Riau Berasap: Siapa Biangnya?

Karhutla benar-benar telah melindas habis keasrian lingkungan. Lantas, alam seperti apa yang hendak kita wariskan bagi anak cucu? Entahlah


Riau negeri beradat, juga negeri beragama, katanya. Tokoh budaya, tokoh agama, berlimpah ruah di sini. Namun, di sini pula sarang peredaran narkoba dan bank asap (karhutla) terfavorit.

Karhutla benar-benar telah melindas habis keasrian lingkungan. Lantas, alam seperti apa yang hendak kita wariskan bagi anak cucu? Entahlah.

Pemangku kebijakan sepertinya setengah serius membenah hal ini. Dengan didaulat Karhutla Riau sebagai bencana nasional, pejabat daerah sepertinya mulai angkat kaki, dan menyerahkan segala persoalan ke pusat. Imbasnya, dana antisipasi bencana pun tidak dianggarkan. Setakat ini, sudah pahamkan seperti apa kualitas pejabat kita? Miskin empati, cacat ekologis.

Jika demikian, masihkah masyarakat berdiam, acuh tak acuh? Rasanya, tidak salah kita berharap pada organ-organ yang memiliki otoritas dan mimbar, seperti agamawan dan pemangku adat. Saatnya melantangkan narasi kesadaran lingkungan ke masyarakat, yang selama ini selalu dijejali dengan topik halal-haram, patut-tak patut, syar’i-nonsyar’i.

Entah kenapa, saya pribadi merindukan sosok ulama yang sigap terjun ke akar rumput, memprovokasi rakyat untuk bergerak melawan gurita koorporasi, ketidakadilan, korupsi, dan terutama menuntaskan kasus asap.

Rakyat bisa melakukan aksi berjilid-jilid membela ulama, lantas kenapa ulama canggung membela rakyat? Mestinya, ulama adalah korlap bagi derita rakyat, bukan malah minta dibela.

Baca juga: Hikayat Kabut Asap

Di saat asap sedang eksis-eksisnya, lihat apa yang dilakukan aparat kita: bagi-bagi masker. Mirisnya, dianggap pula drama bagi-bagi masker itu sebagai bentuk empati. Eh, tong, urusan infak masker biar jadi urusan anak kampus semester satu. Tanggung jawab Anda: sikat para cukong sawit, libas mafia akasia; orbitkan peringatan kepada penjahat lingkungan, setegas-tegasnya. Tapi, ah sudahlah, rasanya itu tak mungkin, utopis belaka.

Berharap ke penguasa rasanya adalah hal memuakkan. Lebih kurang 2 dekade didera asap, kenapa kita tidak juga belajar-belajar? Mudah saja kita anggap hal ini sebagai bencana, tersebab maksiat, kebanalan manusia, dst. Bukankah saat kita enggan belajar dan abai pada pengentasan karhutla juga bentuk dari bencana?

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
7
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
3
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals