Tak Beralasan

Namun berbalut gigih, daku berusaha mematut diri digelagak binar-binar penuh nafsu dan tipu daya


Tak Beralasan

Terkadang sepi lebih setia menawan
Pun hening menjadi pelipur lara dalam kesendirian
Merangkulku tanpa sekat pamrih keadaan
Yang meliput kujur awak hanya wujud permisif keibuan
Penuh bahasa kebapakan
Namun bukan itu yang kuinginkan
Bukan pula yang kusebut kebahagiaan

Wajar mungkin bila sampai hati kumenaruh cemburu karena dibedakan
Susah payah daku bersendu sedan
Memupus satu-persatu dari sejuta harapan

Ingin rasanya, daku hidup penuh kemerdekaan
Menumpahkan gelak tawa yang melulu terpatri dalam kesunyian
Berlari kencang tanpa batas khawatir yang keterlaluan
Mencurahkan pelita suka-duka nan kian membuncah di ujung ubun

Tapi siapakah gerangan yang hendak sudi menggandeng tangan?
merekatkan tali persaudaraan
Mencicipi dekapan hangat arti persahabatan

Bukankah Tuhan menciptakan kita dari unsur yang sama?
Nabi Adam dan Siti Hawa nasabiyah keturunan bermula,
meski nyatanya kau dan aku terlahir dari rahim yang sama sekali tak bersua
Namun setiap tetes peluh keringat orangtua itu yang kemudian mendewasakan kita

Lantas mengapa masih saja di benakmu daku bukan seorang manusia?
Seakan segumpal daging yang tak bernyawa
Bahkan matamu kerap memicing tajam penuh curiga
Di kala menatapku nun jauh di sana
Bukankah kita melihat, karena hakikat bashar-Nya?

Entah kenapa engkau lihai mengernyitkan dahi penuh menghina
Menggrayangi hadirku lekat jumawa
Bukankah kita mendengar sebab memunca sifat sami’-Nya?

Bagaimana mungkin engkau begitu latah mencemoohku?
Sementara lidah tak bertulang menakar bahasa beralaskan sifat kalam-Nya
Mengapa manusia dibuat kepayang dengan standaritas kenormalannya?

Sibuk melumat habis kata sempurna yang diidamnya
Hingga satru menjadi tabir jenaka di antara umat manusia

Padahal, kau tahu-menahu betul tentang Lii ta’arafu muasal manusia dicipta
Tercipta tuk memuja Ya Ahad Yang Maha Sempurna
Sementara firman-Nya menegaskan taqwa yang menjadi pembeda di antara hamba-Nya

Pun daku yang kerdil ini lebur dalam perputaran ruang dan waktu
Meski cibir dan asumsi malang turut kalap menerjemahkan alur hidupku
Namun berbalut gigih, daku berusaha mematut diri digelagak binar-binar penuh nafsu dan tipu daya
Dan bersimpuh di altar kasih sayang Tuhan yang selalu kurindui untuk anugerah cinta-Nya

Tulungagung, 30 Agustus 2019

Aporisma Kehidupan

Entah semenjak kapan,
Detik berapa, menit ke sekian
Rasanya ingin kupinjam lentera yang pernah ditenteng Neitzcshe dalam kegamangan

Sembari menyambung lidah aporisma kegilaannya di laut kecarut-marutan zaman
Antara beradab dan kebiadaban
Mengerti norma namun urak-urakan
Metamorfosa hidup dijadikan lahan kejahilan nafsu layaknya hewan
Tanpa menggubris wasiat terbesar bernafas prikemanusiaan

Berpendidikan luhur sekaligus melanggengkan kehendak ketidaktahuan
Paham ilmunya namun tak pernah dipraktekkan
Setiap pelajaran dipandangnya sebatas pernak-pernik hidup tak beralasan

Semuanya tak lebih sebongkah ritme gundah yang melulu menyoal menara gading, stagnan
Baginya, yang pasti menjadi sempurna dalam penjara ide yang tak sempat terpikirkan

Perundang-undangan hukum pun menjadi bahan banyolan
Sarapan paginya cukup menuai kenyang dengan cibiran
Menabur bual tanpa solusi yang menjanjikan

Padahal sekadar menata alur hidupnya saja tak becus
Kok malah membusung dada berlagak seperti politikus

Giat bersorban tapi hobi barunya menyalahkan
Takfirisme akut dalam genggam telunjuk tangan
Langkah kakinya sangat getol melicinkan lantai masjid di pinggir jalan

Tapi banyak tetangga samping rumahnya yang tak pernah berkenalan
Sekadar menegur sapa bahkan atau berbagi hidangan

Setiap hari, dasi dan jas mewahnya melekat gagah dibanggakan
Segelintir tunggangan berkelas miliknya hilir-mudik dipamerkan

Menyantap produk teknologi terbaru kian gencar dilakukan
Sementara kerabat terdekatnya harus setiap hari menahan sakit akibat kelaparan
Tubuhnya kering-kerontang bak lajur sebuah papan

Bagimana mungkin semua menjadi paras tak lekang dalam kesemuan
Saling berbenturan mengonstruk ketidakjelasan
Padahal, arah rencana awalnya bermuara pada kebaikan
Nyatanya hanya menambah sekat-sekat kegetiran hidup tak bertuan

Siapa yang pantas dipersalahkan?
Apa harus meminta tanggungjawab Tuhan sang Maha Menciptakan?
Atau malah menjadi manusia adalah kutukan?
Sementara takdir sedang menakar senyum menertawakan

Pun malaikat dengan penuh sanksi merajut kata mempertanyakan
“Apakah ini khalifah yang diberi amanah oleh Tuhan?”
“Sepolos dan seteledor inikah pemimpin yang dijanjikan?”

Tulungagung, 11 April 2019

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Roni Ramlan

Roni Ramlan, S. Ag. adalah mahasiswa aktif Pascasarjana IAIN Tulungagung. Aktif di organisasi Lentera (Lintas Edukasi Kajian Rumah Tangga).

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Puisi

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals