Mengenal Cinta Dengan Stoisisme

Acap kali ditemui orang yang lepas rasionya karena dilanda virus cinta. oleh sebab itu perlu adanya kontrol yang perlu mengawasi tindakan emosi cinta itu.


Friendship

Pada dasarnya cinta dan rasio adalah suatu hal yang berbeda. Hal yang menjadikan perbedaan antara cinta dan rasio adalah bahwa cinta itu berasal dari emosional sedangkan rasio berasal dari nalar atau akal. Dalam konteks cinta kali ini, yang dimaksud adalah cinta bersifat eros atau cinta kepada lawan jenis yang akan menimbulkan hasrat.

Tanpa dipungkiri memang pada realitanya telah membuktikan bahwa cinta datang secara alamiah. Pada umumnya orang yang mengalami gejala jatuh cinta akan sulit mendefinisikan kata cinta secara rasional.

Saya mendengar pendapat dari teman saya mengenai definisi cinta, bahwa cinta itu tidak dapat didefinisikan. Cinta dalam penafsirannya adalah suatu rasa yang jauh dari nalar rasio dan juga sulit untuk memilih kata yang tepat untuk mendefinisikannya. Secara simplistik cinta itu tidak dapat dirasionalkan.

Pernyataan tersebut membuat saya berpikir dan mengingat salah satu ajaran dari aliran Stoisisme yang pernah saya baca di buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Dalam buku tersebut terdapat ajaran yang membahas mengenai kuasa dalam kehidupan atau secara umum disebut dengan dikotomi kendali.

Dalam penerapan dikotomi kendali yang saya pahami dari penjelasan di buku tersebut salah satu contohnya seperti presepsi orang lain terhadap kita adalah di luar kuasa kita. Secara sederhananya, kita tidak dapat mengendalikan presepsi orang lain terhadap kita.

Akan tetapi, kita mempunyai kontrol terhadap diri kita sendiri bagaimana cara mengambil keputusan dan juga cara menyikapi suatu hal, seperti halnya memberi penilaian kepada orang lain, bahkan nafsu kita sendiri dapat kita kontrol.

Dalam materi ini saya dapat mengumpamakan cinta adalah nafsu yang mana tindakan dari cinta itu terjangkau dalam kuasa atau dalam kontrol diri kita. Memang cinta itu datang sebagai respon diri terhadap sesuatu, sama halnya seperti marah dan sedih.

Meskipun begitu, tindakan dari cinta ini dapat dikontrol oleh diri kita sendiri. Apakah tindakan dari cinta yang kita jalani ini menimbulkan dampak positif? Paling sederhananya kepada kita sendiri apalagi orang yang ada di sekeliling kita, atau malah merugikan diri kita sendiri lebih lagi orang yang di dekat kita.

Baca juga: Hakikat Kebahagiaan dalam Filosofi Teras

Proses bernalar secara rasio inilah yang menjadikan esensi cinta lebih bermakna, tindakan atau pekerjaan yang dijalani dapat berjalan dengan baik tanpa harus skeptis terhadap dampak negatif yang dihasilkan dari tindakan dari cinta tersebut. Dengan penerapan STAR, keputusan yang diambil dari bentuk cinta itu lebih bijaksana.

Konsep STAR ini diperkenalkan oleh Henry Manampiring dalam buku Filosofi Terasnya dengan tujuan untuk mengendalikan emosional diri kita agar tidak terjerumus dalam tindakan yang sia-sia. STAR dalam konsep ini merupakan singkatan dari empat kata. Yakni Stop, Think, Asses, dan Respond.

Tujuan dari Stop ini merupakan tindakan untuk memberikan ruang bagi akal untuk mencerna situasi yang sedang dialami guna untuk memisahkan interpretasi diri dengan fakta yang ada. Kemudian Think dan Asses ini bertujuan untuk menilai tindakan yang akan dijalankan ini menguntungkan atau malah sia-sia.

Dalam hal ini akan mewujudkan keputusan yang bijasana dan akan menerima kejadian yang sedang dialami dan juga menjalankan dari hasil Think dan Asses. Hal inilah disebut dapal konsep yang terakhir yakni Respond.

Acap kali para kaum milenial menjalani cinta secara buta tanpa pandang apa akibatnya, sehingga orang yang menjalani cinta tanpa berlandaskan nalar akan merugikan dirinya sendiri bahkan bisa jadi orang lain. Contoh bentuk cinta tanpa berlandaskan nalar rasio dalam kehidupan seperti yang telah diberitakan, tentang kisah seorang ibu yang melaporkan anaknya karena menjual perabotan rumah untuk senangkan perempuan.

Anak asal Bantul Yogyakarta itu rela menjual seluruh perabotan dalam rumahnya demi ayang (red: panggilan kepada pacar yang digunakan belakangan ini)sehingga ibunya yang sedang berdomisili di tempat kerjanya sontak kaget ketika pulang melihat perabotan dalam rumah itu terjual habis oleh anaknya. Bahkan atap rumah dan pintu rumah pun laku dijual olehnya, terlebih lagi perabotan itu dijual dengan tujuan demi membahagiakan ayang.

Hal seperti ini patut dijadikan suatu pelajaran bagi kita bahwa cinta itu sebenarnya tidaklah buta, cinta itu dapat beroprrasi dengan baik apabila dalam menjalankannya juga memakai nalar rasio untuk mengimbangi hal demikian.

Adapun cara untuk menjembatani antara emosi cinta dengan akal agar terwujudnya pernyataan yang bijaksana dan membahagiakan, saya meminjam konsep STAR-nya Henry Manampiring dalam bukunya Filosofi Teras.

1. Stop

Dalam cara ini, kita dituntut untuk memberikan ruang bagi akal untuk ikut mendiskusikan gagasan yang ditimbulkan oleh cinta. Tindakan mempertimbangkan kembali buah dari cinta tersebut, apakah dampak itu baik itu bagi kita atau malah berdampak buruk bagi kita, baik itu secara finensial atau secara kesehatan.

Memang tidak dapat dipungkiri cinta akan selalu mendominasi dalam kehidupan setiap individu manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti halnya adanya nafsu pada diri manusia. Akan tetapi, bagaimana kita dapat mengkontrol nafsu itu.

Hal ini disepakati oleh Berk dalam buku Dari Anak Sampai Usia Lanjut karya Singgih D. Gunarsa, bahwa pengendalian diri merupakan kemampuan individu untuk mengendalikan hasrat pada dirinya sendiri untuk menanggapi realitas sosial.

2. Think & Asses

Setelah membagi ruang pada akal untuk merespon keadaan, perlu difikirkan tindakan apa yang tepat untuk dijalani. Atas pertimbangan itulah akan menghadirkan suatu gagasan yang mungkin lebih bijaksana daripada gagasan dari emosi semata.

Dari tindakan inilah, sesuai dengan tujuan Stoisisme yakni menghindari diri dari emosi negatif atau secara sederhananya bertujuan untuk menuju kebahagiaan.

3. Respon 

Sesudah menggunakan nalar untuk menganalisa cinta yang datang maka akan timbul tindakan untuk merespon perihal cinta. Seharusnya respon inilah bentuk respon yang baik karena melalui tahapan penalaran terlebih dahulu. Dengan tindakan ini pula bentuk realitas bahwa manusia tercipta spesial atas akalnya.

Cinta akan lebih bermakna atau bahkan menguntungkan bagi orang yang dapat mengambil keuntungan dari hal tersebut. Keuntungan ini bukan bermakna negatif yang berujung pemanfaatan melainkan saling bekerjasama dan saling mengerti serta saling mendukung satu sama lain.

Baca juga: Menjadikan Filsafat Sebagai Perilaku Hidup

Cinta yang dibawakan dengan berlandaskan komitmen untuk saling menjaga apalagi menjalinnya dengan prosesi pernikahan, maka setiap kinerja yang dilakukan pasangan tersebut akan lebih mudah untuk dijalani. Pasangan dapat saling bekerja sama dalam proses suatu pekerjaan atau mungkin menjadi salah satu support system apabila salah satu dari mereka mengalami fase lelah.

Anak milenial biasanya menyebut hal itu dengan keadaan down. Oleh sebab itulah saya pikir metode yang dibawakan Henry dalam bukunya sangatlah cocok untuk menjadi pegangan dalam membangun sebuah hubungan, a.k.a cinta Eros, ketertarikan membangun sebuah hubungan romantis.

Berdasarkan penjelasan di atas tentang bagaimana cara untuk menghadapi wabah cinta yang dialami setiap manusia dengan bijak, tentunya tidak melepaskan unsur kebahagiaan yang berhak dimiliki setiap individu manusia. Setidaknya tulisan ini diharapkan dapat memberikan sedikit sudut pandang mengenai cinta dari konsep Stoisisme.

Editor: Sukma Wahyuni
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

[zombify_post]

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI