Penyebar Hoax dan Hate Speech, Karakter Fasik Modern

"..dengan kemajuan teknologi komunikasi juga banyak orang yang belum dewasa menggunakan media sosialnya.."


Di dalam surat Al-Hujurat ayat 6, Allah swt menyatakan, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang yang fasik membawa suatu kabar (berita penting), maka klarifikasilah dengan teliti (berita itu dengan berbagai cara), agar kamu tidak menimpakan musibah (bencana, fitnah dan perpecahan) pada suatu kaum tanpa pengetahuan (fakta) yang menyebabkan kamu menjadi orang-orang yang menyesal (setelah kabar itu terungkap kebenarannya)”.

Rasulullah saw pun menegaskan, bahwa orang yang berbicara tetapi berdusta itu jelas-jelas termasuk orang yang munafik (idza haddatsa kadzaba). Dalam riwayat lain disebutkan, “Cukuplah seseorang itu disebut pendusta (pembohong), jika dia selalu menyampaikan seluruh hal yang ia dengar”. Atau paling minimalnya sebutan bagi orang yang menyebar informasi tanpa klarifikasi adalah orang yang sembrono.

Jika di zaman Rasulullah saw untuk menyampaikan atau menyebar berita itu membutuhkan waktu, keluar rumah terlebih dahulu supaya bertemu orang, barulah berita itu bisa disampaikan. Pun, berita itu lama menyebar karena harus disampaikan dari lisan ke lisan. Sedangkan di zaman ini, untuk menyebarkan berita cukuplah dari dalam kamar, mengetik beberapa kata di media sosial, sekejap berita itu dilihat ribuan orang.

Bukan hanya hoax, tetapi dengan kemajuan teknologi komunikasi juga banyak orang yang belum dewasa menggunakan media sosialnya. Mereka dengan mudahnya menyebar kata-kata yang bersifat hinaan, olok-olok, tak pandang umur, tak peduli apakah yang diolok-olok itu orang yang lebih tua atau yang lebih berilmu, menyebar provokasi dan ungkapan-ungkapan kebencian yang dalam istilah kontemporer disebut hate speech. Rasulullah saw menegaskan “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berbicaralah yang baik atau diam” (HR. Al-Bukhari).

Loading...

Bahkan, terkait saling mengolok-olok ini, Allah swt telah menyatakan, “Wahai orang-orang yang (mengaku) beriman, janganlah satu kaum menghina kaum lain, seakan-akan kaum yang menghina itu lebih baik dari pada yang dihina (padahal boleh jadi yang dihina itu lebih baik daripada yang menghina)… dan siapa yang tidak bertaubat maka mereka adalah orang (mukmin) yang dzalim”. (QS. Al-Hujurat : 11).

Menyebarnya hoax dan hate speech di tengah negeri mayoritas mutlak muslim adalah tanda bahwa karakter Islam nan elegan, cerdas, teliti dan tauladan Rasulullah saw yang jauh dari sifat sumpah serapah belum melekat betul di hati pemeluknya. “Dan ‘ibadurrahman (hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang) itu apabila berjalan di atas muka bumi ini dengan rendah hati, dan jika orang-orang jahil menyapa mereka (dengan hinaan cacian), hamba tersebut hanya membalas dengan kata-kata yang salam (baik, aman, selamat). (QS  Al-Furqan : 63).

Bagaimanapun keruhnya media sosial, sebagai mukmin muslim yang seharusnya memiliki karakter yang memberi keamanan, keselamatan, kebaikan, kesantunan hendaknya tidak terlibat atau berkontribusi menyebar hoax dan hate speech. Biarkanlah orang-orang jahil yang melakukan itu dengan kejahilannya. Dan mari kita warnai dunia maya dengan kalimat-kalimat yang baik.

Loading...

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
2
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Mukhrij Sidqy

Mukhrij Sidqy, MA. adalah kandidat doktor di bidang Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dosen di STIQ Baitul Qur'an, Kelapa Dua, Depok. Ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Da'i Muda Indonesia Depok, Wakil Pengasuh PP. Al-Wutsqo Depok, dan Pembina Tahfidz LPTQ Al-Muhajirin BPI Depok.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals