Fenomena Air dalam Alquran

Aktivitas manusia tak dapat dipisahkan dari keberadaan air. Pusat-pusat peradaban manusia di masa lalu disangga oleh sumber air.


Air adalah kehidupan. Air merupakan kebutuhan vital makhluk hidup di muka bumi. Tanpa air kita binasa. Pentingnya air seringkali tak kita sadari, karena air mudah didapat di banyak tempat dan tersedia melimpah. Kebutuhan akan air baru terasa ketika sumur kita kering. Allah swt menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu Dia jadikan air itu menetap di bumi dan Dia kuasa untuk melenyapkannya (QS 23:18).

Aktivitas manusia tak dapat dipisahkan dari keberadaan air. Pusat-pusat peradaban manusia di masa lalu disangga oleh sumber air. Mesopotamia berkembang di kawasan antara sungai Efrat dan Tigris. Mesir kuno hingga kini bergantung pada sungai Nil. Kota-kota dunia di zaman modern, seperti Rotterdam, London, Paris, Shanghai dan Tokyo berdekatan dengan sungai sebagai sumber pemenuhan kebutuhan dan sarana transportasi.

Alquran melukiskan air sebagai berikut:

Sungguh, dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di lautan membawa muatan yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati; dan Dia tebarkan di bumi segala jenis hewan, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh itu semua merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang mengerti. (QS 2:164).

Allah swt menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia jadikan bertumpuk-tumpuk, lantas hujan keluar dari celah-celahnya (QS 24:43). Allah mengirimkan angin lalu menggerakkan awan dan membentangkannya di langit dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu menurunkan hujan itu pada hamba-hamba-Nya. (QS 30:48).

Allah swt meniupkan angin pembawa kabar gembira mendahului datangnnya rahmat. Angin itu membawa awan mendung ke suatu daerah yang tandus, lalu turun hujan di daerah itu, kemudian tumbuh berbagai buah-buahan. Seperti itulah Dia membangkitkan orang yang telah mati (QS 7:57).

Allah swt menjadikan kita dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu dari segumpal darah, lantas dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tak sempurna. Allah swt tetapkan dalam rahim sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Dia keluarkan engkau sebagai bayi, lalu dengan berangsur-angsur sampai kepada usia dewasa. Engkau lihat bumi ini kering, kemudian Allah swt menurunkan air hujan di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur serta menumbuhkan berbagai macam tumbuhan indah (QS 22:5).

Allah swt menciptakan segala binatang dari air dan menghidupkan segalanya dengan air. Sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perut dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedangkan sebagian yang lain berjalan dengan empat kaki. (QS 24:45, 21:30).

Allah swt menciptakan Adam as dari tanah, kemudian menciptakan anak keturunannya dari saripati air yang hina; air mani, lalu Dia sempurnakan dan tiupkan ruh ciptaan-Nya ke dalam tubuhnya, dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagi manusia agar ia bersyukur. (QS 32:7-9).

Hendaklah setiap manusia memperhatikan bahwa ia diciptakan dari air mani yang terpancar, yang keluar dari antara tulang punggung laki-laki dan tulang dada perempuan (QS 86:5-7). Allahlah yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan ia berkeluarga dan berketurunan yang berasal dari hubungan pernikahan. (QS 25:54).

Allah swt menurunkan air hujan dari langit, lalu menumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan. Dia keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau dan mengeluarkan butir yang banyak. Dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, zaitun, dan delima. (QS 6:99).

Pada masa Nabi Nuh as air turun dari langit dan memancar dari tanah menjadi bah yang menenggelamkan segala. Diwahyukan kepada Nuh, bahwa tak akan beriman di antara kaumnya, kecuali sedikit. Nuh membuat kapal dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Allah. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Nuh berkata, “Jika kamu mengejek kami, kelak kamu tahu siapa yang akan ditimpa azab.” (QS 11:36-38).

Ketika perintah Allah datang dan dapur air memancarkan air, Dia berfirman, “Muatkanlah ke dalam kapal itu binatang masing-masing sepasang dan juga keluargamu dan orang-orang yang beriman.” Nuh berkata, “Naiklah ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan di waktu berlabuh. Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS 11:39-41).

Kapal pun berlayar dalam gelombang laksana gunung. Nuh memanggil anaknya di tempat terpencil, “Hai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah bergabung bersama orang-orang yang ingkar.” Anaknya menjawab, “Aku akan berlindung ke gunung yang menjagaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Dia.” Gelombang menjadi penghalang antara bapak dan anak. Maka anak itu pun termasuk orang-orang yang tenggelam. (QS 11:42-43).

Allah pun berfirman, “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit hentikan hujanmu.” Air pun surut. Perintah selesai. Kapal itu pun berlabuh di atas bukit Judi. “Binasalah orang-orang yang zalim.” Nuh berseru, “Ya Tuhanku, sungguh, anakku adalah keluargaku, dan sungguh, janji-Mu itu benar. Engkau hakim yang seadil-adilnya.” (QS 11:44-45).

Allah berfirman, “Hai Nuh, dia bukan termasuk keluargamu yang dijanjikan akan selamat. Perbuatannya tidak baik. Janganlah termasuk orang bodoh.” Nuh berkata, “Tuhanku,aku berlindung kepada Engkau dari memohon apa yang aku tidak tahu. Jika Engkau tidak menaruh belas kasih kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang merugi.” Allah berfirman, “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat beriman yang bersamamu.” (QS 11:46-48).

Pada masa Nabi Musa as laut Merah terbelah menyelamatkan dia dan menenggelamkan Fir’aun. Ketika kedua golongan saling melihat, pengikut Musa berkata, “Sungguh, kita benar-benar akan tersusul.” Musa menjawab, “Sekali-kali kita tak akan tersusul; sungguh, Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Allah wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka laut itu pun terbelah (QS 26:61-66).

Allah menyelamatkan Bani Israil melintasi laut. Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk menganiaya. Ketika Fir`aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Allah selamatkan jasad Fir’aun agar menjadi pelajaran bagi orang yang datang sesudahnya. (QS 10:90-92).

Kehidupan dunia ibarat air hujan yang diturunkan dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah dan arus itu membawa buih mengambang. Dari logam yang dilebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya seperti buih arus itu. Itulah perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Buih akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada gunanya tetapi yang bermanfaat akan tetap ada di bumi. (QS 13:17).

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
5
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
10
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
6
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals