Perempuan Pelakor dan Laki-laki Suci Tanpa Dosa

laki-laki diletakkan sebagai obyek yang diam, hanya seonggok jasad bernyawa yang bisa direbut jika tidak dijaga baik-baik.


Sumber gambar: kompas.com

Term “Pelakor” santer terdengar akhir-akhir ini. Hal ini disebabkan munculnya berita secara besar-besaran mengenai perselingkuhan seorang public figure. Tidak menjadi sebuah rahasia umum lagi, bahwa public figure yang dimaksud adalah seorang musisi perempuan yang karyanya identik dengan lagu dan musik religi.

Genre musik ini akhirnya membentuk imej bahwa perempuan ini sebagai salah satu public figure yang salehah (sesuai dengan standar kesalehan yang ditetapkan oleh masyarakat).

Imej ini kemudian disayangkan oleh banyak orang karena ia melakukan perbuatan yang dianggap tidak terpuji. Media sosialnya ramai-ramai dihujat, tidak bisa dibayangkan bagaimana ia mengatasi hal itu, sehingga ia memilih diam dan tidak bersuara sedikit pun.

Isu perselingkuhan tersebut pertama kali terkuak dari unggahan seorang user aplikasi video yang sedang booming saat ini. Framing yang digunakan adalah seorang perempuan yang tidak tahan lagi diselingkuhi oleh suaminya sehingga memutuskan untuk menggugat cerai suaminya tersebut. Disebutkanlah nama dari perempuan yang menjadi selingkuhan si suami.

Netizen-pun menyerbu dengan berbagai komentar pedas: “dasar pelakor!”. Apapun komentarnya, kata ini tidak pernah ketinggalan. Penasaran dengan arti pelakor, setelah dicari di media-media sembarang, pelakor merupakan singkatan dari “perebut laki orang”.

Baca juga: Dunia Kata: Wajah Baru Kebebasan Perempuan

Term ini akrab disematkan ketika terdapat perempuan yang dinilai sebagai pihak yang telah mengganggu dan merebut kebahagiaan dari dua insan yang sedang menjalin hubungan kasih baik berpacaran ataupun dalam pernikahan.

Penulis telah mencari-cari bagaimana term tersebut muncul. Menurut penulis, definisi ini bias kepada perempuan yang disebut-sebut sebagai “perebut”. Walhasil, laki-laki diletakkan sebagai obyek yang diam, hanya seonggok jasad bernyawa yang bisa direbut jika tidak dijaga baik-baik.

Jadi, dunia ini diisi oleh para perempuan yang merebut hak orang lain, atau yang direbut hak milik (red:laki-laki)nya.

Alangkah baik jika sebelum membahas lebih lanjut kita menilik definisi selingkuh itu sendiri. Selingkuh dalam KBBI didefinisikan sebagai perbuatan yang bersifat menyembunyikan sesuatu, tidak berterus terang, tidak jujur, curang, serong dan suka menyeleweng.

Dari definisi ini dapat disimpulkan bahwa selingkuh adalah perbuatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, yang dilakukukan oleh salah satu pihak dalam suatu hubungan sehingga melanggar komitmen hubungan yang telah dibangun bersama pasangannya.

Bagaimana dengan laki-laki? Laki-laki tidak begitu adanya. Ia dianggap obyek diam, suci, tidak memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri. Publik digiring untuk menyalahkan perempuan, antara perempuan yang tidak becus melayani pasangannya, atau perempuan yang tega mengambil lelaki pasangan perempuan lain.Namun, ketika isu perselingkuhan itu menguak, masyarakat fokus kepada perempuan sebagai pihak yang disalahkan. Masyarakat menghakimi si perempuan sebagai pihak ketiga yang merupakan “pelakor”. Hal ini pun diamini oleh sesama perempuan juga, bahwa perempuan adalah penggoda dan perebut.

Sebenarnya cukup rumit apabila kita berusaha masuk memahami penyebab perselingkuhan terjadi. Hal ini karena suatu hubungan itu terjalin di antara dua manusia yang saling menautkan hati satu sama lain. Bagaimana kita sebagai orang lain melihat hal itu? Harusnya sih, jangan terlalu ikut campur. Toh kita gak tahu apa-apa.

Baca juga: Keluarga Pertiwi

Bukan berarti perselingkuhan menjadi perbuatan yang dibenarkan. Penulis tidak akan mengarah ke sana. Siapa pun pelakunya, baik laki-laki dan perempuan, bagaimana pun, apapun alasan dan penjelasannya, berselingkuh tidak dapat dibenarkan. Pengkhianatan, curang dan menyeleweng adalah perbuatan yang tidak terpuji; menyalahi idealitas hubungan.

Hal yang ingin diketengahkan di sini adalah kesalahan definisi, penggunaan terma yang membuat perempuan mengalami sub-ordinasi bahkan diskriminasi. Hal ini penting karena masih banyak sekali terjadi ketimpangan dalam melihat perempuan.

Dapat dilihat dalam beberapa fenomena hubungan percintaan, perempuan dianggap sebagai pihak yang melulu harus memerhatikan segala aspek laki-lakinya agar tidak diselingkuhi. Pun jika si laki-laki sudah berselingkuh, perempuan lain dinilai bisa melakukan yang lebih baik dibanding pasangannya.

Lantas, mengapa laki-laki seolah memiliki hak istimewa dibandingkan perempuan? Mengapa laki-laki seolah tak berdosa dan dianggap pasrah di antara “perebut” dan “yang merebutnya”? Padahal, laki-laki juga ikut andil, berperan penting sebagai pengambil keputusan dari tindakan-tindakannya.

Penulis mencoba berdiskusi dengan beberapa teman. Kira-kira mengapa laki-laki berselingkuh? Jawabannya cukup klasik. Laki-laki tidak cukup memiliki satu perempuan, laki-laki tidak puas dengan pasangannya sehingga mencari kenyamanan dari perempuan lain. Lebih klasik lagi: secara hormonal, laki-laki memiliki hasrat seksual lebih tinggi daripada perempuan.

Faktor hormonal kemudian dikaitkan sebagai kodrat. Kodrat laki-laki yakni tidak cukup bersama dengan satu perempuan saja sebagai pasangannya. Apakah benar demikian? Realitas lainnya menunjukkan bahwa banyak laki-laki yang dapat hidup dengan hanya satu perempuan dan banyak juga perempuan yang tidak cukup hidup dengan satu laki-laki.

Kodrat secara umum dipahami sebagai segala hal yang tidak dapat diubah. Maka, kodrat laki-laki di antaranya memiliki organ kelamin meliputi penis, testis, skrotum dan lainnya. Sedangkan perempuan memiliki organ kelamin vagina, rahim, dan payudara yang dapat menyusui. Adapun secara hormonal, hormon-hormon reproduksi sepanjang pengetahuan penulis, tidak ada perbedaan, yang berbeda hanya kadarnya antara perempuan dan laki-laki.

Baca juga: Saat Al-Quran Berbicara Kesetaraan

Di luar hal di atas tidak termasuk kodrat lagi, melainkan pilihan-pilihan yang ditentukan masing-masing. Misalnya perempuan memiliki pilihan untuk tidak mengandung dan melahirkan, atau memilih untuk menyusui dan tidak menyusui anaknya. Itu semua sudah termasuk hak otoritas tubuh sendiri, pilihan untuk memfungsikannya atau tidak.

Lantas, faktor hormonal dan kodrat tidak tepat untuk menjadi alasan laki-laki berselingkuh. Adanya pembelaan “wajar, kan cowok” tidak dapat diterima lagi sebagai pemakluman yang lumrah didengar.

Baik perempuan dan laki-laki memiliki peran aktif sebagai subyek pelaku. Hal ini karena keduanya manusia yang dianugerahi akal pikiran sehingga memiliki kekuasaan terhadap dirinya sendiri untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya.

Termasuk dalam hubungan perselingkuhan, laki-laki dan perempuan berperan andil untuk memulai hubungan tersebut. Akhirnya, manusia baik laki-laki dan perempuan harus ditempatkan dalam posisi dan kedudukan yang sama. Laki-laki bukanlah obyek mati yang menjadi bahan rebutan. Laki-laki adalah subyek hidup yang memiliki otoritas atas segala sikap dan perilakunya.

Begitu pula perempuan, stigma yang dilekatkan pada dirinya menimbulkan bias dan ketidakadilan. Akhirnya perempuan terus ditempatkan sebagai pihak yang menanggung segala konsekuensi dari perbuatan yang tidak diperkenankan itu.

Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa perempuan masih terus menjadi korban dari struktur masyarakat nan patriarkhi. Perempuan dalam berbagai masyarakat masih dipandang berkedudukan di bawah laki-laki.

Kesejajaran antara laki-laki dan perempuan yang seharusnya tidak dipertanyakan lagi sebagai hak sesama manusia masih terus diperdebatkan. Kedudukan perempuan yang berusaha “sejajar” dengan laki-laki dipandang berlawanan dengan kodratnya yang harus melayani laki-laki.

Padahal, tidak ada yang harus menjadi pelayan dan majikan. Sebagai sesama manusia dalam sebuah hubungan (red: pernikahan), hakikatnya adalah menjadi pasangan yang saling mengingatkan di jalan kebaikan satu sama lain (Q.S.Adz-Dzariyat: 49).

Namun, lagi-lagi perempuan masih banyak dilemahkan karena faktor biologis tubuhnya. Faktor biologis ini menjadi akar pembagian peran sehingga mengarah kepada anggapan bahwa perempuan “lebih lemah dari/ tidak dapat menyamai” laki-laki dalam segala aspek.

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals