Mengapa Perempuan Lebih Rumit Dibanding Filsafat?

Perempuan selalu menjadi topik terbaik. Jarang kita menemukan tulisan mengenai hal-ihwal lelaki; kira-kira soal memahami laki-laki, alih-alih rumitnya mereka.


Sumber foto: www.mitrakuliah.com

Artikel yang ditulis oleh Mas Muhammad Jabir beberapa waktu lalu mengulas soal memahami perempuan yang tak kalah rumitnya dari filsafat menjadi salah satu artikel yang sangat diminati, ini ditandai dengan jumlah pembacanya cukup banyak.

Dalam artikel tersebut, kerumitan perempuan digambarkan sebanding bahkan melebihi filsafat. Lantas ada apa dengan perempuan? Apakah ia sama dengan susunan teori, metode atau kerangka pikir filsafat yang membutuhkan berbagai referensi untuk memahaminya?

Isi artikel ini mungkin menjadi sebuah refleksi isi kepala dan pengalaman penulisnya. Perempuan memang sebuah kerumitan, sehingga kesimpulan artikel ini pun diamini. Pandangan semacam itu sebenarnya bukanlah hal baru. Memang begitulah adanya, perempuan selalu dianggap sulit dipahami, emosional, jlimet, selalu benar, tidak pernah salah.

Baca Juga: Membaca Perempuan dari Masa ke Masa

Anggapan semacam itu tidak hanya sebatas pemikiran individual, melainkan sudah menjadi sebuah pemikiran kolektif. Dalam artian ia sudah menjadi kebenaran yang diterima umum. Oleh karena itu, perempuan dirasa sangat wajar atau bahkan dikonstruksi menjadi seperti demikian.

Semakin menarik bak gayung bersambut, ketika artikel yang ditulis Muhammad Jabir mendapat balasan tulisan dari Ainu Rizqi. Artikel balasan Ainu menjadi antitesis dari pemikiran Jabir.

Mas Ainu menyampaikan ketidaksepakatannya soal perempuan lebih rumit dibandingkan filsafat itu. Melalui pendekatan Soren Kierkegaard, Mas Ainu mengkaji eksistensi perempuan dan mengatakan bahwa Mas Jabir masih memahami eksistensi perempuan pada taraf estetis.

Tulisan ini pun lahir sebagai tanggapan terhadap artikel yang membahas perempuan sebelumnya. Bukan bermaksud hanya untuk meramaikan, atau hanya sekadar : “ah, kamu gak terima disebut rumit, kan?”. Lebih dari itu, penulis ingin menyampaikan perspektif lain soal perempuan.

Jika kedua penulis (red: Mas Jabir dan Ainu) menyusun argumennya dengan pendekatan filsafat, penulis memilih menjelaskan perempuan dalam perspektif sosiologis, meletakkan perempuan sebagai aktor dalam masyarakat, bagaimana ia dipandang dan bagaimana ia memandang dirinya sendiri.

Kontra narasi seperti ini adalah secuil bukti bahwa mengkaji perempuan memang rumit dan mengundang perdebatan. Perempuan selalu menjadi topik terbaik. Jarang kita menemukan tulisan mengenai hal-ihwal lelaki; kira-kira soal memahami laki-laki, atau tentang rumitnya memahami laki-laki. Apakah benar, hanya perempuan yang rumit dan laki-laki tidak?

Tulisan Mas Jabir menjadi salah satu contoh bahwa hingga saat ini perempuan masih dianggap objek bagi laki-laki. Perempuan dianggap berbeda dengan laki-laki. Betul, jika perbedaan ini hanya soal fisik keduanya, namun perbedaan tersebut kemudian memunculkan ketidakadilan hingga mendiskriminasi salah satu pihak (dalam hal ini perempuan).

Sederhananya, perempuan harus dipandang sama dengan laki-laki, karena keduanya sama: manusia. Meskipun secara biologis keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan, bukankah itu tidak menjadi alasan untuk menganggap salah satu jenis kelamin lebih mulia dibandingkan yang lainnya?

Tetapi realitanya, diawali dengan perbedaan jenis kelamin, perempuan dan laki-laki dipandang dan diperlakukan secara berbeda. Berbagai pranata sosial kelihatannya lebih menguntungkan laki-laki dan merugikan perempuan.

Masyarakat cukup bias memandang perempuan. Contoh kecilnya, mengapa perempuan yang sering pulang ke rumah agak larut malam dianggap sebagai perempuan nakal, tidak baik dan anggapan buruk lainnya, sedangkan laki-laki tidak demikian?

Ingat, ini hanya contoh kecil. Belum lagi pandangan masyarakat soal perempuan korban kekerasan seksual. Bagaimana perempuan sebagai korban, kemudian dianggap aib  bahkan tidak jarang ia dinikahkan oleh keluarganya dengan pelaku pemerkosanya?

Perempuan dipandang sebagai objek pengundang nafsu laki-laki, sehingga ia diatur sedemikian rupa dalam berbagai norma untuk bersifat, bersikap, berperilaku bahkan berpakaian yang bertujuan untuk mencegah munculnya nafsu laki-laki.

Oleh karena itu, membicarakan perempuan memang sangat rumit. Menolak kebenaran universal layaknya membicarakan norma yang sudah mapan di masyarakat. Akhirnya pembicaraan ini dianggap menyimpang dan tidak mendapat tempat dalam masyarakat.

Hingga saat ini, masyarakat hidup dalam budaya mengobjektivasi perempuan. Ungkapan-ungkapan seksis masih dinilai pantas untuk dilontarkan saat ini. Tulisan-tulisan semacam karya Mas Jabir adalah salah satu bentuk seksisme.

Bagi yang belum mengetahui apa itu seksisme, seksisme adalah suatu bentuk prasangka atau diskriminasi terhadap kelompok lain hanya karena perbedaan gender dan jenis kelamin. Pandangan seksis terhadap perempuan adalah hal lumrah dilakukan hingga saat ini. Namun, harus sampai kapan?

Membandingkan perempuan dengan objek lain menurut penulis merupakan perbandingan yang tidak setara. Dalam tulisan Mas Jabir yang membandingkan perempuan dengan filsafat,  perempuan bukanlah susunan teori bak filsafat, ia bukan hasil pemikiran dari berbagai tokoh, ia adalah manusia, sama dengan Mas Jabir.

Kerumitan perempuan yang dijelaskan Mas Jabir nampak menggeneralisasi sikap perempuan, ditambah menganalogikannya dengan sebuah legenda (kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso). Seolah rumitnya perempuan memang sudah menjadi jati diri, dalam peradaban apapun, ia memang rumit dan sulit dipahami.

Mas Jabir mengesampingkan perempuan sebagai manusia yang juga dikonstruksi oleh lingkungannya. Perempuan tidak lahir dan tumbuh begitu saja dengan nilai-nilai dirinya sendiri, melainkan menganut nilai di luar dirinya.

Ia tidak terpisah dari masyarakat yang memiliki kepentingan-kepentingan komunalnya, salah satunya melanggengkan nilai dan norma.

Dalam konteks masyarakat kita, perempuan dicitrakan sebagai manusia yang harus lemah lembut, kemayu, pemalu, penurut dan lain-lain. Perempuan yang lahir dalam masyarakat ini mau tak mau akan dikonstruksi seperti itu agar memenuhi standar nilai masyarakat. Dengan demikian, ia tidak dipandang sebagai manusia yang patologis; masalah sosial.

Tidak aneh jika bentuk-bentuk objektivasi terhadap dirinya pun diamini oleh banyak perempuan sendiri. Contohnya dari tulisan Mas Jabir, banyak perempuan yang setuju bahwa ia memang rumit dan merasa sama dengan Roro Jonggrang.

Jelas ini lebih rumit, karena perempuan tidak terusik dengan objektivasi itu. Sekeras apapun usaha kita untuk mencoba mendekonstruksi, mengubah pandangan umum, jika tidak didukung pihak sendiri, tentu nihil hasilnya.

Jika pernah mendengar soal budaya patriarki, masyarakat kita masih mempraktikkannya. Penilaian terhadap perempuan semacam di atas dikukuhkan dengan nilai agama, tradisi dan budaya membuat perempuan benar-benar meyakini bahwa ia tidak setara dengan laki-laki, membutuhkan laki-laki, bergantung kepada keputusan laki-laki, dan lainnya.

Perempuan nampaknya nyaman di posisi yang disediakan oleh masyarakat saat ini. Ia mengamini disebut rumit karena ia memang merasa ia perlu dipahami, ia mengiyakan jika ia marah pertanda ia sedang PMS, ia bangga dijuluki “perempuan selalu benar”, dan lainnya.

Ia tidak menyadari, bahwa anggapan sederhana semacam itu pun berdampak meminggirkan dirinya sendiri, memperkecil perannya dalam masyarakat dan lagi-lagi melanggengkan stereotipe terhadap dirinya.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan perempuan untuk membantah stereotipe itu semakin masif dari hari ke hari. Banyak perempuan yang semakin sadar soal ia setara dengan laki-laki, teks-teks agama pun mulai direkonstruksi agar lebih inklusif terhadap perempuan, misalnya tafsir Q.S. An-Nisa ayat 34 soal kekurangan perempuan dibanding laki-laki, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Semangat Kartini dan Wacana Gerakan Perempuan di Media Sosial

Ciptaan Tuhan itu unik, Mas Jabir… tidak hanya perempuan yang harus dipahami oleh laki-laki, juga sebaliknya agar hubungan kesalingan terwujud di antara keduanya.

Hukum kesalingan yang sehat adalah saling memahami satu sama lain, tidak menganggap diri lebih baik dan yang terpenting adalah kesadaran untuk menghargai serta tidak menginterupsi satu sama lain.

Oleh karena itu, terlalu subjektif dan terburu-buru mengatakan perempuan rumit tanpa mengkaji lebih lanjut bagaimana perempuan dibentuk oleh masyarakat, nilai-nilai yang dianut oleh perempuan dan lain-lain. [AM]

Baca artikel-artikel sebelumnya yang dikomentari dalam tulisan ini:

_ _ _ _ _ _ _ _ _
 Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jadi, bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannyadi sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.iddi sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals