Balada Ber(agama)Muslim Masa kini

Beragama bukan untuk dimanipulasi tetapi beragama haruslah diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara..


Balada, atau kisah sedih bisa terjadi dan menimpa siapa saja, kapan saja dan di mana saja, bukan hanya tertuju pada sepasang kekasih yang sekian tahun menjalin hubungan kandas ditengah jalan tanpa ada sebab dan alasan tertentu, tidak hanya menimpa seekor anak burung yang kehilangan kawanannya karena tertinggal atau ditelantarkan oleh induknya.

Itulah mengapa balada tak mengenal siapa dan apa, dan masing-masing pribadi pastinya memiliki balada tersebut tetapi dengan alur dan latar belakang yang berbeda-beda. Begitupula umat muslim abad ini, banyak sekali balada-balada yang akibatnya menyayat hati kita bersama dan memaksa air mata kita menetes karena tak kuasa menerima kenyataan pahit tersebut.

Seiring bergulirnya waktu, Islam yang kita kenal sebagai agama progresif karena memiliki sejarah peradaban yang panjang dan tak akan pernah ada habisnya jika dibahas, kini telah sampai diambang kepunahan, nyatanya di sekitar kita muncul berbagai masalah yang sangat sensitif yang menyerang kenyamanan agama kita.

Bahkan salah satu professor dari Amerika Serikat, yakni Isma’il Rahi al-Faruqi, mengatakan bahwa umat Islam pada saat ini berada di Anak tangga bangsa-bangsa terbawah.

Bahkan, telah dikalahkan, dibantai, dirampas negeri dan kekayaannya, dirampas kehidupan dan harapannya. Umat islam dituduh agresif destruktif, teroris, biadab, fanatik, fundamentalis, kuno dan julukan sinis lainnya. Sehingga patut kiranya umat Islam menjadi bulan-bulanan ujaran kebencian dari umat lainnya.[1]

Terlepas dari adanya opresi eksternal tersebut, parahnya di sekitar kita masih banyak terjadi kegaduhan dan kericuhan yang dalangnya adalah internal Islam itu sendiri, masing-masing kelompok antar ormas muslim mengatakan bahwa kelompok yang dianutnya adalah yang paling benar, sedangkan kelompok lain adalah sesat, kafir dan bid’ah.

Oleh karena itu, secara eksplisit pondasi-pondasi keutuhan dari Islam perlahan-lahan akan runtuh dan butuh perjuangan lagi untuk membangunnya. Kita perlu banyak belajar dari sikap dan prilaku yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. sebagai insan yang sempurna dan teladan yang baik (uswatun hasanah).

Apakah Rasul pernah mengajarkan umat Islam untuk saling membenci? Jangankan membenci umatnya sendiri bahkan bukan beliau bersikap ramah kepada umat non-muslim.

Dengan begitu, apakah kita tidak malu dengan beliau atas apa yang kita lakukan dan perbuat akhir-akhir ini, kekerasan, saling hujat, saling mengkafirkan dan saling mengolok-olok?.

Sejatinya, umat Islam adalah satu kesatuan yang utuh, bahkan telah digambarkan sebagai satu-kesatuan anggota tubuh, jika ada bagian tubuh yang sakit maka yang lain akan merasakan dampaknya, begitupun umat Islam jika ada oknum-oknum yang mengusik entah dengan sebuah masalah, persekusi dan lain sebagainya, maka itu menjadi tanggung jawab seluruh umat muslim yang harus diselesaikan secara bersama-sama tentu dengan jalan yang rahmah.

Seorang muslim pernah menyampaikan isi curhatan dan unek-uneknya kepada penulis mengenai menjadi muslim di abad ini, beliau sangat prihatin dengan apa yang menimpa dan terjadi pada agama ini.

“Kerusuhan, persekusi, kafir-kafiran, dan saling hina seakan sudah melekat bagi agama Islam” ujar AF (nama samaran). Bahkan beliau memberikan label bagi Islam sebagaimana quote dari Gus Dur yakni bahwa Islam adalah“agama yang marah bukan ramah”. Penulis berkeyakinan apa yang dirasakan AF tersebut juga sama terhadap apa yang dirasakan muslim-muslim lain di luar sana.

Bisa kita tarik benang merahnya bahwa yang namanya beragama bukan hanya tentang formalitas saja, tetapi beragama juga bagaimana kita mengimplementasikan nilai-nilai ajaran yang ada di dalamnya. Begitu juga menjadi seorang muslim.

Mungkin banyak di antara kita melihat seorang muslim yang rajin beribadah, bahkan pakaiannya menurut kita sangat Islami, tetapi sayangnya praktik dalam beragamanya tidak terpatri dalam kepribadiannya, masih memandang hina orang lain, menganggap dirinya paling takwa dan sebagainya.

Apakah beragama seperti itu? Perlu diingat bahwa beragama memang bisa kita manipulasi tetapi beda halnya dengan beragama, yang harus kita implementasikan nilai-nilai ajaran di dalamnya dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

 

[1] M. Hasbi Amiruddin, ”Kondisi umat Islam Memprihatinkan” dalam website www.Serambinews.com , diakses pada tanggal 12 Januari 2019

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Andy Rosyidin

Andy Rosyidin adalah alumnus MIN 5 Buleleng,  MTsN Patas,  MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo Program Keagamaan angkatan 21(el-fuady)  dan saat ini tengah menempuh S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Penulis asal Penyabangan,  Gerokgak, Buleleng, Bali ini adalah mahasiswa yang sering bergelut dengan dunia kepenulisan terutama Essay dan Paper. Saat ini menetap di Ponpes LSQ Ar-Rahmah Bantul Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui Email: [email protected] dan No Hp: 081238128430

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals