Antara Filsafat dan Perasaan Perempuan

Banyak orang beranggapan filsafat itu rumit. Mereka luput, ada hal lain yang lebih rumit dari itu, yaitu memahami perasaan perempuan.


Filsafat dan filsuf
Ilustrasi: Patung Filsuf (canterbury.ac.uk)

Filsafat sering dinilai sebagai sesuatu yang wow, mewah dan melangit. Ada yang berpendapat filsafat adalah induk dari segala ilmu. Tidak sedikit pula yang beranggapan filsafat itu rumit, sulit dipahami, bisa membuat orang menjadi gila dan lain sebagainya.

Akhir-akhir ini, di salah satu grup whatsapp saya ramai dibicarakan perihal pernyataan dari salah satu golongan Islam yang menyatakan filsafat itu haram. “Tidak ada dalam filsafat kecuali kebodohan, pemutaran kata, kebingungan, dan sebuah pembahasan bertele-tele tanpa penyelesaian.”

Mungkin mereka, golongan Islam fundamental–saya kira,’ termasuk sebagian dari kelompok yang menganggap filsafat rumit, tidak ada guna mempelajarinya. Mereka luput, ada yang lebih rumit dibanding filsafat, salah satunya memahami perasaan seorang perempuan.

Baca juga: Dunia Kata: Wajah Baru Kebebasan Perempuan

Dalam salah satu argumen mereka mengatakan, “Bapak pertama dari filsafat adalah Aristoteles yang menganggap takdir itu tidak ada, Tuhan itu terlalu tinggi, Ia tidak memiliki sifat dan tidak tahu masalah yang kecil." Lalu di akhir paragraf bertuliskan “Semoga kita diselamatkan dari ilmu filsafat yang kufur."

Lantas apa benar bahwa filsafat itu haram, ilmu yang kufur? Jika iya, berarti banyak orang kufur di dunia ini. Karena banyak juga, orang yang mempelajari filsafat. Sangat banyak. Bahkan di beberapa perguruan tinggi juga ada prodi dan fakultas filsafat.

Dari tulisan yang mereka bagikan di media sosial itu, saya beranggapan mereka yang mengatakan filsafat hukumnya haram dipelajari mungkin tidak pernah mempelajarinya secara mendalam.

Mereka mengatakan bahwa Bapak filsafat pertama adalah Aristoteles. Sedangkan dalam sejarah filsafat, Bapak filsafat adalah Thales. Itu adalah salah satu bukti bahwa mereka kurang memahami filsafat.

Selain itu, mereka yang beranggapan bahwa filsafat haram tersebut juga tidak mampu membedakan antara filsafat sebagai sebuah metode dengan filsafat sebagai sebagai sebuah produk.

Filsafat sebagai metode adalah filsafat sebagai cara berpikir yang logis, kritis dan sistematis. Mereka tidak menyadari, bahwa menyimpulkan filsafat haram itu pun mereka sudah berfilsafat, Meskipun kesimpulan yang mereka buat itu sedikit kurang logis. Namun pada dasarnya berpikir adalah berfilsafat.

Sedangkan filsafat sebagai produk adalah hasil dari pemikiran para filsuf, seperti pemikiran Aristoteles di atas misalnya. Permasalahannya, mereka (baca: kelompok Islam tertentu) tidak mampu membedakan itu, sehingga menganggap seolah-olah filsafat sebagai produk dari Aristoteles tersebut sebagai dogma dari filsafat. Padahal itu hanya pendapat dari salah satu filosof. Dan dalam belajar filsafat, kita tidak diwajibkan untuk meyakini itu.

Analoginya sederhana, mungkin bagi anda yang pernah belajar ilmu kalam, pasti pernah mempelajari aliran-aliran seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Jabbariyah, dsb. Namun apakah hal tersebut menjadikan anda kufur? Tentu saja tidak. Mempelajari aliran-aliran lain hanya untuk memperkaya wawasan agar semakin bijak menyikapi perbedaan. Sama halnya dengan mempelajari filsafat.

Baca juga: Mengobati Pembusukan Peradaban dengan Filsafat Islam

Kembali ke pembahasan awal. Banyak orang beranggapan filsafat itu rumit. Mereka luput, ada hal lain yang lebih rumit dari itu, yaitu memahami perasaan perempuan.

Barangkali hal ini pula yang membuat Rocky Gerung suatu waktu pernah berkata, “perempuan itu indah sebagai fiksi, bahaya sebagai fakta." Pernyataan tersebut membuat saya berpikir keras saat mencoba memahaminya.

Saya teringat legenda Candi Prambanan yang menceritakan tentang perjuangan cinta dari seorang lelaki kepada perempuan yang dicintai. Dikisahkan, seorang pria yang bernama Bandung Bondowoso ditantang oleh Roro Jonggrang untuk membuktikan cintanya dengan membuat 1000 candi dalam waktu semalam.

Ketika Bandung Bondowo hampir menyelesaikannya, Roro Jonggrang menggagalkannya dengan membuat fajar palsu hingga akhirnya ayam berkokok lebih awal dan Bandung Bondowoso pun gagal. Nampak jelas, cinta Bandung Bondowoso ditolak dengan cara yang sungguh halus dan misterius.

Dari narasi di atas, saya menyimpulkan terkadang perempuan sangat sulit untuk dimengerti. Perempuan ingin bukti atas cinta sang lelaki. Namun ketika lelaki yang mencintai itu mencoba membuktikan, justru perempuan itu sendiri yang menggagalkannya.

Bukan maksud mendiskriminasi kaum perempuan, tapi secara pribadi saya berpendapat sesuatu yang sulit dipahami adalah sesuatu yang istimewa, seperti halnya filsafat.

Menurut saya, memahami perasaan perempuan itu jauh lebih rumit dari pada memahami filsafat. Atau, jangan-jangan, memahami perasaan perempuan juga termasuk berfilsafat. Entahlah, yang jelas perasaan perempuan sulit sekali dipahami.

“Filsafat mampu dipahami dengan cara membaca, membaca, dan membaca,” ucap seorang dosen suatu ketika. Lalu, bagaimana dengan memahami perasaan perempuan? Mungkin kita juga dapat memahaminya dengan membaca, dalam arti membaca perasaannya.

Saat ini, sudah bukan waktu yang tepat untuk memperdebatkan legalitas filsafat dalam kaca mata hukum Islam, apalagi masih beranggapan filsafat itu rumit dsb. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita memahami perempuan.

Ya, filsafat adalah induk dari segala ilmu, begitu juga dengan perempuan. Mereka induk dari peradaban dunia. Tanpa Hawa, tentu tidak akan ada anak-anak Adam hingga kini. Sebab itu perempuan perlu kita pahami perasaannya. Paling tidak, kita tidak sampai gagal menangkap sinyal perasaannya, seperti halnya Bandung Bondowoso. [SJ]

Baca artikel-artikel balasan untuk tulisan ini:

_ _ _ _ _ _ _ _ _ 
Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bias juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
2
Tidak Suka
Suka Suka
14
Suka
Ngakak Ngakak
2
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut

Comments 6

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Tulisan mas Jabir renyah banget. Cuma ada beberapa over saja dalam menggunakan kata sebagai. Misalnya saja pada paragraf 8, kata sebagai disebutkan dua kali. Pada paragraf 10 dalam satu kalimat kalimat sebagai juga disebutkan berdekatan. Dan pada paragraf 14, ada inkonsistensi dalam penggunaan istilah lelaki dan pria.

  2. Hi Jabir. Salam. Saya kira apapun gendernya, sifat alami perilaku manusia memang kompleks untuk dipahami. Maka dari itu kita tidak bisa generalisir satu kasus dengan kasus lain apalagi berkaitan dengan manusia. Ini menjadi kritik bahwa bukan perempuan scr umum yang sulit dipahami, tapi konstruksi budaya menempatkan perempuan sbg ihwal yang rumit tidak bisa berpikir logis. Menurut saya, siapapun dia, gendernya apapun itu, kalau rumit ya rumit. Tak melulu perempuan. Keculi memang dirinya dan budaya sekitarnya mengamini itu.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals