Kaum yang Dikutuk Menjadi Monyet, Benarkah Demikian? Perspektif Agama dan Sains

Substansi ayat tersebut bukan pada kisahnya, melainkan ‘ibrah yang dapat kita ambil yaitu jangan sekali-kali membangkang dengan perintah Tuhan.


Sumber gambar: liputan6.com

Kita mungkin pernah mendengar cerita tentang suatu kaum yang dikutuk oleh Allah SWT menjadi monyet. Hal itu disebabkan oleh pembangkangan mereka terhadap perintah Allah SWT yaitu dilarang melakukan kegiatan apapun terutama memancing ikan di laut pada hari Sabtu karena hari tersebut adalah hari yang diagungkan dan diperintah untuk banyak beribadah.

Menurut sejarahnya, seperti riwayat dari Ibnu Abbas mereka adalah suatu kaum yang hidup pada zaman Nabi Daud AS di desa Ailah yang berada di dekat pantai yang terletak di antara Madinah dan Syam. Kebetulan di sana terdapat lubuk ikan yang sangat melimpah sehingga saking banyaknya air laut sendiri tidak terlihat. Menariknya lagi, ikan-ikan tersebut muncul banyak pada hari Sabtu. Hal ini merupakan ujian dari Allah kepada mereka apakah mereka menaati perintah tersebut atau mengingkarinya. Pada kenyataannya, mereka membangkangi perintah tersebut dengan tetap memburu ikan padi hari Sabtunya sehingga mereka dikutuk menjadi seekor monyet.

Mereka pada awalnya memasang perangkap ikan dengan menggali lobang dekat pantai dan membuat sungai pada hari Sabtu. Kemudian pada keesokan harinya yakni hari Minggu mereka kembali ke laut untuk melihat perangkap tersebut. Hal itu berlangsung dengan waktu yang lama. Melihat hal yang demikian, ada sekelompok orang yang mengingatkan mereka bahwa perbuatan tersebut melanggar syariat, namun kaum yang dikutuk tersebut tetap tidak mengindahkannya.

Baca Juga: Belajar Hidup Dari Monyet di Tengah Pandemi Covid-19

Hal ini merupakan suatu kelaziman bagi kaum pembangkang seperti Bani Israil. Maka tidak heran lagi mengapa kebanyakan Nabi diutus dari kalangan mereka disebabkan kebebalan mereka. Pada akhirnya mereka dikutuk menjadi seekor monyet yang hina. Menurut sejarahnya, mereka hanya bertahan hidup selama 3 hari kemudian musnah.

Peristiwa tersebut sebetulnya sudah lazim di telinga kita sehingga penulis tidak akan lagi memaparkannya secara panjang lebar. Yang menjadi pembahasan di sini adalah penulis ingin bertanya apakah mereka menjadi monyet secara fisik dan sifat atau hanya sekedar sifatnya saja?

Di sini penulis akan menjelaskannya dari segi agama dan sains. Dari segi agama penulis akan mengambil dua pendapat mufassir besar yang berbeda pemikiran dan ideologi, yaitu Ibnu Katsir yang terkenal dengan penafsiran menggunakan riwayat dan Fakhruddin al-Razi yang terkenal dengan penafsiran menggunakan akal.

Sebelum masuk ke perbincangan, penulis terlebih dahulu akan memaparkan ayat yang menceritakan kisah tersebut. Ayat tersebut adalah surat Al-Baqarah ayat 65:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ ٱلَّذِينَ ٱعْتَدَوْا۟ مِنكُمْ فِى ٱلسَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ

Terjemahnya: “Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka,”Jadilah kamu kera yang hina!”

Dari segi agama, penulis mendapati riwayat Ibnu ‘Abbas yang mengambil riwayat dari Abi Hatim bahwa yang sebenarnya terjadi adalah bukan perubahan manusia menjadi monyet secara fisik, melainkan hanya secara sifat. Adapun dalil yang diambil oleh Abi Hatim adalah surat Al-Jumu’ah ayat 5, yang artinya “seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal”. Pada hakikatnya ayat ini bukanlah ayat hakiki melainkan majazi yang berarti tidak sesuai dengan makna aslinya. Penafsiran ini disanggah sendiri oleh Ibnu Katsir dengan mengatakan bahwa ini adalah pendapat yang aneh (gharib). Beliau berdalil dengan ayat 60 surat al-Maidah yang intinya Allah juga mengutuk kaum yang lain menjadi monyet dan babi.

Dalil kedua yang diutarakan oleh Ibnu Katsir yaitu sebuah riwayat dari al-Aufi dari riwayat Ibnu ‘Abbas bahwa mereka benar-benar menjadi monyet. Bukan hanya itu, jika yang muda dikutuk menjadi monyet, yang tua juga dikutuk menjadi babi. Riwayat yang sama juga disampaikan oleh Qatadah bahwa mereka dikutuk menjadi monyet yang melolong, mempunyai ekor panjang, yang awalnya mereka laki-laki dan perempuan.

Baca Juga: Entitas Ruh dan Jasad dalam Dua Peran Manusia

Ibnu Katsir begitu banyak sekali mengambil riwayat yang mengatakan manusia benar-benar menjadi monyet, tetapi sebaliknya ia hanya mengambil satu dalil, yaitu dari Mujahid. Di akhir pembahasan beliau menegaskan pendapatnya bahwa pendapat yang dikemukakan Mujahid kurang shahih. Yang shahih adalah perubahan kaum tersebut benar-benar secara makna dan bentuk.

Selanjutnya yaitu pendapat al-Razi Mengenai perubahan manusia menjadi monyet, dalam hal ini al-Razi menyangkalnya. Alasannya mereka tidak akan bisa merubah bentuk mereka yang hakikatnya manusia menjadi seekor monyet. Maka yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah menunjukkan bagaimana cepatnya Allah mengadakan dan menciptakan sesuatu. Jika ia mengadakan sesuatu, maka Allah tinggal mengatakan “Jadilah!” maka sesuatu itu pasti terjadi. Pada dasarnya Allah tidak mengubah mereka menjadi monyet tetapi lebih menunjukkan kudrat dan iradatnya Allah. Dari sini kita sudah melihat perspektif yang diambil kedua mufassir besar ini. Ternyata terjadi perbedaan pendapat.

Dalil penguatan yang kedua adalah riwayat dari Mujahid bahwa Allah hanya menjadikan sifat mereka seperti monyet bukan fisiknya. Sama seperti seorang guru yang berkata kepada muridnya yang tidak lulus, “Jadilah kamu seperti keledai!”. Apakah sang murid menjadi keledai? Tidak. Hanya semata sifatnya yang bisa jadi bodoh atau kurang menangkap pelajaran yang diberikan. Mengenai hal ini penulis kurang setuju karena al-Razi membandingkan seorang guru yang tidak ada kuasa untuk merubah dengan Allah yang Maha Kuasa.

Adapun yang menjadi alasan al-Razi, manusia adalah bentuk yang terstruktur. Jika diganti dengan bentuk monyet, maka itu adalah bentuk peniadaan sifat-sifat manusiawi. Perubahan bentuk dari manusia menjadi monyet bukan dinamakan perubahan bentuk, melainkan meniadakan dan mengadakan. Alasan yang kedua jika pendapat yang mengatakan manusia berubah menjadi monyet, maka bisa jadi monyet dan anjing yang kita lihat adalah manusia itu sendiri. Hal itu sedikit membingungkan.

Kemudian yang menjadi pertanyaan jika mereka adalah benar-benar berubah menjadi monyet, apakah monyet yang kita saksikan sekarang adalah keturunan mereka.?  Pendapat ini sudah bisa diprediksi jika kita lihat dari latar belakang keilmuan dari Fakhruddin Ar-Razi itu sendiri. Beliau adalah agamawan yang merangkap sebagai ilmuan sains seperti astronomi dan fisikawan. Tidak heran jika ia tidak sependapat dengan Ibnu Katsir.

Adapun dari segi ilmu pengetahuan, seperti yang dilansir dari bbc.com, penemuan sebuah tengkorak yang diyakini asal nenek moyang manusia oleh Prof. Yohannes Haile-Selassie mengindikasikan bahwa asal muasal dari manusia itu sendiri adalah kera atau monyet. Genus dari manusia yang disebut Homo ini merupakan turunan dari Australopithecus anamensis yang memiliki kemiripan dengan kera.

Sebenarnya pendapat ini mendukung pendapat al-Razi yang mengatakan manusia tidak mungkin menjadi monyet, melainkan sebaliknya. Namun jika kita kembalikan kepada religiusitas dan keimanan kita, perubahan manusia jadi monyet bukanlah hal yang mustahil. Menghidupkan dan mematikan makhluk saja merupakan perkara yang mudah bagi Allah, apalagi hanya sekadar merubah. Begitu juga antara agama dan sains pada hakikatnya tidak ada pertentangan. Hal tergantung dari segi pandang dan cara kita mengkombinasikan keduanya.

Kesimpulannya, antara kedua tokoh ini mempunyai pendapat dan dalil masing-masing. Kita tinggal memilih mau ikut dalil yang mana. Karena substansi ayat tersebut bukan pada kisahnya, melainkan ‘ibrah yang dapat kita ambil yaitu jangan sekali-kali membangkang dengan perintah Tuhan.

Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Mafatihul Ghaib

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Rizki
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Dirasah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals