Bu Tedjo dan Refleksi Kedewasaan Berinternet

Tokoh Bu Tedjo digambarkan sebagai perwakilan masyarakat yang latah untuk menyampaikan informasi tanpa mempertimbangkan kebenaranya terlebih dahulu.


(Sumber foto: www.koinworks.com)

Belakangan ini jagat sosial media twitter diramaikan oleh #BuTedjo. Tagar ini mencuat sejak diunggahnya film pendek berjudul Tilik. Film yang diproduksi oleh Racavana ini mengisahkan tentang kondisi masyarakat kampung dalam menyikapi informasi di media digital.

Meskipun film tersebut menyajikan latar dan setting yang sederhana namun pesan yang disampaikan dapat mengena. Hal ini dapat terjadi karena film ini dikemas dengan menampilkan kebudayaan dan praktik kehidupan masyarakat sehari-hari sehingga renyah untuk dinikmati.

Tilik adalah budaya berkunjung di lingkungan masyarakat desa, terutama di Jawa untuk menengok kelahiran bayi atau menengok anggota masyarakat yang sedang sakit. Hal ini sangat mencerminkan kondisi masyarakat desa yang secara sosiologis memiliki tipologi organik dengan pola komunikasi yang intim.

Latar dan setting yang natural tersebut, menjadikan film ini mudah untuk dicerna selain memang relate dengan kehidupan masyarakat. Ini tercermin pada adegan bergosip yang terjadi selama perjalanan ke rumah sakit.

Tokoh Bu Tedjo digambarkan sebagai perwakilan masyarakat yang latah untuk menyampaikan informasi tanpa mempertimbangkan kebenarannya terlebih dahulu. Karakter ini memiliki porsi yang besar untuk mendorong sampainya pesan utama film ini.

Tokoh Bu Tedjo dengan karakter latahnya berusaha secara gamblang menyajikan realitas kehidupan masyarakat yang kurang bijak dalam menanggapi informasi yang beredar di internet. Fenomena ini tentu tidak hanya dialami oleh masyarakat desa, namun juga menjadi problem masyarakat Indonesia secara umum dari Sabang sampai Merauke.

Kemajuan infrastruktur teknologi yang terbilang cepat, ditambah lagi banyak industri ponsel dari China yang memproduksi ponsel pintar murah, menjadikan semua kalangan masyarakat dari berbagai jenjang pendidikan serta usia dapat dengan mudah memiliki akses terhadap ponsel yang merupakan alat paling populer untuk digunakan dalam berselancar di internet.

Ditambah kehadiran internet yang terbilang masih baru tentu sangat berpengaruh dengan cara masyarakat menggunakan internet. Terutama dalam hal memahami kebijakan privasi sebagai bagian dari aturan yang mengikat pengguna.

Kesalahan yang lazim dilakukan oleh pengguna dan sekaligius menjadi kritik sosial yang dibawakan dalam film ini adalah mudah meyakini informasi dan terburu-buru menyebarkan sebelum mengetahui kebenarannya.

Kondisi di atas diperparah oleh masyarakat Indonesia yang secara kultural memang memiliki budaya komunal. Banyak aktivitas keseharian yang mengharuskan terjadinya komunikasi yang intens antar anggota masyarakat.

Realitas tersebut menjadikan transmisi informasi terjadi secara cepat, namun tidak tersaring dengan baik. Oleh karenanya informasi yang didapatkan dari internet ditelan mentah-mentah oleh masyarakat yang ujung-ujungnya berpotensi menyebabkan terjadinya kegaduhan dan efek negatif lainnya.

Potret kurangnya kedewasaan dalam menggunakan internet dapat dilihat dari merebaknya berita hoaks di internet yang disebar melalui media sosial, banyaknya konten pornografi yang dapat dengan mudah diakses, konten yang berisi ujaran kebencian dan lain sebagainya. Kondisi ini jika tidak diimbangi dengan kedewasaan pengguna akan berakibat pada munculnya efek negatif.

Pemaparan di atas adalah gambaran singkat tentang problem besar di balik munculnya internet. Hal ini terjadi sebagai imbas dari variatifnya pengguna serta skala kedewasaan secara mayoritas yang masih dalam tahap meraba-raba.

Artinya masih dibutuhkan edukasi dan penetapan regulasi yang baik agar masyarakat secara perlahan menuju tahap kedewasaan dan siap untuk menggunakan internet secara positif.

Baca juga: Menakar Kembali Kejernihan Media Massa Kita

Problem Kedewasaan Pengguna dalam Menggunakan Internet

Kedewasaan pengguna dalam menggunakan internet yang kurang, juga merangsang pertumbuhan konten “sampah” di media Youtube. Hal ini terjadi karena konten yang diminati oleh masyarakat pada saat ini adalah konten yang kurang mengedukasi.

Fenomena ini tergambar jelas bagaimana para seniman Youtube yang memberikan konten edukatif seperti pembuatan animasi dan editing video, tutorial yang bermanfaat serta diskusi-diskusi menarik harus tergeser oleh konten prank, konten berbau dewasa, settingan (dibuat-buat), atau konten toxic (banyak mengucapkan umpatan).

Fenomena serupa juga terjadi di Twitter, trending teratas yang muncul menunjukkan pembahasan pornografi, prostitusi dan isu kontroversial. Pembahasan tersebut mudah di-blow up secara berlebihan, dan bagi kalangan yang tidak bisa menyaring informasi secara tepat akan menjadi bola liar dan berdampak negatif di masyarakat.

Proses pendewasaan dalam menggunakan internet juga terhambat oleh adanya regulasi yang masih perlu banyak pembenahan, terutama dalam UU ITE. Undang-undang yang sedianya digunakan untuk mengatur perilaku warganet, justru digunakan untuk membungkam hak masyarakat dalam menyuarakan aspirasinya di media sosial oleh beberapa oknum, serta celah-celah lainnya.

Terlepas dari hal itu, proses perumusan regulasi yang ada di Indonesia perlu dukungan dengan adanya kritik yang konstruktif agar dapat dimaksimalkan untuk membentengi informasi di internet yang terbuka sekaligus menjadi aturan yang akan diacu dalam proses penggunaan internet oleh masyarakat.

Pernyataan di atas diperkuat oleh data yang dipaparkan oleh Ismail Fahmi, seorang Analis Teks Media Online dan Sosial. Data tersebut di sampaikan saat ia didapuk menjadi salah satu pemateri dalam seminar internasional yang diadakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2019 lalu.

Seminar tersebut mengangkat tema “Menjembatani Rasionalitas dan Kesalehan dalam Masyarakat Multikultural di Era Pasca Kebenaran”. Pada kesempatan tersebut ia memaparkan tentang algoritma dalam media sosial dan kata kunci yang sering dicari oleh pengguna.

Pada sesi pembahasannya tersebut, Ismail Fahmi menyoroti media sosial yang dibanjiri oleh narasi kebencian serta eksklusifisme identitas. Bahkan hal ini ditemukan pada tweet atau kata kunci pencarian di akun media sosial milik mahasiswa Indonesia.

Jika dibandingkan dengan media sosial dari para mahasiswa di luar negeri bahkan di negara kawasan ASEAN, kata kunci pencarian mahasiswa Indonesia terbilang kurang wajar jika dilihat perannya sebagai agen perubahan.

Kaca kunci yang menjadi pencarian para mahasiswa di luar negeri kebanyakan seputar teknologi dan ilmu pengetahuan yang sedang hangat dibahas seperti penemuan baru dan sekaligus tokoh-tokoh penemunya.

Realitas yang terjadi ini patutnya menjadi sebuah refleksi bagi para sarjana untuk lebih lantang menyuarakan narasi akademis dalam media sosial, serta membanjiri media sosial dengan informasi yang positif. Hal ini penting dilakukan sebagai penyeimbang sekaligus musuh untuk menggeser konten-konten negatif.

Baca juga: Darurat Hoaks dan Pentingnya Berpikir Kritis

Oleh karenanya dibutuhkan kerja bersama dalam mengedukasi, meramaikan, serta menata jagat maya agar kondusif dan memiliki muatan yang positif guna mendorong perkembangan pengetahuan.[SW]
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagikan (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals