Sebutan Al-Qur’an untuk Wartawan Penyebar Hoaks

Hoaks tidak hanya berdampak pada buruknya citra seseorang atau lembaga, tapi juga merusak hubungan keharmonisan antar sesama manusia, dalam beragama maupun bernegara


Gambar: Serambi Indonesia

Salah satu tantangan besar umat Islam, bahkan umat manusia seluruhnya, di era media ini adalah bagaimana bersikap dewasa dalam bersosial media, termasuk dalam mengirim dan menerima informasi. Terbukanya ruang kebebasan, dari persoalan umum hingga yang paling privasi, menjadikan kita kekenyangan informasi. Padahal bukankah terlalu kenyang juga tidak baik bagi kesehatan rohani dan jasmani? Apalagi jika informasi yang dikonsumsi adalah berita bohong atau hoaks.

Baca juga: Darurat Hoaks dan Pentingnya Berpikir Kritis

Berlimpahnya informasi dan merebaknya penyebaran hoaks bahkan tidak jarang secara sadar diberitakan oleh wartawan media berita yang terbilang resmi. Di tengah keberlimpihan ini, tulisan ini akan mendiskusikan respon Al-Qur’an terhadap wartawan media yang sering menyebarkan berita hoaks.

Dahulu, pada era Nabi, ada kisah mengenai penyebar hoaks; Dikatakan bahwa Al-Harits bin Dhihar Al-Khuza’i, pemimpin Bani Musthaliq, ketika masuk Islam, sepakat dengan Nabi Muhammad untuk mengutus kepadanya seseorang yang mengambil zakat Bani Mushtaliq. Maka utusan Nabi Muhammad keluar hendak menemuinya. Akan tetapi, dia merasa takut sehingga dia pun kembali. Al-Harits bin Dhirar merasakan sesuatu yang aneh atas ketidakhadiran utusan Nabi Muhammad tersebut.

Baca juga: Antibiotik Virus Hoaks

Ketika itu, utusan tersebut kembali kepada Nabi lalu berkata “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Al-Haris tidak mau membayar zakat kepadaku, malah dia ingin membunuhku”. Mendengar laporan itu, Nabi Muhammad pun marah dan mengutus (beberapa orang) kepada Al-Harits. Para utusan tersebut bertemu dengan Al-Harits di tengah jalan, lalu Al-Harits berkata “Kalian diutus kepada siapa?” Mereka menjawab “Kepadamu”

Al-Harits berkata “Memangnya ada apa?” mereka menjawab “Sesungguhnya Nabi telah mengutus Al-Walid bin Uqbah kepadamu, tetapi kamu tidak memberikan zakatmu kepadanya dan kamu malah ingin membunuhnya” Mendengar perkataan itu, Al-Harits berkata “Tidak. Demi Zat Yang telah mengutus Muhammad dengan haq, aku sama sekali tidak melihatnya dan dia tidak pernah datang kepadaku!”

Maka ketika Al-Harits masuk ke kediaman Nabi Muhammad, Nabi bersabda “Apakah kamu tidak mau membayar zakat dan malah ingin membunuh utusanku?” Al-Harits menjawab “Tidak. Demi Zat Yang mengutusmu dengan haq, aku (sama sekali) tidak melihatnya dan dia tidak pernah datang kepadaku, dan aku tidak pernah menghadap kecuali ketika Nabi Muhammad menahanku, karena aku takut itu akan menyebabkan kemarahan Allah dan Rasul-Nya”.

Baca artikel terkait: Penyebar Hoax dan Hate Speech, Karakter Fasik Modern

Kisah di atas menjadi sebab turun surah Al-Hujurat: 6, yang kurang lebih terjemahannya berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

Melalui pemahaman ayat di atas, Al-Qur’an menyebut Al-Walid bin Uqbah sebagai fasik karena menyampaikan laporan atau berita bohong (hoaks), bahkan sempat merenggangkan hubungan Nabi dengan Al-Harits. Padahal, Al-Walid bin Uqbah adalah orang yang dipercaya Nabi.

Dalam konteks sekarang, keadaan ini juga bisa digunakan untuk menyinggung media berita yang kerap kali menghebohkan Indonesia, karena berita yang disebarkan ternyata adalah hoaks.

Baca juga: Dosa Media Sosial: Ikhtiar Memberantas Penyebaran Hoaks di Media Sosial

Acap kali ada media yang memberitakan (entah  ini masih pantas disebut berita atau tidak) kepada masyarakat, yang ternyata isinya tidak sesuai kenyataan. Mereka hanya mengutamakan banyaknya akses berita yang disebarkan, yang penting viral. Tidak peduli informasinya telah melalui tabayyun atau tidak. Wartawan yang menyebarkan berita semacam ini dalam pemahaman ayat di atas disebut sebagai wartawan yang fasik.

Di era pemberitaan media yang semakin tidak (atau kurang) menjelaskan kebenaran fakta, kita harus lebih mencurigainya daripada mempercayainya langsung. Sikap tabayyun dibangun, agar tidak termakan sensasi hoaks media. Hal ini karena informasi bohong atau hoaks tidak hanya berdampak pada buruknya citra seseorang atau lembaga, tetapi juga merusak hubungan keharmonisan antar sesama manusia, baik dalam beragama maupun bernegara. [] Wallahu a’lam.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals