Belajar dari Kasus Wamena: Apakah Indonesia adalah Domba yang Empuk?

Tak usah menyalahkan nilai luhur yang ada, mempertahankannya saja agar selalu menubuh dalam keseharian dan kepribadian saja sudah sangat susah.


Gambar: detikNews

Kasus yang terjadi di Wamena akhir tahun 2019 lalu membuat Indonesia sempat ramai dibahas banyak orang, khususnya di sosial media. Aksi kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran sejumlah rumah dan toko memunculkan banyak tanya di benak kita masing-masing.

Terutama relevansinya dengan semangat persaudaraan dan persatuan bangsa, sebagaimana terpampang gagah pada sila ketiga Pancasila: Persatuan Indonesia. Sebenarnya, tidak hanya kasus Wamena, sedikit mundur, ada juga kasus Timor Timor misalnya, yang merupakan faktor yang menggoyahkan ‘Persatuan Indonesia’

Banyak asumsi yang terjadi dalam kejadian di Wamena tersebut. Untuk mengkritisi hal itu, sedikit banyak akan diulas di sini, mulai dari segi sosial, politik, budaya, agama, dan psikologi. Oleh karena itu, barangkali penyajian dari tulisan ini belum tentu teratur. Disebabkan beberapa kendala kemampuan dalam menulis dan data-data yang disadurkan untuk menguat perspektif dari tulisan ini. Tulisan ini masih bisa jadi bahan pertimbangan khususnya bagi kaum-kaum intelektual yang diharapkan dapat melihat fenomena ini untuk mencari kebenaran sesuai kepakaran yang diemban.

Baca juga: Menjaga Persatuan, Merawat Indonesia

Mungkin ini berawal dari ketidakawasan diri menjaga lisan. Bagaimana tidak, cikal bakal kasus Wamena adalah rentetan dari olok-olokan terhadap orang Papua di pulau Jawa. Penulis kebetulan memiliki seorang teman Papua dan tinggal di Sumatera Barat (Padang) untuk menuntut ilmu. Katanya, meledaknya kerusuhan di Wamena disebabkan oleh ‘ejekan’ yang kembali dilakukan oleh guru SMA di Wamena.

Terkait itu, ada yang mengatakan kepada penulis bahwa hal itu adalah hoaks. Sejujurnya, penulis belum melakukan riset yang serius mengenai kasus Wamena. Hanya mengandalkan nalar dan akal budi yang dimiliki, penulis berusaha mencari titik terangnya.

Sekiranya ingin mengetahui relevansi kasus Wamena dan keabsahan sila ketiga, perlu kita tanyakan dan riset kepada beberapa orang perantau yang masih ingin menetap di Wamena pasca kerusuhan.

Apapun itu, suatu lingkungan yang mengancam jiwa dan raga akan menjadikan orang-orang yang di dalamnya menjadi tidak nyaman dan berusaha melakukan ‘hijrah’. Mungkin ini terkesan behavioristik, tapi adanya data kecil yang disampaikan beberapa pihak soal pemulangan orang rantau, khususnya orang Sumatera Barat manjadi perspektif lain bagi penulis.

Baca juga: Melihat Wajah Santri di Minangkabau Zaman Kolonial

Menggunakan kacamata yang lebih luas, potensi di Papua sangatlah besar apalagi di daerah Freeport, yang merupakan tempat penghasil emas yang berlimpah ruah. Adalah rahasia umum bagi kita, bahwa Freeport dikelola penuh oleh Amerika. Berkaca pada pergolakan isu persatuan, tidak menutup kemungkinan jika terlepasnya Papua (Irian Jaya) dari NKRI akan memudahkan Amerika memonopoli sepenuhnya kekayaan yang awalnya milik Indonesia.

Wajar saja jika ada asumsi bahwa dalang di balik kasus Wamena adalah Amerika. Untuk bisa mendapatkan sepenuhnya potensi besar di sana perlu dilepaskan dari induk semangnya. Lagi pula, Indonesia cenderung memilih negara Timur seperti Tiongkok sebagai mitra politik dagang Indonesia. Jadi, masuk akal apabila Amerika menjadi cemburu akibat tidak menjadi pilihan mitra dagang Indonesia dan berhasrat memiliki Freeport sepenuhnya, apalagi akhir-akhir ini kontrak Freeport memang diperpanjang namun persentase untuk hasil hampir terbilang fifty-fifty dengan Indonesia.

Baca juga: Menara Azan di Bumi Freeport

Kesepakatan kita selaku bangsa Indonesia melegitimasi simbol Pancasila sebagai bentuk asas peradaban dalam kebudayaan kita: Berpikir dan bertindak sesuai kesepakatan bersama dan men-sah-kannya dengan simbol Pancasila.

Memang, masih ada yang tidak sepakat dengan Pancasila, mensinyalir adanya irasionalitas pada bulir-bulirnya. Akan tetapi, penulis tidak mau terkesan pancasilais, yang perlu ditekankan adalah, budaya yang disepakati dalam berbangsa dan bernegara adalah demikian. Jika tidak, lantas budaya apa yang dianut oleh orang Indonesia?

Penulis percaya, tentu ada kesepahaman dalam berbudaya. Entah itu masih membawa pengaruh pada bentuk peradaban kerajaan atau penjajahan. Dalam arti lain, masih nyaman dengan sistem yang lama. Tentu ini sah-sah saja. Yang menjadi penekanannya adalah hal yang membudaya pada diri bangsa Indonesia tercermin pada apa yang diyakininya.

Dalam perspektif agama sekalipun, tidak ada satu agama yang mengajarkan pertumpahan darah dengan cara yang tidak layak. Bahkan dalam Islam pun, yang telah dipercaya oleh Muslim memiliki rincian sedemikian rupa, selain nilai kedamaian yang diajarkan, tetap juga memperkenankan hingga ke titik ketika tidak ada jalan lain selain mata dibayar mata. Hal itu dibahas dalam konsep qishash -Jujur, penulis belum memahami secara mendalam mengenai praktik qishash, sekalipun beragama Islam. Masih butuh banyak belajar. Sekaligus mengafirmasi bahwa manusia adalah lemah dan bodoh tapi masih juga mengajarkan pengetahuan. Masih juga diberi mandat untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Baca juga: Kejinya Tindakan Pembunuhan

Seperti yang disinggung sebelumnya dalam aspek agama, penduduk asli yang ada di Wamena sudah dapat dipastikan bukan mayoritas Islam. Uniknya, agama Nasrani yang mendominasi tentunya mampu mengajarkan cinta kasih. Lantas mengapa terjadi pertumpahan darah?

Secara psikologis, penulis ingin membandingkan, mana yang lebih mudah tersulut kemarahan, orang yang berpendidikan rendah atau orang yang berpendidikan tinggi?

Orang Papua tidak mengenal kekerasan baru-baru ini saja. Kekerasan antar mereka pun terjadi sudah tak terbilang. Teman penulis sempat bercerita, bahwa semasa tahun 2000 terjadi Merauke berdarah. Ia dulunya masih kecil berumur satu tahun. Disembunyikan oleh ibunya agar tidak menjadi korban.

Ia mengingat cerita dari ayahnya mengenai kakeknya yang dieksekusi mati di depan mata ayahnya. Sang ayah menceritakannya dengan tegar tanpa ada indikasi dan maksud untuk mewarisi balas dendam kepada anaknya. Ia meyakini bahwa ada yang berkuasa di balik penguasa. Tidak ada yang dapat melampauinya. Ini merupakan tolok ukur bahwa agama kembali pada yang kuasa dan memunculkan rasa spiritualitas yang tinggi.

Baca juga: Memahami Pluralisme dalam Wacana Indonesia Damai

Bagaimanapun, kekerasan merupakan cara terburuk untuk mengajari mental kita menghadapi kehidupan. Akan tetapi, kekerasan adalah makanan yang tetap tersaji di bumi. Mau tak mau kita harus menyikapinya. Penulis hanya dapat menyimpulkan, yang terjadi, maka terjadilah.

Dari penjabaran di atas, kembali mengingat-ingat pada pemahaman kita yang hakiki, bahwasanya jauh ke depan, nilai dari bulir-bulir Pancasila sebagai identitas kepribadian bangsa Indonesia cenderung diobrak-abrik oleh segelintir kaum-kaum oportunis, ‘mentang-mentang’, dan apatis.

Jangankan untuk menjadi manusia Pancasila, menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia saja sudah banyak rintangannya. Tak usah menyalahkan nilai luhur yang ada, mempertahankan nilainya agar selalu menubuh dalam keseharian dan kepribadian saja sudah sangat susah. Belum lagi dengan yang mengganggu keikhlasan kita menjadi manusia.

Waallahu ‘alam bis shawab

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ibnu Biat

Master

sekiranya ketiadaan dapat diterima sebagai eksistensi, memperkenalkan diriku hanya sebatas pengingat bahwa aku bukan siapa-siapa melainkan Dia yang menjadikanku siapa.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals