Tumbilotohe: Tradisi Menyambut Lailatulqadar ala Masyarakat Gorontalo

Dengan merayakan tradisi Tumbilotohe, mereka yakin akan mendapatkan berkah Lailatulqadar


Foto: edited from antarafoto.com

Tak terasa Ramadan akan segera berakhir dan bulan Syawal pun akan segera tiba. Detik-detik kemenangan pun semakin terasa dekat dengan datangnya Lailatulqadar, yang diyakini oleh umat Muslim sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan.

Di Indonesia yang memiliki suku dan budaya yang beragam agaknya memiliki tradisi yang beragam pula ketika menyambut Lailatulqadar dan hari raya Idul Fitri. Salah satunya ada di Gorontalo. Masyarakat kota yang dijuluki sebagai Serambi Madinah itu memiliki tradisi khusus ketika menyambut Lailatulqadar yakni tradisi Tumbilotohe.

Dari segi bahasa, kata Tumbilotohe berasal dari bahasa Gorontalo, yaitu tumbilo dan tohe. ‘Tumbilo’ artinya memasang dan ‘tohe’ artinya lampu. Tumbilotohe merupakan tradisi memasang lampu di depan rumah maupun di masjid dalam rangka menyambut datangnya Lailatulqadar, biasanya dilakukan pada tanggal 27, 29 Ramadan hingga 1 Syawal.

Baca juga: Lailatulqadar, Kemuliaan Malam Seribu Bulan Hanya di Bulan Ramadan

Pada awalnya, masyarakat Gorontalo menggunakan lampu damar (getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar) sebagai penerangan sekaligus perayaan tradisi ini. Lalu berkembang lagi dengan menggunakan lampu sumbu dari kapas dan minyak kelapa, kemudian pada masa kini masyarakat setempat sudah banyak menggunakan minyak tanah. Bahkan oleh generasi millenial, selain menggunakan lampu sumbu minyak tanah, belakangan mereka juga menambahkan lampu tumbler agar lebih menarik, meriah dan mudah dibentuk.

Lalu, apakah tradisi ini hanya sekedar memasang lampu? Apa uniknya?

Bagi masyarakat Gorontalo, tradisi Tumbilotohe bukan merupakan tradisi yang biasa saja. Ia memiliki sejarah dan nilai filosofi yang tinggi. Tradisi ini disebut juga dengan malam pasang lampu yang dalam pelaksanaannya memegang teguh falsafahadat bersendikan syara’, syara’ bersendikan kitabullah.

Nama Tumbilotohe jugamengandung makna mendalam yang di dalamnya mengandung empat unsur yakni tulu (api), taluhu (air) dupoto (udara) dan huta (tanah). Api berarti memelihara diri dari api neraka, udara berarti ruh manusia yang ditiupkan Allah saat menyempurnakan kejadian manusia, sedangkan air berarti dijadikannya manusia dari setetes nutfah, dan tanah berarti awal kejadian manusia yang berasal dari tanah.

Baca juga: Islam dan Peradaban yang Hilang

Dari segi kesejarahan,tradisi Tumbilotohe merupakan tradisi yang telah dipraktikkan sejak abad ke-15 M, kurang lebih ketika Islam mulai merambah Gorontalo. Pada zaman dahulu perayaan Tumbilotohe sangat sarat dengan nilai-nilai sosial. Tradisi ini pada awalnya dimaksudkan sebagai penerang jalan agar masyarakat yang bermaksud untuk beri’tikaf dan membayar zakat fitrah mudah mengakses jalan menuju masjid pada malam hari. Hal ini karena pada masa awal Islam di Gorontalo, kondisi alam yang berawa-rawa dan gelap gulita menyulitkan masyarakat untuk mengakses jalan menuju masjid atau membagikan zakat ke rumah-rumah penduduk usai salat Tarawih.

Tak sekedar sebagai sebuah praktik sosial, Tumbilotohe juga berkaitan dengan waktu pemasangan lampu yakni pada malam Lailatulqadar yang biasanya diprediksi turun pada malam ganjil 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Masyarakat Gorontalo percaya bahwa pada malam tersebut, malaikat turun dari langit ke bumi dipimpin oleh malaikat Jibril, membawa rahmat dan keberkahan dari Allah swt.

Mereka percaya, ketika Tumbilotohe dinyalakan setelah Maghrib dengan diiringi pembacaan surah al-Qadr (kemuliaan), maka rahmat Allah swt dan kemuliaan datang menerangi iman manusia sebagaimana Al-Qur’an diturunkan sebagai penerang (petunjuk) umat manusia. Maka filosofi Tumbilotohe ini bermakna menyambut kebaikan dan keberkahan tersebut.

Baca juga: Idul Fitri dan Peningkatan Ketakwaan

Tumbilotohe juga menjadi simbol bahwa masyarakat senang menyambut Lailatulqadar dan Idul Fitri dengan hati bersih dan terang benderang. Dengan merayakan tradisi Tumbilotohe, mereka yakin akan mendapatkan berkah Lailatulqadar baik dengan cara meningkatkan keimanan kepada tuhan, bermuhasabah diri dan meningkatkan kesalehan sosial minimal dengan membantu akses jalan dengan penerangan. Semuanya terangkum dalam empat unsur Tumbilotohe dan falsafah tradisi sebagaimana disebutkan di atas.

Seiring berjalannya waktu, meskipun kondisi penerangan di kota Gorontalo telah berkembang, tradisi ini tetap menjaga unsur kearifan lokal dan bahkan menjadi destinasi wisata dan trademark Gorontalo. Di berbagai sudut kota Gorontalo mengadakan festival Tumbilotohe untuk menyambut Lailatulqadar dan Idul Fitri, para pemuda baik individu maupun tergabung dalam kelompok berkreasi membentuk dan menata lampu dalam berbagai macam bentuk seperti bentuk kubah, tulisan selamat hari raya Idul Fitri dan lain sebagainya.

Lalu pada malam 1 Syawal, mereka turun ke jalan untuk bertakbir, ada juga yang sekedar melihat keindahan Tumbilotohe. Bahkan, pada tahun 2007 silam, Gorontalo pernah mencatat rekor MURI karena menyalakan lima juta lampu sekaligus saat merayakan Tumbilotohe. Tidak heran rasanya jika tradisi ini selalu dirindukan, khususnya oleh masyarakat setempat.

Baca juga: Memasjidkan Rumah

Lalu bagaimana dengan tahun ini? Tahun ketika pandemi Covid-19 menyerang. Apakah tradisi ini kemudian hilang karena pada perayaannya mengundang banyak massa? Di masa pandemi ini, tradisi tersebut seharusnya tetap dijaga dan dilaksanakan dengan tetap mematuhi himbauan pemerintah untuk social/physical distancing.

Bagaimana caranya? Memasang lampu di depan rumah masing-masing berderet menuju masjid sebagaimana awal praktiknya tanpa perayaan yang mengundang massa, karena Tumbilotohe bukan sekedar makna yang terpenjara dalam sebuah simbol perayaan, makna dari Tumbilotohe begitu terasa dalam hati masyarakat Gorontalo. Terlihat dari terangnya setiap sudut Gorontalo untuk ketrentraman hati, mendekatkan diri kepada pencipta, memupuk solidaritas, menimbulkan suka cita menyambut malam penuh berkah menuju kemenangan sehingga tak ada yang merasa bersedih hati pada malam itu. []

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukainya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Izza Royyani

Master

Seorang mahasiswi yang sedang menuntut ilmu di salah salah satu universitas di Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals