Evolusi Mitos Kecantikan

Salah satu koresponden ZAP Beauty Index pada tahun 2018 yang berumur dibawah 18 tahun mengungkapkan bahwa memiliki kulit putih lebih penting daripada merasa bahagia.


Sumber gambar: kibrispdr.org

Era saat ini menuntut manusia untuk terbiasa dengan konstruksi media apapun bentuknya. Mulai dari yang berat seperti seminar sampai hal yang receh seperti gosip dan pergunjingan. Tapi nahasnya, perempuan tidak menjadi subyek dalam kehidupan yang serba digitalisasi ini, malah lebih kepada menjadi sebuah objek.

Media yang menjadi alat visualisasi dalam hal ini, telah membuat perempuan untuk tunduk kepada keinginan pasar. Sebut saja mitos kecantikan yang mulai berevolusi dengan menentukan beberapa karakter sebagai acuan. Akhirnya, perempuan menjadi alat pemuas “timeline” bagi laki-laki.

Baca Juga: Aurat Perempuan dalam Aneka Interpretasi: Butuh Interpretasi Baru?

Konstruk ini berdampak pada realitas kehidupan. Perempuan berlomba-lomba untuk mencapai standar kecantikan yang diinginkan oleh pasar. Thomas L. Berger mengungkapkan bahwa realitas adalah konstruksi dari manusia-manusia kreatif (1966). Tapi, mau sampai kapan perempuan menjadi objek?

Evolusi Kecantikan

Berger mengungkapkan lingkaran konstruksi realitas dengan tiga tahapan yaitu eksternalisasi, objektivikasi dan internalisasi. Serangkaian tahapan ini akan menjadi sebuah realitas apabila sudah mencapai tahap internalisasi. Sebab, kepercayaan terhadap suatu pola pikir yang sudah diterima (eksternal) kemudian diamini oleh suatu kalangan (objektivikasi) yang akhirnya menjadi kepercayaan bagi manusia(1966).

Saat ini perempuan diperdaya dengan konstruksi pola pikir baru terkait kecantikan, survei dari Zap Beauty Index tahun 2020 mengungkapkan bahwa 82,5% perempuan menyatakan yang dianggap cantik adalah mereka yang glowing dan kulit cerah. Memang benar standardisasi  kecantikan sudah diperbaiki dengan hanya dua kriteria di atas, akan tetapi sebenarnya itu akan menihilkan keberadaan perempuan-perempuan yang tidak pada kriteria di atas. Padahal, mereka juga termasuk dalam kategori cantik karena tak ada wanita yang jelek.

Ajaran Taoisme tentang Yin-Yang yang mengajarkan setiap sesuatu memiliki lawan. Jika di aplikasikan dalam versi “kecantikan” maka lawannya adalah “ketampanan” karena tak ada perlawanan yang menggunakan skema dua lawan satu, bila itu terjadi tentu tidak fair bentuk lawan kata ini.  Apalagi kata “jelek” itu sudah menjadi lawan dari kata “bagus”.

Lagi-lagi kita harus mengucapkan, bahwa saat ini perempuan masih menjadi objek dalam konstruksi pada media. Pergolakan tentang kecantikan memang suatu hal yang usang, tapi kita masih belum merdeka dengan hal itu. Kesepakatan bahwa kecantikan tidak memiliki standardisasi, nyatanya masih saja ada standar kecantikan dengan skema yang lebih longgar.

Najwa Shihab sudah mengungkapkan bahwa perempuan sudah harus mulai berkolaborasi dan memasuki ruang-ruang publik dengan porsi yang seimbang dengan laki-laki. Sayangnya, kecantikan masih menjadi momok yang menakutkan bagi perempuan untuk berkembang. Sebanyak 62,2% perempuan menurut survei ZAP Beauty Index tahun 2020 mengalami body shaming lantaran konstruksi mitos kecantikan yang masih belum selesai.

Pendidikan juga masih belum memberikan respon positif terkait penanggulangan problematika ini. Perempuan menjadi tertekan sebelum melangkah akibat poros penglihatan terhadap perempuan masih tertuju pada outer beauty bukan inner beauty.

Baca Juga: Cantik itu Ada Standarnya?

Mitos Kecantikan

Segelintir manusia tidak akan bisa meredam mitos yang sudah mengakar kuat ini. Kejadian demi kejadian yang menjadikan perempuan sebagai objek semakin tak terbendung, ditambah dengan adanya media sosial. Influencer kecantikan maupun lainnya kebanyakan diam terhadap mitos ini, atau bisa jadi mereka memanfaatkan mitos kecantikan ini sebagai pemasukan.

Perempuan pun masih banyak yang terpengaruh konstruksi sosial, apalagi mereka yang sudah masuk dalam kategori “cantik”, kecendrungan untuk menghiraukan tentang pembahasan ini sangat besar. Sehingga, body shaming sangat langgeng untuk dilakukan, lantaran tidak ada yang mengingatkan tentang hal itu.

Perjuangan memang berat seperti yang dikatakan oleh Tan Malaka: “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk”. hambatan yang dilalui tentu sangat banyak. Tetapi bila selesai di pertengahan jalan, tidak akan terbentuk sebuah konstruksi baru sebagai antitesis dari standardisasi kecantikan saat ini, yang ada malah kehancuran diri sendiri.

Standardisasi kecantikan saat ini sungguh sangat eksploitatif, perempuan rela merogoh kocek yang besar untuk mencapai standar kecantikan itu. Kecantikan dari inner beauty yang memang digaungkan dari dulu terhimpit oleh suara-suara yang lebih menyaringkan kecantikan outer beauty.

Bagaimana ingin menghancurkan konstruk saat ini, jika perempuan disibukkan dengan memoles kecantikannya terlebih dahulu. Dari awal perempuan sudah kalah satu langkah. Salah satu koresponden ZAP Beauty Index pada tahun 2018 yang berumur di bawah 18 tahun mengungkapkan bahwa memiliki kulit putih lebih penting daripada merasa bahagia. Artinya, perempuan berada pada posisi dilema saat ini. Di samping dituntut untuk survive, perempuan masih terbelenggu oleh konstruksi mitos kecantikan yang membuat perempuan menjadi objek dan memilih untuk menerima konstruk yang ada.

Akhirnya, perempuan saat ini mau diakui atau tidak masih menjadi objek. Maka, hal yang paling mungkin dilakukan untuk dekonstruksi standardisasi kecantikan adalah meruntuhkannya dengan membuat sebuah standar kecantikan baru dan memanfaatkan media sebagai penyebarannya. Penyadaran lewat lingkungan kecil serta edukasi lewat tokoh-tokoh yang mampu mempengaruhi konstruksi berpikir masyarakat. Bila ditanya sampai kapan? maka jawabannya ada dalam perkataan Tan Malaka, yaitu: terbentuk.
Waallahu A’lam

Sumber Refrensi:
Berger, Peter L., Luckmann, Thomas. (1966). The Social Construction of Reality, The Treatise In The Sociology of Reality. Garden City, N.Y.: Doubleday.
Survei ZAB Index Beauty. 2020. Agustus.
Survei ZAB Index Beauty. 2018. Agustus.G

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals