Covid-19 dan Ragam Ekspresi Awal Masyarakat Indonesia

Merebaknya Covid-19 di Indonesia menjadi sebuah fenomena dengan banyak respon dan tanggapan yang cukup beragam, dari hal yang positif hingga negatif.


gambar: kompas.com

Virus Corona atau severe acute respiratory syndromecoronavirus 2 (SARS-CoV-2) merupakan jenis virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut Covid-19, yang dapat mengakibatkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Covid-19 pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019 yang kemudian menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain hingga ke beberapa negara, termasuk Indonesia. Beberapa sumber lain mengatakan virus dengan jenis MERS ini ditemukan pada pertengahan Juni 2012 oleh dr. Ali Mohamed Zaki, seorang virologis di Dr. Soliman Fakeeh Hospital Jeddah, Arab Saudi.

Covid-19 yang merebak di Indonesia mendapat banyak respon baik dari masyarakat maupun pemerintah. Menyusul eskpresi mereka yang tergambar pada media terkait dengan virus ini. Postingan, berita dan tulisan artikel dalam hal edukasi kesehatan, agama, sosial, politik bahkan, komedi pun mewarnai media (termasuk tulisan ini).

Baca juga: Covid-19, Prof. Iwan, dan Para Ulama Korban Wabah Penyakit

Di satu sisi beberapa golongan masyarakat ada yang tidak percaya adanya wabah Covid-19 ini, terutama ketika virus ini belum memakan korban, dikarenakan menurut mereka ini hanyalah semacam konspirasi yang dibuat untuk menutupi beberapa kasus lain yang ada di negara Indonesia. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, ada yang menganggap kemunculan virus ini disengaja untuk misi untuk menekan ledakan penduduk yang ada di dunia, terutama di daerah seperti China yang merupakan jumlah penduduk tertinggi saat ini.

Pada sisi lain, banyak juga masyarakat yang ingin pihak pemerintah memberlakukan aturan yang ketat terkait Covid-19 baik dalam bentuk pemeriksaan massal kepada seluruh masyarakat bahkan lockdown untuk wilayah Indonesia.

Dalam hal antisipasi, banyak masyarakat yang dinilai berlebihan hingga dapat menyusahkan orang lain, semisal dalam hal membeli masker ataupun hand sanitizer yang ada di toko maupun klinik dengan jumlah yang sangat banyak per-orangnya. Perilaku ini setidaknya menimbulkan virus baru dari segi perilaku masyarakat yang hanya memikirkan diri sendiri tanpa memedulikan orang banyak.

Baca juga: Corona yang ditakuti: Disfungsi Sosial dan Egosentrisme Kesalehan

Upaya social distancing yang merupakan salah satu cara untuk menghindari menyebarkan Covid-19 dinilai kurang etis juga oleh banyak kalangan masyarakat, terutama dalam hal ibadah. Padahal ini telah dijelaskan baik dari segi medis maupun agama bahwa social distancing sendiri merupakan langkah yang paling baik.

Social distancing -yang merupakan upaya mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah dan interaksi dengan orang lain, mengurangi kontak tatap muka langsung, begitupun menghindari pergi ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi, seperti mall, supermarket, bioskop, tempat ibadah dan stadion- dijelaskan dalam ranah agama, dalam konteks silaturrahim yang tadinya dalam keadaan normal menjadi hal yang wajib bahkan diampuni dosa, namun tidak wajib atau dikategorikan haram jika adanya wabah virus seperti ini. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi yang sebelumnya diulas oleh Muhammad Alfatih Suryadilaga.

Penjelasan ini juga diperkuat lewat edaran yang dikeluarkan oleh pihak MUI untuk orang yang telah terpapar virus Corona wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya salat Jumat dapat diganti dengan salat Dhuhur, karena salat Jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal. Baginya juga haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti Jamaah salat lima waktu/rawatib, salat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar.

Dengan adanya virus Covid-19, menjaga diri agar tidak mengadakan kontak langsung walaupun ikut dalam keramaian yang menjadi sumber virus adalah kewajiban. Saudi Arabia bahkan sampai menghentikan umrah dan menyemprotkan desinfektan di bagian Ka’bah untuk sterilisasi. Selain itu, di Malaysia meniadakan Salat Jum’at di Masjid dengan menggantinya dengan salat Dhuhur di rumah masing-masing. Bahkan di Dubai, Muadzin menambahkan shallu ala Buyutikum (salatlah di rumah kalian) pada adzannya. Hal tersebut menjadi petanda untuk kebaikan umat manusia di belahan bumi agar selamat dari musibah yang sedang terjadi ini.

Baca juga: Ijtihad Kolektif di Akar Rumput yang Mendebarkan

Terlepas dari itu semua, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak teredukasi baik dengan adanya Covid-19 ini dan malah tetap santai melakukan kegiatan berkumpul di luar rumah walaupun sudah ada saran dari Presiden Jokowi sendiri untuk melakukan kerja, belajar dan ibadah dari rumah. Kebijakan ini juga mendapat respon yang keliru oleh masyarakat yang pada kenyataannya digunakan sebagai waktu untuk berlibur, bukan waktu untuk melakukan social distancing, baik anak-anak, mahasiswa maupun orang dewasa

Padahal kita dapat menjadikan pelajaran fenomena atau pemberlakuan aturan serta ketaatan pada aturan itu sendiri oleh masyarakat yang dilakukan beberapa negara yang sudah menyebar virus tersebut, seperti di Wuhan, China yang tidak memperbolehkan warganya keluar rumah selama beberapa minggu sampai tidak merayakan tahun baru Imlek. Sebaliknya, Italia yang pada awalanya menganggap virus tersebut biasa saja kemudian masih tetap melakukan aktivitas seperti biasa, pada akhirnya menyesal atas keteledoran dari sikap ketikdakwspadaan mereka. Pada akhirnya mereka pun menjadi salah satu di antara beberapa negara yang masyarakatnya banyak terinveksi Covid-19 bahkan banyak dari mereka yang meninggal dunia. Akhirnya sekarang, mereka juga melakukan lockdown. Masih banyak contoh di negara lain yang kita ketahui melakukan pembatasan gerak masyarakatnya.

Ketidakpercayaan masyarakat ataupun kurangnya kepedulian masyarakat mungkin saja disebabkan karena beredarnya informasi yang memuat unsur-unsur hoaks, yang kemudian tidak diterima baik oleh masyarakat. Beberapa media cetak maupun media sosial yang memberitakan tentang virus ini, ternyata isinya tidak semua sama, dan menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat. Terlebih lagi, ada beberapa postingan di media sosial yang beredar kebanyakan memuat unsur-unsur lucu atau dijadikan bahan candaan. Ada pula tindakan yang dianggap kurang etis, yakni mengungkapkan judgement atau sentimen berdasar agama (baca: azab) pada orang atau wilayah yang terkena wabah ini hanya karena mereka berada di daerah yang mayoritas non-muslim atau daerah yang terkenal dengan hal-hal yang kurang baik.

Baca juga: Wabah Corona dan Imaji Religiositas yang Timpang

Seharusnya, yang menjadi kekhawatian kita adalah jika sampai terjadi jumlah kasus yang makin banyak dan kita di Indonesia tidak mampu menanganinya berkaca dari yang terjadi di Italia. Sehingga timbul kesadaran dari dalam diri kita semua agar selalu menaati aturan dan himbauan yang telah dilakukan demi membantu pemerintah juga tenaga medis atau dokter yang telah dan masih bekerja di rumah sakit untuk menangani virus ini agar secepatnya mereda. Sikap untuk selalu mengingatkan agar tidak menjadi media penularan dan juga tetap menjaga kebersihan dan kesehatan supaya tidak mudah terinfeksi virus ini adalah sikap yang seharusnya dilakukan oleh setiap pribadi kita.

Upaya melakukan pembatasan ruang gerak manusia pada saat wabah Covid-19 ini memang bertujuan baik untuk mencegah penularan. Mengapa sekolah diliburkan, karena walaupun kasus ini hampir tidak pernah terjadi pada anak-anak. Namun anak-anak merupakan media paling potensial untuk menularkan dan menjadi media virus ini. Di sisi lain, tidak semua dari kita bisa bekerja dari rumah. Masyarakat yang harus bekerja di luar rumah sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tidak mungkin bisa diminta seperti itu. Itulah juga mengapa Presiden Jokowi tidak meniatkan melakukan lockdown karena kita tahu bersama kalau hal ini sangat sulit dilakukan di Indonesia.

Saat ini, yang bisa kita lakukan adalah membantu usaha untuk mengurangi penyebaran virus ini lebih luas lagi dan mencegah sesedikit mungkin orang yang bisa terinfeksi bahkan sakit sampai meninggal. Kalau kita merasa cukup sehat maka pikirkanlah orang tua kita dan orang lain yang rentan yang bisa mengalami sakit akibat infeksi virus ini.

Semoga kita mau bergotong royong dalam mencegah penyebaran virus ini. Pemerintah pun perlu untuk memperhatikan secara intens kebutuhan dan kesehatan dari tenaga medis yang bekerja untuk menangani pasien terpapar Covid-19, tenaga medis masih banyak yang mengalami kekurangan dari segi alat, kebutuhan dan kekebalan tubuh mereka secara pribadi, terlebih lagi mereka telah mengorbankan waktu mereka dengan keluarga serta anak-anak mereka untuk memfokuskan diri menangani pasien virus ini.

Baca juga: Covid-19 dan Tantangan Masyarakat Muslim Indonesia

Sering mencuci tangan dengan sabun, menghindari kumpul-kumpul dan kerumunan orang serta menjaga jarak dengan orang lain saat di tempat umum adalah tindakan yang arif pada saat ini. Selain itu, di tempat yang ramai seperti mall, bioskop, tempat makan, dan lain-lain juga diharuskan untuk mengadakan alat untuk mengecek suhu tubuh dan hand sanitizer agar menjaga kebersihan juga keselamatan masyarakat atau pengunjung. Mari kita berkerjasama untuk menanggulangi merebaknya virus ini dengan langkah-langkah pencegahan kecil hingga besar yang dapat kita lakukan. Kesehatan dan keselamatan adalah hal yang utama.

Pada akhirnya tidak perlu untuk saling menghujat ketika datang musibah seperti ini. Namun, mari saling menjaga dan merawat diri masing-masing agar terhindar dari musibah yang sedang melanda ini juga musibah-musibah lainnya. Bagi umat Islam, dianjurkan untuk agar semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca Qunut Nazilah di setiap salat fardhu, memperbanyak salawat, sedekah, serta senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya ( daf’u al-bala’), khususnya dari wabah Covid-19 sebagaimana telah dilakukan dan dihimbau oleh banyak tokoh agama. []

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals