Berlaku Baik atau Berbuat Baik?

Berbuat baik kepada sesama adalah wujud cinta dari wa’tasimu bi hablilla. Setiap manusia harus berpegang teguh pada tali kasih Tuhan.


Sumber gambar: republika.co.id

Setidaknya ada dua jalan dalam menjalani kehidupan, berbuat baik kepada sesama dan menghamba kepada Tuhan. Bukan berarti mengenyampingkan tujuan yang lain, karena saya kira pasti beragam tujuannya.

Berbuat baik kepada sesama, sebagai manusia pastinya memiliki kepedulian, simpati, empati dan mengayomi. Pun begitu pasti ada kondisi di mana akan muncul kebalikan dari beberapa sikap di atas, cuek misalnya.

Kalau begitu, siapa objeknya? apa saja, bisa manusia, hewan, lingkungan, yang jelas kosmos. Karena setiap makhluk memiliki kondisi dan situasi yang berbeda-beda. Karena poinnya adalah kebaikan maka tidak terbatas objeknya. Sifatnyapun relatif, karena terkadang baik untuk pribadi belum tentu baik untuk kebanyakan orang.

Berbuat baik sesama manusia banyak sekali polanya, salah satunya adalah menyadari akan hak masing-masing, menyadari akan tugas masing-masing. Oleh karenanya berbuat amal shaleh menjadi poin utama dalam proses komunikasi. Salah satunya adalah silaturrahmi, bahkan redaksi hadis Nabi membahas tentang silaturrahmi, bahwa akan jauh dari bala’ dan akan bertambah rizkinya.

Secara tekstual bala’ cenderung mendekati keadaan yang carut–marut, dadal–dual, tetapi jika dipahami secara mendasar maka, bala’ adalah kondisi di mana manusia merasa bimbang dan terganggu akan kebingungannya sendiri.

Namun demikian bala’ adalah cinta yang mulai tumbuh, mengapa? Karena setiap dari mereka yang memiliki keyakinan kepada Tuhan, di setiap agama apapun, pastinya akan berduyun-duyun menyerbu di mana ada tempat Tuhan, atau berkumpul bersila seraya berdoa kepadaNya. Dengan kata lain, bala’ memiliki sisi baik dalam hal ini.

Kembali kepada pembahasan silaturrahmi, maka menyambung ikatan persaudaran setidaknya memiliki dua nilai kebaikan, pertama belajar memahami setiap watak yang berbeda, dalam hal ini mengajak kita berpikir, sehingga terbuka cakrawala berpikir. Kedua, secara tidak langsung mulai menjaga kondisi komunikasi, dengan kata lain ada praktik kesalehan, kebaikan dalam hal ini.

Oleh karenanya, Alladzina amanu wa amilu assholihati falahum ajrun ghairu mamnun, wanti-wantinya hanya berbuat baik dan menghamba kepada Tuhan. seperti filosofi menanam, sebagai manusia tugasnya hanya menanam dan merawat, perkara hasil tiada yang mampu memprediksi kecuali Tuhan.

Hal inilah yang seharusnya menjadi titik balik dari pola sikap dan pola pikir untuk hari ini, di mana banyak sekali komunikasi-komunikasi yang tidak memiliki nilai kebaikan, adapun pesannya baik tapi pola sikapnya yang amburadul, ketika pesan dan pola sikapnya baik, hatinya yang penuh sesak dengan segala keinginan-keinginan yang rakus, sehingga mempengaruhi terhadap hasil akhir sebuah komunikasi. Kalaupun banyak yang kecewa maka sudah dipastikan mereka memiliki harapan yang lebih atas apapun.

Oleh karenanya menghamba kepada Tuhan, berlaku baik kepada sesama adalah kunci agar setiap manusia tidak terlalu berharap dan berjalan sesuai dengan role model dari Tuhan. Role modelnya adalah Nabi Muhammad. Mengapa? Karena ia menyandang peringkat uswatun khasanah, di mana segala sesuatu yang ia lakukan memiliki nilai-nilai kebaikan. Kebaikan bagi pribadi dan kebaikan bagi semua manusia.

Lantas bagaimana pengabdian kepada Tuhan? kalau dalam kitab suci tertera perihal haq al adami maka dengan memenuhinya termasuk dalam proses pengabdian, bir al walidaini misalnya,Tuhan tidak akan meridlai apa yang tidak diridlai oleh kedua orang tua. Dengan kata lain, berbuat baik kepada sesama tidak terbatas ranahnya, karena dengan begitu kita nyicil jangkepi ibadah mahdlah dengan ibadah yang bersifat ghairu mahdlah, atau syariat akan lebih sempurna ketika ditambah dengan amal yang bersifat cinta.

Oleh karenanya, berbuat baik kepada sesama adalah wujud cinta dari wa’tasimu bi hablilla. Setiap manusia harus berpegang teguh pada tali kasih Tuhan. Salah satu bentuk usahanya adalah berbuat baik kepada sesama, setiap makhluk, dan alam semesta. Karena rentetan dari proses berbuat baik adalah, cinta Tuhan, beriman kepada utusan yakni Rasulullah Muhammad, kemudian ridla dari kedua orang tua.

Lantas bagaimana dengan efek dari proses itu semua? Saya kira melakukan proses itu dengan baik, perihal hasil akhirnya kita serahkan kepada Tuhan. Karena bagaimanapun waktu akan menjawab sesuai dengan proses yang dikerjakan dengan baik.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Dahri

Warrior

Ahmad Dahri atau Lek Dah adalah santri di Pesantren Luhur Bait al hikmah kepanjen, juga nyantri di Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. Buku terbarunya adalah “Hitamkah Putih Itu?”

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals