besar dan waktunya sampai, perahu dimaksud dibuat. Dengan izin Allah, umur Nabi Nuh dipanjangkan karena menunggu biji pohon itu tumbuh besar untuk dijadikan bahan dasar membuat perahu.

Sampailah tiba waktunya Nabi Nuh memulai proses pembuatan perahu tepat di tengah kampung yang jauh dari sungai dan laut. Umatnya yang ingkar mem-bully dan menertawakan dengan mengatai Nabi Nuh sudah gila dan stres. Lebih dari sekedar bully, perahu yang sedang dibuat malah dijadikan tempat membuang kotoran oleh umatnya yang ingkar. Dikisahkan oleh periwayat, orang yang buta pun ikut-ikutan membuang kotorannya di atas perahu itu karena saking bencinya. Karena tidak dapat melihat, si buta itu terpeleset dan jatuh berkubang kotoran yang menumpuk di atas perahu. Saat itu juga keajaiban terjadi. Kotoran manusia yang mengenai mata si buta menjadi sebab kebutaannya hilang; seketika itu bisa melihat dengan baik dan normal.

Kabar kemukjizatan itu secepat kilat menyebar ke seluruh warga. Serta-merta warga mengambil kembali kotoran mereka di atas perahu untuk dijadikan obat berbagai jenis penyakit. Tidak berapa lama, perahu itu pun yang semula dipenuhi kotoran manusia menjadi bersih kembali dan siap untuk dilayarkan.

Nabi Nuh menghimbau masyarakat agar ikut bersamanya menaiki perahu karena berdasarkan informasi langit, banjir bandang akan segera datang. Segala perbekalan yang diperlukan selama dan seusai pelayaran pun dinaikkan ke atas perahu. Orang-orang yang percaya melaksanakan dan mengikuti perintah Nabi Nuh, sementara mereka yang ingkar semakin mendurhakai sang Nabi.

Setelah air mulai meninggi, Nabi Nuh memeriksa perbekalan dan para penumpang yang menaiki perahunya. Dalam pemeriksaannya, sang Nabi tidak menemukan isteri dan salah satu anaknya dalam perahu. Dia pun berteriak, “anakku sayang, naiklah ke perahu ini.”

Sangat disayangkan, anaknya tetap enggan dan membangkang. Nabi Nuh terus merayu anaknya, seraya mengadu kepada Allah dengan doa. Tetapi untuk soal ini, Allah lepas tangan, bahkan menegur Nabi Nuh. Beliau pun menangis karena tidak dapat menyelamatkan darah dagingnya.

Jika anak seorang Nabi tidak dijamin selamat, bagaimana mungkin keturunan yang jauh, lagi tidak jelas ada jaminan keselamatan. Dan jika doa Nabi untuk anaknya tidak dipedulikan Allah, bagaimana mungkin orang yang hanya mengaku keturunan Nabi bisa memberi keselamatan. Hanya orang-orang bodoh dan tidak berwawasan sajalah yang mau percaya bahwa keturunan Nabi bisa menyelamatkan. Padahal, seperti anak Nabi Nuh, menyelamatkan diri sendiri saja dia tidak bisa dan doa Nabi juga tidak bisa menyelamatkan anaknya.

Dalam hal isteri, sepertinya Beliau tidak terlalu peduli dengan keingkarannya,tentunya karena sadar bahwa, isteri hanyalah teman hidup ketika di dunia dan bukanlah darah dagingnya. Berbeda dengan anak, yang bagaimana pun adalah darah dagingnya. Begitulah, setiap manusia adalah pribadi yang otonom dan memilih perbuatannya sendiri. Isteri dan anak Nabi sekalipun, bukan jaminan untuk mengikuti apa yang dikatakan suami dan ayahnya. Apalagi orang biasa.
Baca juga: Sejarah dan Keistimewaan Bulan Muharram dalam Islam

Tepat tanggal 10 Muharram, banjir usai dan perahu Nabi Nuh tersandar di Gunung Jud. Nabi Nuh dan semua yang ada di atas perahu diturunkan. Lelah dan lapar karena berlayar cukup lama semakin menyiksa. Segera Nabi Nuh bersiap untuk memasak makanan. Bahan makanan yang bisa dimasak hanyalah biji-bijian yang sudah mengering dan sengaja diselamatkan di atas perahu. Tetapi tidak semua dimasak, karena sebagian harus ditanam kembali untuk menyambung kehidupan keturunan mereka yang akan melanjutkan hidup di bumi.

Tradisi memasak Bubur Syuro atau Bubur Lambuk yang diolah dari berbagai jenis biji-bijian yang sampai hari ini masih dilestarikan oleh masyarakat Islam Nusantara bermula atau terinspirasi dari kisah Nabi Nuh. Agar menjadi ingatan dan pelajaran.

Sebuah Pelajaran 

Berkenaan dengan kisah keingkaran isteri dan anak Nabi Nuh, sebagian mufassir berpendapat bahwa semua itu disebabkan doa yang tidak baik kepada umatnya. Seperti disebutkan dalam al-Qur’an, Beliau pernah memohon kepada Allah untuk menghabisi orang kafir dari muka bumi.

Adapun penderitaan batin terberat yang menimpa Nabi Nuh karena doa buruknya kepada orang kafir adalah ketika Allah memperlihatkan kematian anaknya yang durhaka. Ya, di depan matanya anak itu menghembuskan nafas terakhir. Peristiwa itu pula pada gilirannya menjadi sebab dirinya jatuh sakit hingga menjemput ajalnya.

Pelajaran berharga untuk kita adalah, jangan pernah mendoakan tidak baik kepada siapa pun, dengan orang jahat dan kafir sekalipun. Dan, jangan pernah percaya apalagi menjadi pengikut siapa pun yang pernah mendoakan kecelakaan kepada orang lain, meskipun orang lain itu adalah musuh.

Mengapa doa seseorang menjadi patokan penilaian? Tidak dapat dipungkiri, karena apa yang terucapkan (khususnya doa) adalah buah dari renungan hati yang panjang dan olah pikir otak yang mendalam. Pada gilirannya, yang terucapkan itu akan berbuah perbuatan.

(Tulisan ini telah disunting dan disesuaikan, sumber asli: https://clik.now/47X6)

Editor: Emha Wafi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Masdarudin Don Ahmad
Penekun Kajian Sosial, Budaya, dan Keagamaan

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals