Membangun Karakter Bangsa Dimulai Dari Memilih Pasangan

Pasangan yang baik, jelas akan menurunkan sifat-sifat yang baik ke anaknya kelak, begitupun sifat buruk.


Melihat beberapa indikasi degradasi moral yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, rasanya sangat memprihatinkan apabila hal ini terus terjadi, dan sangat menjenuhkan jika masalah ini tidak berhenti.

Seperti halnya masalah bullying yang viral beberapa bulan lalu menimpa salah satu siswa SMP di Pontianak. Selain itu hoaks (berita bohong) yang terjadi belum lama ini, yang menyebutkan Habib Bahar bin Smith yang sedang menjalani masa tahanan di Lapas II A Cibinong (Lapas Pondok Rajeg) dianiaya hingga menderita luka lebam di wajah.

Padahal kenyataannya, Habib Bahar melalui klarifikasi resmi dari Kemenkumham, mengaku dalam keadaan baik-baik saja serta menjalankan aktivitasnya seperti biasa dengan normal. Bahkan video klarifikasi Habib Bahar tersebut disebar ke publik untuk menepis berita bohong terkait dirinya.

Dari contoh di atas, jika tidak cepat diklarifikasi, maka bisa saja memicu perpecahan dan huru-hara. Apalagi Habib Bahar sebagai salah seorang tokoh agama yang mempunyai cukup banyak murid dan pengikut bisa saja tidak terima lalu turun ke jalan untuk berontak, karena termakan hoaks. Bayangkan, sebab secuil perbuatan tak bertanggung jawab dapat menimbulkan resiko yang sangat besar. Nila setitik rusak susu sebelanga.

Selain masalah-masalah di atas, masih banyak lagi persoalan degradasi moral, seperti kasus begal dan pornografi yang melibatkan anak-anak di bawah umur. Seabrek persoalan moral yang mendera bangsa ini akhirnya membuat kita mempertanyakan eksistensi nilai-nilai Pancasila, yang sepertinya belum mengakar dalam kehidupan berbangsa. Seharusnya, nilai-nilai tersebut tumbuh sebagai karakter utama dalam diri setiap masyarakat.

Beberapa masalah konkret di atas mencerminkan bobroknya karakter masyarakat Indonesia. Hal ini kemudian menjadi faktor penghambat dalam mewujudkan kemajuan, persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu, hal yang perlu mendapat perhatian bersama di antaranya adalah perihal character building.

Jika dikaitkan dengan landasan pendidikan di negeri ini, pemerintah sebenarnya sudah banyak melakukan usaha-usaha terkait pembangunan karakter (character building), baik yang langsung maupun tidak langsung. Salah satunya terangkum pada Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 3 yang berbunyi: “Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Ditambah lagi Perpres No. 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan nilai-nilai yang diharapkan terwujud, seperti: religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Dalam penyelenggaraannya, PPK terdiri atas penguatan melalui pendidikan formal (sekolah), nonformal (masyarakat), dan informal (keluarga). Paradigma kebijakan ini dirasa relevan, minimal untuk memberi pengertian bahwa masalah pembentukan karakter seorang anak bangsa tidak hanya dilakukan oleh negara, tetapi juga andil dari masyarakat dan keluarga sebagai lingkup terkecil.

Karakter sebenarnya dapat dibentuk bukan hanya ketika seseorang lahir ke dunia, tumbuh berkembang, hingga masa sekolah, tetapi bahkan dapat dibentuk saat seseorang mulai menentukan pasangannya untuk kemudian menikah dan bereproduksi sehingga melahirkan seorang anak. Pasangan yang baik, jelas akan menurunkan sifat-sifat yang baik ke anaknya kelak, begitupun sifat buruk.

Adapun kriteria dalam memilih pasangan menurut Islam, seperti dalam hadis Nabi Muhammad: “Wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka menangkanlah kecenderunganmu itu, pada wanita yang beragama, engkau akan bahagia.” (HR.Bukhari).

Berdasarkan hadis di atas faktor agama sangatlah penting dan diutamakan dalam memilih pasangan, karena akan berdampak pada kualitas akhlak dan kebahagiaan dalam keluarga. Sehingga berkaitan juga dalam tata cara mendidik dan membentuk karakter si anak.

Dengan demikian, mulailah menata diri dengan menyemai kebaikan dan akhlak mulia. Kelak akan dipertemukan dengan pasangan yang baik pula. Dan ini merupakan modal untuk menciptakan generasi yang berkarakter lagi santun. Allah berfirman dalam Q.S. An-Nur: 26, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…”.

Jadi, pasangan yang baik adalah cikal bakal generasi yang baik pula.

wallahualam bi al-sawab.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
2
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Ridho Agung Juwantara
Ridho Agung Juwantara merupakan mahasiswa aktif program Magister UIN Sunan Kalijaga yang memiliki aktivitas sampingan sebagai anggota divisi pengembangan riset dan kajian ilmiah (forum komunikasi mahasiswa program magister FITK)

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals