Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 6)

Sedang Tuhan tidak hanya memuliakan bani Adam saja, tetapi Ia juga Mencintainya.


Sumber gambar: Pinterest

“Bila ia sejengkal mendekati-Ku, Aku sehasta mendekatinya. Bila ia mendekati-Ku sehasta, Aku mendekatinya sedepa. Bila ia mendekati-Ku dengan perlahan, Aku mendekatinya dengan cepat.”

Cinta itu bersemi tanpa pandang siapa. Karena siapa saja menerima Cinta-Nya, tiada satupun yang luput dari kasih-Nya. Kata Cak Nun, bahkan seekor coro tiada luput dari rahmat-Nya. Cinta Tuhan dibuktikan dengan berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan. Ada yang penuh kegembiraan, ada pula sebaliknya. “Jika Allah mencintai suatu kaum, maka mereka akan diuji” (HR. At-Thabrani, Shahih Al-Jami’: 285). Para Nabi yang tercatat sebagai kekasih-Nya pasti mengalami cobaan dan ujian yang luar biasa besar. Diberikannya pasangan dalam hidup adalah bagian dari kebesaran dan cinta-Nya.

Bukti bahwa Tuhan penuh cinta adalah pada kalimat basmalah. “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang.” Perjalanan malam isra dan miraj Nabi Muhammad saw. menjadi bukti cinta Tuhan kepada manusia, seperti dikatakan “Dan benar-benar telah Kami muliakan anak cucu Adam, Kami naungi mereka di daratan maupun lautan lepas, Kami beri rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang Kami ciptakan. QS: Al Isra’: 70

Dikisahkan seorang preman pasar yang menggugat Tuhan. “Tidakkah Engkau Maha Pengasih lagi Penyayang? Mengapa Engkau tak memberiku kebahagiaan? Sehari-hari aku hanya berjibun dengan kejahatan, itu semua karena Engkau tak memberiku rejeki yang melimpah!”, tukas sang preman sambil sempoyongan karena mabuk berat. Pasar yang sedang penuh sesak para pembeli menjadi tak karuan. Mereka ingin menghindar dari sang preman namun mereka sedang antri baju murah untuk lebaran.

Dari kejauhan suara Mat Rais menyentak si preman. “Kamu saja yang kurang bersyukur. Badan masih kekar tapi malas kerja berat. Malah jadi preman.” Rupanya preman ini sudah tidak begitu ditakuti di pasar tersebut. Disusul dengan hujat dari beberapa penjual di pasar.

“Ah kamu Is… Kamu saja masih beli togel. Jangan sok suci kamu. Dan kalian para penjual, jangan munafik. Wong masih suka pakai penglaris ke dukun atau cari barakah ke kiai-kiai atau kalau malam Jumat pergi ke kuburan keramat,”  jawab si preman sambil menenggak minuman di botol bertulis ciu jahat itu.

Semua terdiam, hanya bising tawar-menawar dan suara plastik pakaian baru yang sedang dibuka. Lamat-lamat ada seorang tua rentah seperti pengemis namun bukan pengemis, pakaiannya compang camping, mendatangi si preman. “Nak… sejak kapan mabuk?”

“Sejak dulu…” sambil terkekeh.

“Apa yang kamu dapat selama ini nak…?”

Fly….iki nyapo toh takok-takok wae…?”
“Nak, silakan kamu mabuk sepuasmu. Lakukan kejahatan apapun sepuasmu. Tetapi akan ada masa ketika kamu merasa butuh kembali kepada Tuhan dan melepas dirimu.”

“Maksudnya bagaimana?” Tiba-tiba rasa mabuknya hilang.

“Tuhan Maha Dekat, Tuhan mencintai setiap manusia, walau kadang cinta-Nya tak berbalas. Engkau mencaci maki-Nya maka tidak akan mengubah cinta-Nya kepadamu. Kau masih diberi nikmat hidup yang luar biasa, bisa merasakan enaknya minum dan lain sebagainya. Tapi tidak kehadiran-Nya.”

“Begitukah? Lantas kenapa hidupku tidak berubah. Padahal Tuhan Maha Kuasa?”

“Mengapa engkau selalu menunggu? Padahal Tuhan selalu memberimu tanpa engkau meminta.”

“Lah, tapi kenapa yang kuminta tiada wujud dan terkabul?”

“Karena yang kauminta tidak pernah kaukerjakan. Banyak orang berdoa tetapi lupa untuk mengerjakan doanya. Apalagi bersyukur? Manusia terkadang sakit hati ketika apa yang diminta tidak terkabul. Padahal Tuhan punya gambaran terbaik tentang setiap makhluk-Nya. Apalagi manusia benar-benar dimuliakan oleh-Nya.”

“Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Mari belajar bersyukur, karena kita tidak tahu hal yang paling dekat dengan kita adalah kematian.”

Si preman terpejam kemudian menangis. Saat ia membuka mata, Pak Tua itu hilang entah kemana. Ia hanya merasakan detak jantungnya berdentum, sesak di dadanya, kering kerongkongannya. Kemudian isak tangis air matanya berderai.

Rasanya tidak mampu menampun cinta Tuhan dalam buku bahkan folder bergiga-giga. Karena cinta-Nya tidak berbatas apapun. Dan aku “manusia” hanya diperintah berbuat baik kepada sesama, saling mengenal dan tidak memecah belah. Kemudian belajar bersyukur atas nikmat-Nya. Sholat dan segala ibadah akan kembali kepada manusia itu sendiri. begitulah cinta-Nya. Tidak pernah meminta namun tidak pernah berhenti untuk memberi.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita dalam meniti kehidupan ini.

Baca juga: Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 1-5)

Sumber:
Candra Malik, Menyambut Kematian Memaknai Hidup Menuju Akhirat, Naura Book, 2014.
Imam Ghazali, Kimia Kebahagiaan, Penerbit Bulan Bintang.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Dahri

Ahmad Dahri atau Lek Dah adalah santri di Pesantren Luhur Bait al hikmah kepanjen, juga nyantri di Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. Buku terbarunya adalah “Hitamkah Putih Itu?”

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals