Perempuan dan Pakaiannya: Cerita Tentang 3 Mahasiswi

Kehidupan masyarakat beragama selalu menampakkan hal yang menarik, khususnya di Indonesia, di mana anak-anak kecil diajari bapaknya untuk mengingat “nama” Tuhannya.


titiknol.co.id

Suatu malam mengantarkan saya pada perjumpaan—yang tidak disengaja— dengan seorang perempuan bernama pena Tia. Tia merupakan kawan seruang kelas saya di salah satu mata kuliah. Perjumpaan saya dengan Tia tidak terlalu lama, sekadar bertegur sapa dan sebentar memperhatikan pakaian yang ia kenakan, kemudian saling berlalu ke arah berlawanan.

Singkat cerita, saya telah duduk lesehan di angkringan belakang kampus, selesai dengan urusan perut. Sambil menyulut tembakau, saya kembali perhatikan—dalam ingatan— pakaian yang tadi Tia kenakan. Tia memakai kaos lengan pendek—ukuran M—dengan perpaduan bawahan celana pendek berwarna abu-abu. Sedikit terkejut, biasanya saya hanya berjumpa di ruang kelas dengan pakaian Tia yang serba tertutup, meskipun sedikit ketat paling-tidak ada yang melekat di tubuhnya selain kulit dan bulu.

Di lain cerita, di suatu siang mengantarkan saya pada pertemuan dengan Ayu. Berbeda dengan Tia, saya dan Ayu dipertemukan oleh tugas kuliah. Ayu merupakan Mahasiswi di salah-satu kampus Islam di Yogyakarta.

Seperti yang saya tulis di atas, kami dipertemukan oleh tugas kuliah. saya mendapat tugas untuk bertanya-jawab dengan mahasisiwi yang menggunakan cadar. Selain Ayu, saya juga bertemu dengan Umi. Berbeda dengan Tia, Ayu dan Umi saat itu menggenakan pakaian brukut dan anggota wajahnya hanya tinggal kedua mata.

Dari Ayu saya dapatkan tentang asal-muasal ia menggunakan cadar. Ayu menceritakan secara runtut, meskipun saya tidak tahu ia bercerita sambil tersenyum atau merengut. Ayu memakai cadar setelah ia mengikuti pengajian keagamaan di tempat yang tidak mau ia sebutkan.

Katanya, pertama kali ia diajak oleh kawannya ke tempat pengajian tersebut. Setelah mengikuti pengajian tersebut, di mana sang Ustadzah dalam pengajian  berhasil memberikan motivasi kepadanya untuk menjadi wanita yang lebih baik. Setelah itu Ayu memutuskan untuk menggunakan cadar. Ayu juga menambahkan sebuah ayat di mana pada umumnya digunakan sebagai dasar bagi wanita yang menutup wajahnya.  Surah Al-Ahzab ayat 33.

Sedikit berbeda dengan Umi. Umi mengaku memutuskan menggunakan cadar dikarenakan banyak orang yang diam-diam mencuri fotonya—paparazi. Setelah itu ia memutuskan untuk menggunakan cadar dengan alasan trauma atas kejadian pencurian fotonya. Umi menambahkan pula bahwa ia tidak begitu paham dengan dalil kitab suci seperti Ayu. Ia hanya merasa lebih aman dan nyaman dengan menggunakan cadar.

*

Dari cerita di atas, setidaknya dapat kita gambarkan bagaimana Al-Qur’an hidup dan berinteraksi dengan manusia. Pada Ayu misalnya, pemahamannya tentang menggunakan cadar ia dapatkan setelah mendengarkan tausiah dari Ustadzah, di mana dari dalil kitab suci ia mendapatkan bentuk praktis berupa penggunaan cadar yang menutup wajahnya—selain kedua bola mata.

Menilik kehidupan masyarakat beragama selalu menampakkan hal yang menarik, khususnya di Indonesia, di mana anak-anak kecil diajari bapaknya untuk mengingat “nama” Tuhannya. Selain itu, pemahaman tentang keagamaan menyentuh beberapa aspek kehidupan, yakni aspek batin yang berpuncak pada buah ma’rifat, sedangkan aspek dhohir yang sering kita lihat dengan kasat-mata.

Banyak sekali wujud pemahaman tentang agama yang dapat kita jumpai dalam masyarakat. Seperti tentang cara berpakaian seorang muslim, yang mengaku menjelaskan asal-muasal tuntunan berpakaian dalam agama. Hal ini biasannya didapat atas hasil pembacaannya terhadap kitab suci, atau juga merupakan hasil dari mendengar tausiah keagamaan oleh para kaum “elit” agama. Dari pola tersebut, dapat kita lihat bagaimana kitab suci (agama) dapat hidup dalam masyarakat.

Banyak anggapan bahwa wanita yang menggunakan cadar identik dengan terorisme ataupun ormas-ormas yang dilarang.  Belum lapuk di ingatan, di salah satu kampus di Yogyakarta pernah meluncurkan surat edaran pembinaan terhadap mahasiswi yang bercadar. Hal ini tentu saja tidak iseng-iseng amat diluncurkan, tentu ada perhatian khusus terkait mahasiswi bercadar.

Tentang Ayu dan Umi yang saya jumpai, mereka berdua sama mengatakan bahwa tidak ada hubungannya mereka bercadar dengan terorisme dan ormas-ormas terlarang.

Dari cerita Ayu di atas pula kita juga dapat mengetahui pola interaksi antara Al-Qur’an dan manusia, yang mana resepsi Qur’an dan manusia (Ayu) lahir atas rahim tausiah Ustadzah di tempat pengajian.

Sedangkan berbeda dengan Umi, ia mengaku dengan bercadar membuat dirinya lebih nyaman dan aman dari para paparazi. Tidak ada keterkaitan dengan pemahamannya terhadap kitab suci ataupun tausiah kaum “elit” agama. Tetapi, secara puitis dapat dikatakan bahwa mereka berdua berangkat dari hal yang sama, yakni manusia lain. Ayu berangkat dari Ustadzah yang membawa dalil Al-Qur’an, sedangkan Umi berangkat dari paparazi yang membawa kamera ponsel.

Sementara Tia dan pakaiannya yang berada di awal tulisan ini, tidak akan saya teruskan dalam tulisan ini, tentu “ngerti-lah” apa yang sedang dibayangkan oleh seorang laki-laki yang “sehat” pikiran.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Andre Hanura

Warrior

Andre Hanura adalah mahasiswa prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia menjabat sebagai Ketua Umum LPM Humanius Ushuluddin.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals