Hakikat Kebahagiaan dalam Filosofi Teras

Ternyata, di era ini, kebahagiaan adalah barang langka dan sulit untuk dimiliki sebagian orang. Filsafat Stoic berusaha menjawab itu.


Sumber foto: studylinks.com

Berawal dari kejenuhan mengerjakan tugas akhir, membaca buku berjudul Filosofi Teras adalah pelarian yang tak terlalu buruk, pikirku. Mata yang memerah karena terus-menerus memandangi laptop mulai menunjukkan ketidakseimbangan tubuhku.

Tetapi, entah karena cahaya radiasi layar, atau karena ketakutanku terhadap isi tulisanku yang masih berantakan, ketakutan menemui dosen pembimbing, ditambah kekhawatiran akhir bulan apakah masih bisa makan?. Pikiran-pikiran itu, meloncat ke sana ke mari dan membuatku gelisah. Ah, sungguh banyak kecemasan yang diproduksi oleh pikiran mahasiswa akhir cum syobat misqueen ini.

Buku ini adalah pemberian seorang teman. Andai ia tak menghadiahiku, minatku terhadap buku sejenis ini tidak akan ada. Bahkan persepsiku selama ini bahwa buku-buku sejenis itu tidak ada gunanya.

Sebab kupikir manajemen pikiran, perasaan, emosi dan cara menenangkan diri hanya kita sendiri yang mengetahuinya. Mencari sumber ketenangan sendiri kepada hal-hal di luar diri tentu akan sia-sia. Setidaknya itulah anggapanku selama ini sebelum membaca buku itu.

Kubuka halaman awal buku yang berjudul utuh “Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini” itu. Belum melanjutkan ke halaman berikutnya, aku terhenti sejenak. Benakku tertuju pada memori semester pertama kuliah yang mendapat mata kuliah Filsafat Ilmu.

Kata yang masih sangat asing bagiku kala itu: filsafat. Aku sudah di-wantiwanti oleh beberapa teman, mereka khawatir aku akan menjadi gila atau bahkan meninggalkan ajaran agamaku karena belajar filsafat. Mereka mengatakan bahwa filsafat bertentangan dengan ajaran agama.

Sebenarnya stigma sinis terhadap filsafat semacam di atas masih bertahan hingga saat ini. Banyak orang memandang buruk filsafat bahkan takut hanya sekadar mendengar namanya. Lebay memang, tapi begitulah realitanya. Mungkin bisa dikatakan bahwa mereka ini disebut fobia filsafat, padahal sebenarnya manusia adalah makhluk yang tidak pernah berhenti berfilsafat

Kubaca pelan-pelan, ternyata buku ini mengusung Stoisisme, salah satu aliran filsafat etika yang didirikan oleh Zeno, seorang filsuf yang berasal dari Citium pada 334-262 SM. Kata “Teras” sebenarnya diambil langsung dari terjemahan kata “Stoa”. Menurutku, diksi yang digunakan pada judul buku ini bertujuan agar dapat diterima oleh kalangan luas.

Baca juga: Belajar Filsafat Etika dari Alfred Jules Ayer 

Benar saja, dalam buku ini banyak sekali mengulas petuah para filsuf Stoisisme dan refleksinya terhadap realitas sehari-hari yang ditemui oleh si penulis buku. Dalam buku ini, ada filsuf bernama Marcus Aurelius, Epictetus dan Seneca. Mereka berbicara mengenai pengelolaan emosi negatif.

Hal ini tentu selaras dengan Stoisisme yang hakikatnya berorientasi pada proses individu memahami diri dan realitasnya, sehingga bijak dalam bersikap, bertindak dan berperilaku.

Menurutku, buku ini sebenarnya mengusung topik yang sangat sederhana, yakni “Bagaimana cara memperoleh kebahagiaan?”. Namun, ternyata di era ini, kebahagiaan adalah barang langka dan sulit untuk dimiliki sebagian orang.

Di tambah, sosial media yang masif digunakan sebagai ajang pamer harta dan pencapaian hingga kita membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Akhirnya, diri kita serasa disetir oleh nafsu untuk tampil selalu unggul. inilah yang kemudian membuat kita sulit untuk menemukan ketenangan dan kebahagiaan.

Realitanya, setiap detik hidup kita, selalu ada saja hal yang membuat kita cemas, takut, rendah diri/ minder karena tidak sebanding dengan orang lain. Kita frustasi dengan segalanya, sehingga emosi kita pun terkadang lose of control, cenderung meledak-ledak dan over-reaktif ketika menyikapi sesuatu.

Mungkin, saking lumrahnya kita dengan berbagai realitas tersebut, kita tidak menyadari mindset yang sudah kacau, bahkan di tahap tertentu kita tidak menyadari bahwa kita sudah stress dan frustasi. Lebih parah lagi, sampai pada tahap depresi.

Dari sinilah buku ini lahir; untuk menjawab persoalan-persoalan kehidupan melalui petuah filsafat kuno. Benarkah filsafat yang sudah ada 2000 tahun lalu mampu menjawab keresahan manusia abad ini?

Dalam buku ini, hal yang teramat penting adalah bagaimana mengatur mindset, pola pikir yang tepat dan bijaksana. Terwujudnya mindset tersebut karena kita fokus pada kemampuan diri, sehingga tidak berusaha mengontrol hal-hal di luar diri kita.

Tentu saja filosofi ini dapat dilaksanakan ketika kita mampu menyadari hal-hal yang mampu kita kontrol dan tidak. Hal-hal di dalam diri seperti opini, persepsi, pikiran dan tindakan kita sendiri masuk pada kategori dapat dikontrol. Di luar itu, kita hanya bisa mengupayakan saja, namun tidak mampu untuk mengontrol. Bahkan kesehatan, karier, pencapaian dan lainnya.

Stoisisme mengajarkan kita untuk menemukan kebahagiaan dari diri kita sendiri. Sehingga apapun hal-hal di luar kita (selain opini, persepsi, pikiran dan tindakan) tidak mempengaruhi kadar kebahagiaan kita.

Nah, pernahkah teman-teman merasa kecewa kepada orang lain? Kutebak, tentu saja pernah. Jika dianalisis dari Stoisisme, apakah sikap, tindakan dan perilaku orang lain dapat kita kontrol? Tentu tidak.

Hal itu di luar diri kita, sehingga semestinya kita tidak akan menggantungkan harapan atau ekspektasi kepada orang lain. Dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan itu berpangkal dari pikiran kita sendiri.

Setidaknya, dari 4 bab buku “Filosofi Teras” yang sudah kubaca, aku menemukan beberapa titik temu antara manusia, filsafat dan kebahagiaan. Filsafat sebagai optimalisasi penggunaan akal/ rasio akan mampu membuat manusia hidup dalam keselarasan alam untuk memperoleh kebahagiaannya.

Hal inilah yang menjadikan filsafat sebagai bagian dari manusia, karena manusia tidak akan pernah berhenti berpikir. Kemudian dalam Stoisisme, ketika manusia mampu mempergunakan akalnya secara maksimal, ia dinilai selaras dengan alam.

Baca juga: Guru Filsafat, Haram?

Selaras dalam artian seimbang, manusia akan sampai kepada tahap kebijaksanaan.  Bijaksana dalam hal ini sejauh yang kupahami adalah kemampuan ia memilah hal-hal di dalam dan luar dirinya tadi. Ketika ia bijaksana, maka ia akan mencapai kebahagiaan.

Dikatakan bijaksana ketika seseorang menyadari hal-hal di luar dirinya, sehingga hal itu tidak berpengaruh pada kadar kebahagiaannya. Tentunya pada konteks sekarang adalah mensyukuri hal-hal yang dipunya dan tidak insecure melihat milik orang lain.

Karena pada hakikatnya, keinginan adalah sumber dari penderitaan. Ketika kita menginginkan milik orang lain, kehidupan yang sama dengan orang lain, hal itu menjadi penderitaan yang tidak ada habis-habisnya.

Filosofi Teras mengajarkan kita untuk mengelola pikiran sehingga tidak terlalu sibuk untuk hal-hal di luar diri. Di saat yang sama, bukan berarti kita diarahkan untuk tidak berusaha dan mencapai keinginan-keinginan kita.

Namun, kita mampu menempatkan keinginan itu bukan sebagai tolok ukur kebahagiaan. Kebahagiaan hanya ada dalam diri kita sendiri, bukan pada keinginan yang tidak ada habisnya itu.

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Mantul. Btw, tatkala menyicipi setiap kalimat dari tulisan itu aku berani menyebutkan kalau lahirnya tulisan ini tidak lain adalah wujud katarsis penulis. Selain itu aku mengendus bau frustasi dan depresi yang dirasakan oleh penulisnya lho. Barang kali itu efek samping bergumul dengan tugas terakhir bagi mahasiswa yang ada di semester akhir.
    Ohya, membincang tentang kebahagian memang tidak melulu berpusat pada kuantitas materi. Kalau menurutnya Ibnu Miskawaih, Sa’adah (kebahagian) itu muncul bukan lantaran kontrol atas mindset semata, melainkan bermula dari bagaimana manusia mampu mengendalikan jiwa yang berparas nafsu yang bergejolak di dada, yang kemudian diseimbangkan dengan penggunaan akal secara optimal. Nah, sebagai tanda dari adanya kebahagian di dalam diri personal tersebut, maka akan tampil dari perbuatan-perbuatan luhur yang senantiasa dikerjakannya. Insan kamil sebagai representasinya. sebagai contoh dalam realitas kehidupan salah satu dari tanda kebahagiaan itu dengan adanya sikap syukur, qona’ah, kasih sayang, cinta dan ikhlas. Bagimanapun hidup itu sawang sinawang, masing-masing kita tidak pernah mampu memukul rata “sama” setiap upaya manusia menjalani kehidupan.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Hikmah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals