Menara Azan di Bumi Freeport

Masyarakatnya yang ramah dan santun seringkali tidak ditampilkan dengan seimbang di tengah-tengah kecamuk yang mendera tanah Papua


Menjadi salah satu pemukiman tertinggi di dunia, Tembagapura berada di antara pegunungan tropis yang lebat. Awan selalu datang tiap hari menyapu jalanan dan pepohonan di pusat kota, Hidden Valley, hingga Grasberg. Bahkan salju pun turun tiap tahunnya menyambut para penghuni kota di bumi Papua ini. Di lereng salah satu Puncak Jaya, masih terdapat hamparan es yang mungkin adalah es terakhir atau satu-satunya di Indonesia.

Di tengah geliat pertambangan bumi Papua, agama, budaya, dan nilai sosial dibangun untuk kurang-lebih 29.000 karyawannya. Menghiasi nuansa sejuk kota di ketinggian kurang lebih 2200 mdpl tersebut.

Pada pertengahan September 2019, kami berhasil merekam sebuah keseharian komunitas muslim Freeport. Mereka terwadahi dan terhimpun dalam Yayasan Masyarakat Meslim (YMM).

Jauh dari kesan tampilan industri tambang, Kota Tembagapura ternyata tak ubahnya seperti sebuah kota pada umumnya, di sini kita bisa jumpai tempat pendidikan, rumah sakit, supermarket, gelanggang olah raga, hingga bioskop. Tidak hanya fasilitas dan sarana penunjang kebutuhan fisik, kesehatan, dan ekonomi, namun di kota ini juga terdapat sarana penunjang kebutuhan spiritual. Sahabat bisa melihat di setiap gedung disediakan mushola dan di beberapa titik terdapat masjid. Bahkan terdapat mesjid yang berada di perut bumi dan sekaligus menjadi mesjid terdalam di dunia yakni Masjid Babul Munawwar.

Salah satu mesjid yang cukup besar di Freeport adalah Mesjid Dar al-Saadah. Meski Mesjid ini memiliki desain arsitektur yang terkesan sederhana, namun ia memiliki kegiatan yang cukup terkelola. Tiap selepas maghrib terdapat kajian yang diisi oleh para cendekiawan muslim yang diseleksi. Beberapa di antaranya merupakan alumnus Timur Tengah seperti Universitas Al-Azhar. Kegiatan-kegiatan keagamaan di Mesjid Dar al-Saadah ini juga disiarkan langsung on air di radio mesjid yang diperdengarkan bagi seluruh masyarakat Tembagapura.

Menurut salah satu jamaah, Bapak Wahyu Apriadi yang juga merupakan salah satu instruktur di pertambangan PT. Freeport, bahwa tiap bulan Ramadhan, pengelola Masjid selalu rutin menyusun kegiatan dan mendatangkan berbagai penceramah Nasional. Salah satu yang pernah merasakan berkunjung ke mesjid ini adalah Syaikh Ali Jaber. Penceramah asal Madinah yang sudah lama berdakwah di Indonesia.

Biasanya Pengurus YMM melakukan safari Ramadhan dengan menggilir para da’i dari mesjid ke mesjid yang ada di area PT. Freeport. Secara umum PT. Freeport Indonesia membagi wilayahnya menjadi dua wilayah dari total 100 ribu hektar luas areanya. Yakni Timika yang masuk wilayah Low Land dan Tembagapura, Hidden Valley, serta Geasberg yang masuk wilayah Highland.

Para da’i tersebut akan digilir untuk mengisi tiap masjid yang tersebar di wilayah PT. Freeport untuk bersilaturrahim dengan berbagai masyarakat muslim yang juga tersebar di berbagai sudut area perusahaan.

Saat bulan Ramadhan pengelola mesjid juga memfasilitasi buka bersama dan tak kurang dari 2000 porsi nasi box pun disediakan untuk menyediakan hidangan berbuka bagi para jamaah. Sistem pengelolaan yang bagus tersebut tak lepas dari kesadaran masyarakat Muslim dalam menyalurkan dan mempertahankan nilai spiritualnya di tengah aktivitas kerja hingga kemudian mereka berhasil mendirikan sebuah yayasan untuk mewadahi seluruh nilai spiritualitas dan juga sebagai sarana bersilaturrahim.

Pada tanggal 20 September 2019, penulis merasakan atmosfer mesjid Dar al-Saadah, melihat, dan mendengar langsung bagaimana hangatnya Islam dan dakwahnya disuguhkan di Tembagapura yang dingin. Azan berkumandang lima waktu melalui menara mesjid, mewadahi kebutuhan ruhaniah masyarakat Muslim dalam perantauannya.

Kesadaran bahwa mereka jauh dari tempat kelahiran, menjadi dorongan untuk menciptakan dan menghadirkan nuansa agama di manapun mereka berada. Bahkan saat Idul Fitri maupun Idul Adha di mana mereka tidak dapat mudik pulang kampung, mereka tidak perlu lagi khawatir karena Tembagapura telah menjadi kampung halaman kedua dan keluarga dari kampung halaman juga bisa menemani hari yang fitri di Kota Tambang Emas tersebut.

Di hari yang Fitri tersebut biasanya mereka merayakan dengan saling berkunjung ke tokoh-tokoh agama dan para pembina selepas sholat bersama di lapangan Sporthall Tembagapura. Selapasnya, mereka akan bersantai saji menambah kehangatan dan kebahagiaan menjadi seorang Muslim.

Kepercayaan dan keyakinan bagaimanapun tak dapat dipisahkan dari geliat sosial dan ekonomi. Kota Tembagapura menjadi salah satu contoh bagaimana mesjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya saling berdekatan membangun dasar kearifan manusia untuk hidup dan menjadi kontrol serta pijakan dalam berperilaku sehari-hari. Negeri Papua memiliki banyak potensi kedamaian, hanya karna kepentingan dan hasrat media banyak menutupi berbagai potensi keindahan yang mendominasinya.

Masyarakatnya yang ramah dan santun seringkali tidak ditampilkan dengan seimbang di tengah-tengah kecamuk yang mendera tanah Papua, yang hanya menampilkan satu dua oknum yang tidak bertanggungjawab hingga kemudian  menggeneralisir keseluruhan citra masyarakat Papua.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Barir
Muhammad Barir, S.Th.I., M.Ag. adalah redaktur Artikula.id. Ia telah menulis beberapa karya, diantaranya adalah buku Tradisi Al Quran di Pesisir.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals