Seni Reog dalam Pusaran Politik dan Islamisasi

Kesenian Reyog menjelma menjadi ruh kekuatan politik Ki Ageng Kutu dan Islamisasi Raden Batoro Katong di wilayah Ponorogo


Parade Reog Jawa
Ilustrasi: kompasiana.com

Siapa yang tak kenal dengan seni Reog? Rasa-rasanya, seperti sulit dipercaya jika masyarakat Indonesia tak mengenal kesenian asli Ponorogo ini. Di belahan bumi yang lain—go internasional—seperti: USA; Inggris; Spanyol; Rusia; Venezuela; dan Suriname, ikon khas Ponorogo ini cukup dikenal dan dikagumi berkat aksi-aksi pemainnya yang hebat. Di luar negeri saja dikenal, apalagi di tanah kelahirannya sendiri, sangat lucu bila tak dikenal.

Berbicara seni Reog, iatelah melewati dinamika sejarah yang panjang. Politik dan agama menjadi saksi sejarah perkembangan kesenian ini di wilayah Ponorogo.

Murdianto (2009) dalam penelitiannya yang mengkaji kebijakan Pemerintah daerah—Bupati Markum Singodimejo 1994-2004—tentang perubahan nama “Reyog” menjadi “Reog”, menunjukkan adanya suatu polemik yang menghinggapi hasil kebijakan tersebut. Betapa tidak, term Reyog dan Reog memang terlihat sama. Namun, dari aspek kebahasaan makna dari dua kata tersebut sangat jauh berbeda.

Bukan tanpa sebab, perubahan itu digunakan Pemerintah daerah yang berkuasa sebagai jargon politik yang wajib diaplikasikan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali dengan akronim: Resik (bersih), Endah (indah), Omber (kelebihan), Girang Gumirang (gembira sejahtera). Inilah yang menyebabkan seniman Reyog Ponorogo bereaksi.

Baca juga: Rekonstruksi Identitas: Pandai Menyikapi Politik

Perubahan sepihak tanpa pelibatan seniman Reyog Ponorogo jelas melukai dan tampak menghegemoni mereka. Padahal term Reyog mengemuka dengan akronim: Rasa kidung, Engwang sukma adiluhung, Yang Widhi, Olah kridaning Gusti, Gelar gulung kersaning kang Maha Kuoso. Beberapa kata ini, membentuk rangkaian makna yang mengarah pada substansi kebudayaan dan semangat keagamaan rakyat Ponorogo.

Dilansir dari Indozone.id, ketua dewan kesenian Kabupaten Ponorogo Arim Kamandoko menegaskan, ejaan yang benar adalah Reyog,bukan Reog yang selama ini dikenal masyarakat luas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun turut menggunakan tulisan Reog untuk merujuk tarian tradisional yang menjadi kesenian khas daerah Ponorogo tersebut. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari peran Markum selaku Bupati Ponorogo yang memopulerkan ejaan Reog untuk slogan Kabupaten Ponorogo dan jargon politiknya.

Seni Reyog diciptakan Ki Ageng Kutu, pertama kali digunakan untuk menyindir raja Kerthabumi (Brawijaya V) dan kerajaannya, Majapahit. Dipilihnya seni Reyog, bukan tanpa alasan yang jelas. Dalam adat Jawa ada yang disebut ewuh pakewuh, maka dari itulah Ki Ageng Kutu tidak ingin menabrak adat tersebut.

Niels Mulder seorang antropolog dan ahli ilmu sosial menyebut, budaya Jawa adalah budaya yang menjauhi kritik dan konflik secara terbuka. Dengan menggunakan alat seperti seni Reyog, oleh Ki Ageng Kutudinilai efektif untuk menyodorkan sindiran maupun kritik.

Representasi Dadak Merak (topeng harimau ditenggeri burung merak) dalam Reyog menggambarkan raja Kerthabumi tidak memiliki kuasa atas kerajaannya dan para permaisurinyalah yang mempunyai kuasa itu. Sedangkan para penari Jathil yang diperankan gemblak (laki-laki yang lemah gemulai) merepresentasikan betapa lemahnya pasukan berkuda Majapahit. Hal ini sangat berbeda dengan Warok yang linuwih (begitu kuat)sehingga mampu mengangkat Dadak Merak dengan bobot lebih 50kg menggunakan kekuatan rahang giginya.

Sedangkan Bujang Ganong yang diperagakan Ki Ageng Kutu dengan gerakan akrobatik, merepresentasikan sebuah ejekan atas kelembutan palsu/fana kerajaan Majapahit.

Melihat perkembengan Reyog yang sangat pesat, membuat prabu Brawijaya V tidak nyaman, sehingga dia mengutus putranya bernama Lembu Kanigara atau akrab disapa Raden Batoro Katong (merupakan adik Raden Fatah pendiri Kesultanan Demak Bintoro) melakukan dialog untuk meredam gejolak yang kian meluas.

Ketika bertandang ke Wengker, Raden Batoro Katong ditemani Seloadji dan empat puluh santrinya. Dalam perjalanan dia bertemu dengan Kiai Muslim atau Ki Ageng Mirah. Berawal dari pertemuannya dengan Ki Ageng Mirah, Raden Batoro Katong mendapatkan informasi tentang peta politik Wengker yang dikomandoi oleh Ki Ageng Kutu.

Mengetahui peta kedigdayaan Wengker bergantung pada para Warok. Persebaran mereka meliputi beberapa wilayah seperti: Golan (Warok Hanggalana), Siman (Warok Gunaseca), gunung Pegat (Warok Suro Gentho), Sukosewu (Warok Hanggajaya), Slahung (Warok Setrajaya), Jenangan (Warok Singabawa), dan Bungkal (Warok Singa Kubra).

Maka, atas inisiatifnya, dia pun berniat melakukan silaturahmi kepada masyarakat Wengker. Perjumpaannya dengan putri Ki Ageng Kutu bernama Niken Gandhini, merupakan siasat awal Raden Batoro Katong untuk menaklukkan wilayah Wengker. Atas jasa Nawangsari dan Singosari, Raden Batoro Katong dapat mempersunting Niken Gandini.

Cukup menarik, dalam melakukan perjuangannya menaklukkan Wengker, Raden Batoro Katong berpedoman pada petuah: kenoa iwake aja buthek banyune (dapatkan ikannya jangan sampai keruh airnya).

Jalur pernikahan inilah menjadi momen awal masuknya Islam dan perpindahan kekuasaan Ki Ageng Kutu kepada mantunya, Raden Batoro Katong.

Baca juga: Pernikahan Dini dan Hak-hak Anak yang Dilanggar

Pada tahun 1496, ketika Raden Batoro Katong menjadi penguasa Wengker, kemudian dia pun membuat Kadipaten baru bersama para prajurit Wengker dan Warok di lereng gunung Wilis dengan nama Pramanaraga, yang berasal dari kata Prana dan Raga. Prana mengandung makna wasis, sedangkan Raga berarti jasmani. Hingga sekarang tempat itu dikenal dengan sebutan Ponorogo.

Dalam usahanya merintis Kadipaten, untuk pertama kali dia mengangkat adik iparnya—Suryalana, dikenal dengan nama Warok Suramenggala—menjadi Bayangkara. Kemudian mengangkat Seloadji menjadi Patih pertama dan mengamanahi Ki Ageng Mirah sebagai penasehat agama. Terbentuknya Kadipaten ini, menandai adanya kehidupan baru masyarakat Ponorogo secara aman dan tentram.

Setalah menjadi Adipati Ponorogo, dia memanfaatkan kesenian peninggalan Ki Ageng Kututersebut sebagai media dakwah. Dia juga menyempurnakan beberapa bagian perlengkapan pertunjukan Reyog. Kepala harimau diperindah dengan bulu merak yang ditata rapi sehingga seperti merak ngigel, sedangkan burung meraknya sendiri didesain seperti mematuk kalung mote biji tasbih sebagai lambang ketakwaan (ketundukan dan kepatuhan) kepada Allah SWT.

Kepiawaiannya dalam mengartikan atribut yang melekat pada Reyog dengan sentuhan Islam, menjadikannya sebagai simbolisasi nilai-nilai Islam. Kata Reyog, oleh Raden Batoro Katong direlasikan dengan kata riyoqun yang berartihusnulkhatimah. Lalu kendang, diambilnya dari kata qada’a yang bermakna rem. Makna ini dimaksudkan agar segala angkara murka wajib dikendalikan.

Kemudian ketipung, diinterpretasikan sama dengan kata katifun yang bermakna balasan. Makna itu bermaksud menjelaskan: segala perbuatan manusia akan mendapatkan balasan sesuai apa yang dilakukan. Selanjutnya kenong, oleh Adipati Ponorogo pertama tersebut diberi faedah sama dengan kata qana’a yang berarti menerima ketetapan. Sedangkan kempul, tidak lain sama dengan kata kafulun yang mengandung definisi imbalan.

Alat musik lain, seperti trompet dimaknai shuwurun yang mengandung maksud peringatan. Demikian dengan angklung yang memiliki faedah sama seperti kata anqul sehingga diartikan peralihan.

Tidak berhenti di situ saja, komponen pakaian adat kesenian Reyog Ponorogo seperti udeng, penadon, dan kolor usus turut digarap dan disesuaikan dengan konteks definisi keislaman. Udeng (ikat kepala) didefinisikan sama dengan kata ud’u yang berfaedah mengajak melalui doa dan dakwah sebagai cerminan rasa cinta kepada saudara-saudara yang lain. Adapun pakaian adat penadon diinterpretasikan fanadun yang berarti lemah. Manusia pasti menyadari dirinya penuh kesalahan. Maka dari itu dia tidak pastas menyombongkan diri dihadapan Allah SWT.

Sedangkan kolor usus yang menjadi senjata andalan para Warok, dimaknai ushusun,bermakna ikatan yang menunjukkan bahwa manusia harus berpegang teguh kepada tali Allah dan menjaga hubungan baik kepada sesama manusia.

Strategi dakwah yang halus, memadukan antara budaya dan ajaran Islam terbukti efektif dan dapat diterima dengan baik oleh kalangan masyarakat Ponorogo. Siasat dakwah bil hikmah tersebut melahirkan produk akulturasi dan inkulturasi budaya. Siasat inilah oleh Anderson yang kemudian disebut toleransi, karakter utama orang-orang Jawa. Istilah toleransi ini dalam dasawarsa terdahulu lebih populer disebut dengan istilah sinkretisme Jawa atau relativisme Jawa.

Dalam waktu yang lumayan singkat, para pengikut ajaran Islam di Ponorogo di luar dugaan, berkembang semakin banyak. Namun secara kualitas belum sepadan dengan kuantitas, sehingga sampai sekarang banyak ditemui seniman Reyog yang merawat tradisi mistik sarat akan ritual politeistik dan paganisme. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari pola penyebaran agama Islam di sana yang terbatas pada pemyebarannya secara kuantitatif—yang penting masuk Islam dulu.

Seiring laju perkembangan zaman, perbedaan idiologis masing-masing seniman Reyog melahirkan dua kutub aliran tradisionalis dan Islamis. Aliran tradisionalis masih bersandar pada nilai leluhur yang mempertahankan manifestasi animistik dan dinamistik. Sementara aliran Islamis, hanya untuk kepentingan dakwah kultural.

Baca juga: Dakwah dan Budaya Sebagai Media Transmisi Ajaran Islam di Indonesia

Meskipun demikian, dari rangakaian sejarah tersebut dapat dipahami bahwa dua misi yang diemban Raden Batoro Katong dalam lawatan-nya ke Wengker selain diutus Brawijaya V untuk melakukan dialog dengan Ki Ageng Kutu, dia juga berhasil menorehkan capaian mendirikan pemerintahan Islam di Ponorogo (11 Agustus 1496 M atau 1 Zulhijah 901 H) dan dakwah Islam.

Terlepas dari intrik dan konflik, politik pada tempo dulu telah memainkan peran penting hubungan kekerabatan dan pernikahan. Kesenian Reyog menjelma menjadi ruh kekuatan politik Ki Ageng Kutu dan Islamisasi Raden Batoro Katong di wilayah Ponorogo.

Referensi:
Sugianto, Arif. 2020. Agama & Budaya Nusantara Pasca Islam. Semarang: eLSA.

Editor: Andika S

 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals