Antara Aqidah, Fanatisme dan Toleransi

Banyak sekali yang tidak bisa membedakan atau memisahkan antara aqidah, fanatisme (at-ta'ashshub) dan toleransi (at-tasâmuh).


Sumber foto: nu.or.id

Banyak sekali yang tidak bisa membedakan atau memisahkan antara aqidah, fanatisme (at-ta’ashshub) dan toleransi (at-tasâmuh). Ini terjadi baik secara individu, atau kelompok. Saat kita tidak bisa menempatkan ketiganya secara proporsional, sangat mungkin terjadi kerancuan dalam beragama. Menganggap aqidah itu sebagai pemikiran manusia, atau sebaliknya, menganggap pemikiran manusia itu sebagai aqidah. Hal kedua itulah yang melahirkan fanatisme kelompok. Pada puncaknya melahirkan ekstrimisme. Fanatisme atau ekstrimisme ini selalu merasa sebagai satu-satunya yang paling benar dan paling baik amalnya (yahsabûna annahum yuhsinûna shun’a).

Mengutip contoh yang diuraikan Al-‘Allâmah Al-Muhaddits Al-Mutafannin Sayyid asy-Syarîf Abdullah bin Muhammad Ash-Shiddiq Al-Ghumariy Al-Hasani dalam Maushû’ah-nya, ada seseorang mengatakan, “jangan berkasih sayang pada Yahudi dan Nasrani, karena mereka tidak akan masuk surga”, lalu dikatakan pada orang tersebut, “kamu fanatik”, dengan dalih bahwa Islam adalah agama kasih sayang. Sesungguhnya keduanya tidak proporsional dalam menepatkan aqidah, fanatisme dan toleransi.

Syeikh Abdullah Al-Ghummari menjelaskan, bahwa fanatisme (ta’ashshub) dan saling toleransi (tasâmuh) itu hanya ada pada mu’âmalah (hubungan antar sesama manusia). Maka, fanatisme adalah memperlakukan Yahudi dan Nasrani dengan kasar, merampas haknya, mendzaliminya, dan ini tidak dibenarkan dalam syariat.

Adapun tasâmuh adalah bergaul dengan akhlak yang baik kepada sesama manusia termasuk Yahudi dan Nasrani. Apabila mereka tertimpa musibah, maka hendaknya diberi pertolongan, saat mereka dalam keadaan gembira (seperti saat hari besar keagamaan), kaum muslimin menghormatinya. Bahkan Syekh menjelaskan, tidak mengapa memberinya hadiah di hari besarnya itu, selama tidak ikut serta dalam ritual-ritual keagamaannya.

Terlebih lagi, sangat boleh menolong kaum Yahudi atau Nasrani dalam urusan dunia, seperti memberikan piutang, atau shodaqoh apabila mereka membutuhkan, dan hal lainnya yang tak terkait dengan urusan agama.

Juga menjaga mereka apabila mereka (Yahudi dan Nasrani) menjadi tetangga dari  seorang muslim, khususnya jika ternyata antara muslim dan Yahudi atau Nasrani tersebut memiliki hubungan kekerabatan. Tapi bukan memberikan zakat mal atau zakat fitrah, karena keduanya khusus bagi orang faqir dari kaum muslimin.

Jika antara kaum Yahudi atau Nasrani itu terdapat perselisihan atau pertikaian kepada kaum muslim dalam urusan dunia, dan kita (sebagai muslim) melihat bahwa hak Yahudi atau Nasrani itu dirampas oleh seorang muslim, maka kita harus menasehati saudara muslim kita tersebut dan hak itu harus diambil kemudian dikembalikan pada pemiliknya.

Kesimpulannya, dalam pergaulan (mu’âmalah) hendaknya kita berlaku baik dan adil kepada sesama manusia baik Yahudi maupun Nasrani. Namun, pada saat yang sama, kita menyakini (ber-aqidah), bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang diterima Allah swt dan meyakini pula bahwa siapa yang mati dalam keadaan kafir, maka ia terhalang dari masuk surga.

Adapun kebaikan yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani, kita yakini bahwa Allah Maha Membalas Kebaikan. Mungkin telah Allah balas di dunia dengan kesuksesan, kemudahan dan lainnya, sebagaimana firman Allah swt (wa qadimna ilâ mâ ‘amilû…). Adapun balasan kebaikan pada hari kiamat hanya milik orang-orang yang beriman kepada Allah swt. Inilah aqidah umat Islam.

Menggampang-gampangkan aqidah bukanlah toleransi, sebagaimana pendapat kalangan yang mencampuradukkan keduanya, justru itu merusak aqidah yang pada puncaknya akan mengeluarkan penganutnya dari aqidah Islam. Inilah proporsi dari aqidah, fanatisme dan toleransi. Tempatkan ketiganya secara proporsional, insyaallah kehidupan kita secara agama maupun urusan dunia akan baik.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
11
Wooow
Keren Keren
6
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Dr. Mukhrij Sidqy, MA.
Dr. Mukhrij Sidqy, MA. adalah doktor di bidang Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dosen di STIQ Baitul Qur'an, Kelapa Dua, Depok. Ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Da'i Muda Indonesia Depok, Wakil Pengasuh PP. Al-Wutsqo Depok, dan Pembina Tahfidz LPTQ Al-Muhajirin BPI Depok.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals