Sindrom FOMO: Memahami Dampak dan Upaya Mengatasinya

Kehadiran Sindrom FOMO ini lebih cenderung memberikan dampak negatif yang nyata pada lapisan sosial masyarakat yang tidak terhingga.


Sumber foto: rosediana.net

Dua pekan yang lalu istilah FOMO menjadi salah satu trending topik di Twitter. Satu istilah yang sempat booming di tahun 2018, namun masih benar-benar menjadi tamu baru bagi kedua telinga saya.

Rasa penasaran yang kian membuncah di dada pun lantas mendorong jemari saya untuk meng-klik beberapa cuitan terkait FOMO. Sayangnya, di waktu itu pula saya tidak menemukan ke-mafhum-an yang ajeg.

Entahlah. Entah kebebalan akal pikir saya yang terlanjur akut sehingga tidak mampu menangkap maksud yang disuguhkan atau memang deret panjang cuitan itu yang sekadar main hashtag semata-mata.

Sependek simpulan saya, hampir dapat dipastikan, hamparan cuitan itu hanya menampilkan sisi reduksi makna yang amburadul. Sebatas penyebutan istilah yang ditegaskan dengan tanda pagar.

Memang sih harus diakui secara blak-blakan, bahwa ulasan trending topik di kanal Twitter itu tidak mesti berbobot. Informasi yang ditampilkan oleh beberapa akun netizennya lebih cenderung main senggol dan hashtag tanpa memberi ulasan yang objektif.

Kanal yang sangat pas untuk mengunggah quote-quote, motivasi, kata-kata bijak, curhat, nyinyir dan ghibah. Eh, malah promosi. Maaf.

Keterbatasan karakter kata yang sengaja dibentuk dalam cuitan juga banyak memengaruhi muara orientasi. Atas alasan itu pula mungkin mengapa Twitter lebih digemari oleh kalangan milenial ini.

Apabila dikomparasikan dengan kanal media sosial yang lain, Twitter dapat dikatakan lebih up to date dalam menampilkan kegandrungan realitas sosial yang ada. Lah, bagaimana tidak coba? Wong, cuitannya muncul per sekian detik.

Cuitan yang singkat setidaknya mampu mewakili ribuan sesungutan yang sumbar dan merasa gatal. Lantas, bagaimana bisa manusia pewaris tradisi oral itu mampu membendung ocehannya lagi. Jadi maklum saja kalau dalam kurun waktu setengah jam trending topik dengan mudah dapat berganti.

Belum lagi ditambah dengan kebijakan Twitter yang memberi keleluasaan dalam bercuit gambar dan video yang tidak pernah tersortir dan tersensor sama sekali. Alhasil, semua hal negatif dengan mudah mampu menjadi trending topik dan disaksikan oleh seluruh netizen.

Waduh, alih-alih hendak mengorek informasi tentang FOMO yang terjadi justru menguliti sisi negatif kanal Twitter ya. Maafkeun. Kembali fokus ke FOMO.

Rasa penasaran yang masih mengganjal itu pun akhirnya sedikit terobati takala saya menemukan postingan di akun Instagram Leaders_id. Salah satu akun yang konsisten memosting pengetahuan singkat terkait istilah asing yang trending kekinian.

Dalam postingan akun tersebut, dijelaskan bahwa FOMO adalah singkatan dari kata Fear of Missing Out (takut ketinggalan). Sementara Wikipedia menegaskan: FOMO is a social anxiety stemmed from the belief that other might be having fun while the person experiencing the anxiety is not present. 

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa FOMO adalah persepsi atau keyakinan yang memandang hidup orang lain lebih menyenangkan daripada hidup kita sendiri. Keyakinan itu terus bergejolak di dalam pikiran dan hati kita sehingga menimbulkan kecemasan akut yang bermuara pada rasa takut ketinggalan.

Lah, takut ketinggalan apa? Ketinggalan bus, pesawat atau kereta? Weh… Maksudnya bukan itu Wakaji. Terus maksud dari kata ketinggalan di sana apa, lho?

Makna ketinggalan dalam pengertian FOMO di sini tidak lain dilekatkan dengan kemutakhiran teknologi. Di mana manusia-manusia di era ini hidup dalam bayang-bayang rasa takut ketinggalan informasi (up to date).

Rasa takut yang tinggi karena tidak mampu upload rutinitas di media sosial. Enggan berpergian jauh keluar karena takut tidak ada sinyal. Sampai takut ketinggalan zaman karena ketidakmampuan memiliki produkgadget terbaru.

Secara garis besar, rasa takut itu kian menjelma menjadi candu dan ketergantungan akut yang terus diumbar. Terlebih-lebih jika ia telah mendapat titel selebgram, follower dan netizen (dalam makna negatif).

Baca juga: Gadget dalam Genggaman Kita atau Kita dalam Genggaman Gadget?

Pertanyaan selanjutnya, lantas siapa golongan yang rentang mengalami FOMO? Tentu ini melebihi garis teritorial tatanan kelas Borjuis dan Proletar ala Karl Marx, juga melampui Class Civilization yang dikumandangkan Samuel Huntington. 

Bahkan yang nampak itu lebih cenderung pada wajah persekongkolan prediksi teori Karl Marx, Samuel Huntington dan August Comte.Era disrupsi yang tidak sungkan berkali-kali mereduksi dan mendistorsi realitas kehidupan sosial manusia.

Bahkan kelatahan itu ditafsirkan sebagai kebutuhan hidup baru yang sama sekali tak dapat ditolak, terkecuali mereka yang memutuskan diri untuk menjalani pengasingan nyata di gua pertapaan sejati, Zuhud.

Menurut asisten profesor Texas A & M Health Science Center College of Medicine, Darlene McLaughlin, gangguan FOMO paling banyak terjadi pada generasi milenial (generasi Y), yaitu usia 1980-an hingga 1990-an.

Hasil penelitiannya di Amerika menunjukkan bahwa terdapat 24% remaja yang menghabiskan waktunya di depan smartphone dalam kurun waktu 8-10 jam setiap hari. Sementara apabila penelitian itu dilakukan di Indonesia, mungkin hasilnya akan lebih mencengangkan.

Dari sana kita bisa menarik simpulan, bahwa FOMO adalah sindrom yang tengah melanda generasi milenial, kecanduan gadget. Satu generasi yang memprioritaskan menggumuli kemutakhiran teknologi sebagai kesibukan utamanya karena dihantui rasa takut dan gengsi yang akut.

Pertanyaannya, apakah kamu termasuk golongan yang suka menggauli smartphone secara intens? Atau bahkan berlahan jiwamu tidak lain adalah smartphone? Jika iya, mulai sekarang berubahlah. Introspeksi diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Gunakan smartphone sesuai dengan kebutuhan dan porsinya.

Bukankah isrof (berlebihan) dan tabdzir (pemborosan) sangat tidak dianjurkan dalam Agama Islam? Apa-apa saja yang berlebihan selalu mengandung kemudaratan.

Dampak dari FOMO

Sebagai salah satu bentuk sindrom (gangguan) yang menyerang psikis sudah barang tentu FOMO akan memberikan beberapa dampak negatif yang nyata bagi orang-orang yang mengidapnya.

Adapun beberapa dampak yang akan diterima oleh mereka yang terjangkit oleh sindrom FOMO di antaranya ialah:

Pertama, mengganggu kesehatan mental. Rasa cemas dan ketakutan akut yang terus menumpuk di dalam diri dapat memengaruhi keadaan mental dan fisik seseorang.

Cara kerjanya bermula dari persepsi yang kian menebal menjadi suatu keyakinan dan dibenarkan oleh diri sendiri. Selanjutnya hal itu diterjemahkan menjadi pola dan tuntutan bagaimana seseorang harus mengambil cara pandang, bersikap dan bertindak.

Sangat dimungkinkan apabila seseorang itu tidak mampu memenuhi tuntutan dan mengontrol diri maka ia akan banyak frustasi, kurang percaya diri, putus asa, cepat merasa lelah, sangat sulit untuk berkonsentrasi serta sulit tidur sesuai dengan porsi (insomnia).

Jika pola sindrom FOMO ini terus berlanjut pada rentan waktu yang lama maka tidak menutup kemungkinan bukan hanya sekadar mentalnya saja yang terserang melainkan juga akan merenggut kesehatan organ fisiknya, mulai dari kesehatan jantung, otak, mata hingga kardiovaskuler.

Kedua, dapat merusak hubungan sosial. Kegandrungan atas jagat maya yang menjadi candu juga dapat merenggangkan sekaligus merusak hubungan antara sesama manusia. Entah itu dalam skala interaksi antar individu, personal dengan kelompok maupun kelompok antar kelompok.

Di satu sisi memang harus diakui bahwa media sosial memberi ruang yang bebas untuk mempererat tali silaturahmi, namun di sisi yang lain, kebebasan itu kerap mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

Selain itu, peluang bebas untuk berekspresi, berkomentar dan menilai yang ditawarkan oleh media sosial juga dapat menimbulkan percikan ketegangan di antara individu. Sehingga sangat dimungkinkan bisa menyakiti perasaan, kondisi mood bahkan mampu menyulut konflik yang menerobos norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Mungkin kita pernah mendengar bagaimana seseorang mampu melakukan tindakan kriminalitas hanya karena ejekan, bullying dan penilaian yang dilontarkan oleh netizen di media sosial. Bahkan telah banyak pula korban yang meregang nyawa akibat kalimat-kalimat sembrono dan sarkastik yang di-posting di dunia maya.

Atas dasar itu pula alangkah baiknya dalam bermedia sosial masing-masing kita mampu menempatkan diri sesuai kebutuhannya. Bijak dalam menggunakan seluruh fitur dan kanal media sosial sebagaimana mestinya.

Ketiga, gangguan finansial. Penggunaan gadget yang bergantung pada koneksi internet, entah itu melalui kuota data atau wifi, akan banyak berkaitan langsung dengan derasnya sirkulasi keuangan kita.

Intensitas kegandrungan atas eksistensi di jagat maya pada kenyataannya harus ditebus dengan harga yang variatif, murah sampai dengan tidak terhingga. Di satu sisi, pola ini menjadi candu baru yang terus mengeruk kepemilikan kita atas materi.

Sementara di pihak lain, ada kemungkinan besar tumpukan candu atas pamor di dunia maya itu lambat laun mengalahkan kebutuhan primer untuk hidup menjadi hal yang disepelekan.

Ada satu persepsi yang secara laten mengerak di kepala, lebih baik mengalokasikan uang untuk ketercukupan kuota daripada membeli sebungkus nasi untuk mencukupi kebutuhan fisik.

Lebih gengsi tidak menenteng smartphone daripada menggasak uang yang bukan haknya. Bahkan, lebih utama mengunggah foto makanan di medsos daripada membantu tetangganya yang kelaparan.

Pendek kata, Sindrom FOMO yang bergantung pada kontestasi kehidupan di jagat maya telah mengacaukan tatanan finansial pribadi yang telah tertata sedemikian rupa.

Sedangkan dampak yang terakhir dari FOMO ialah mendekonstruksi kebudayaan yang telah ada. Ketergantungan eksis di media sosial telah menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai objek utama yang terus diforsir dalam membangun citra.

Alhasil, setiap rutinitas kehidupan dalam dunia nyata dapat dipastikan tidak pernah lepas dari upaya mengutamakan foto album daripada pemahaman yang lugas atas tujuan dan makna dari kegiatannya.

Kesibukan dalam membangun citra di jagat maya pula yang kerap membutakan kedua mata generasi muda bahwa salah satu tugasnya adalah melestarikan tradisi dan budaya yang ada di Indonesia.

Alih-alih generasi milenial menjadi tumpuan harapan dan kepercayaan khalayak masyarakat-bangsa, akan tetapi tidak sedikit pula yang lebih condong hobi melestarikan tradisi dan budaya bangsa asing melalui tontonan konten-konten tertentu yang mereka suka.

Asimilasi dan pertukaran budaya ini sudah telanjur terdekonstruksi, sementara dalam diri setiap personalnya belum juga ada kesadaran yang benar-benar tumbuh atas dasar panggilan hati sekaligus berusaha memperbaikinya.

Upaya Mengatasi FOMO

Setelah kita mengetahui beberapa dampak dari FOMO, lantas pertanyaan mendasar selanjutnya adalah bagaimana upaya mengatasi sindrom ini?

Terdapat beberapa upaya yang dapat kita lakukan guna mengatasi Sindrom FOMO, di antaranya ialah sebagai berikut.

Pertama, bersikap qona'ah. Membiasakan diri untuk menerima apa yang ada adalah salah satu hal penting dalam hidup manusia.  Utamanya tatkala dihadapkan dengan dinamika kemutakhiran teknologi era digitalisasi saat ini.

Disadari atau tidak, setiap masing-masing orang akan memiliki kekurangan yang mungkin dengan sengaja ditutupi dan menjadi rahasia.

Termasuk di dalamnya menyangkut kesadaran bahwa setiap orang tidak akan pernah mampu terus-menerus mengikuti perkembangan zaman setiap detiknya. Hampir dapat dipastikan, seseorang tidak mungkin akan stagnan dalam keadaan yang menyenangkan dan momen itu sempat terpublikasikan di dunia maya.

Namun, bagaimanapun kita harus sadar bahwa ketidakmampuan untuk setiap saat eksis itu bukanlah suatu kegagalan dan perasaan ketinggalan itu bukanlah bentuk kekeliruan.

Dalam konteks ini upaya membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang jelas-jelas memiliki perbedaan dalam menjalani kehidupan justru adalah bentuk permisif atas hadirnya keputusasaan dan enggan menerima seluruh keadaan.

Kedua, memanajemen penggunaan gadget. Sindrom FOMO banyak terjadi karena rangsangan postingan-postingan orang lain di media sosial. Maka atas dasar itu, upaya memanajemen penggunaan gadget adalah solusi terbaik.

Memanajemen penggunaan gadget di sini bukan berarti membatasi secara penuh dan anti terhadap gadget, melainkan berusaha membuat komitmen untuk memanfaatkan seluruh fungsi gadget sesuai kebutuhan dan porsi yang cukup.

Upaya ini setidaknya membatasi diri dan menjadi benteng untuk tidak ketergantungan hiperaktif (implusif) dalam penggunaan media sosial. Pendek kata, di sini kita berusaha menjadwalkan kapan harus menggunakan media sosial.

Ketiga, mengutamakan koneksi nyata. Eksistensi di dunia maya pada umumnya bermula dari upaya mencari tempat pelampiasan belaka. Tempat yang memang benar-benar mampu menampung semua keluh-kesah, menghilangkan rasa ketertekanan dan rasa terasingkan dari realitas kehidupan sosial yang ada.

Dalam konteks mencari dukungan dan bantuan dari orang lain inilah mengapa sebagian orang begitu laten menggumuli setiap ruang dunia maya sembari diam-diam bersikap acuh tak acuh terhadap realitas kehidupan nyata.

Padahal di satu sisi, memilih dunia maya sebagai tempat pelampiasan adalah hal ceroboh yang justru mampu melipat-gandakan beban. Bagaimana pun warganet memiliki penilaian dan respon yang berbeda-beda, sehingga tidak akan mampu disama-ratakan.

Alih-alih curhat bisa jadi malah di-bully, dihujat dan dijatuhkan martabat dirinya ke jurang keterputusasaan.

Hal yang demikian justru menunjukkan betapa rapuhnya manusia tanpa kehadiran yang lain. Masing-masing pribadi kita membutuhkan relasi (hubungan) dan interaksi sosial yang erat antara satu sama lain di dunia nyata.

Baca juga: Dampak Pandemi Covid-19: Antara Objektivitas dan Rekonstruksi Behavior

Melestarikan hubungan yang erat dalam pertemanan, persahabatan dan kekeluargaan dengan orang-orang terdekat, sejatinya adalah langkah yang tepat tatkala kita menghadapi kesulitan.

Bercengkrama, tertawa bersama, bertukar pikiran dan menyeduh minuman serta ngemil bersama orang-orang terdekat kita di satu waktu adalah salah satu obat pelebur segala bentuk kegundahan atas carut-marut onak dalam menjalani kehidupan.

Keempat, tidak membiasakan gadget terkoneksi dengan internet. Kegandrungan kita atas media sosial tidak lain disebabkan oleh terbiasanya gadgetterkoneksi dengan internet.

Adanya koneksi internet ini memudahkan notifikasi setiap kanal media sosial masuk se-leluasa mungkin dan itu mendorong jemari tangan untuk memainkannya secara langsung.

Sadar atau tidak, kebiasaan itu telah banyak mendikte setiap gerak kedua tangan, bahkan tanpa sungkan telah merampas sebagian waktu kita untuk mengerjakan tugas yang lain.

Begitu juga sebaliknya, semakin sering kita mengatur koneksi internet terhadap gadget maka intensitas pendiktean itu akan mudah teralihkan dan terkondisikan.

Kelima, banyak bersyukur. Timbulnya Sindrom FOMO juga dimungkinkan akibat kurangnya rasa syukur atas segala nikmat yang telah ada di dalam diri.

Kesibukan kita fokus menutup-nutupi kekurangan diri, rasa iri dan merasa ketinggalan, bisa saja mengalihkan perhatian penuh atas segala hal positif yang dimiliki. Termasuk pula lupa bagaimana cara kita menghargai diri sendiri.

Padahal apabila kita mampu menghargai diri sendiri sangat dimungkinkan akan adanya kesadaran atas segunung nikmat hidup yang tidak ada habisnya untuk terus disyukuri.

Jika telah demikian, maka wujud syukur itupun tampaknya tidak sekadar ingin dirasakan oleh diri sendiri, melainkan setiap waktu hendak dibagikan kepada mereka yang keadaannya tidak se-beruntung dirinya.

Sedangkan yang terakhir, lawan dari FOMO yakni JOMO. Istilah JOMO ini singkatan dari Joy of Missing Out atau dapat dipahami sebagai perasaan tidak peduli, acuh atau sikap masa bodoh atas ketidakaktifan mengikuti trend yang sedang terjadi.

Istilah JOMO ini sengaja dimunculkan oleh masyarakat tatkala FOMO dipandang sebagai bentuk kebiasaan baru yang dapat mencerabut kesadaran diri sebagai manusia.

Terlebih-lebih, dalam tahapan yang lebih lanjut, kehadiran sindrom FOMO ini lebih cenderung memberikan dampak negatif yang nyata pada lapisan sosial masyarakat yang tidak terhingga.

Editor: Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals