KH. Abdul Hamid Mersing : Pelopor Pendidikan Pesantren di Tembilahan

KH. Abdul Hamid Mersing merupakan salah satu tokoh perintis pendidikan Pesantren di Tembilahan, Indragiri Hilir.


Sumber gambar: dokumen pribadi penulis

KH. Abdul Hamid Mersing atau akrab dikenal dengan sebutan “H. Hamid Mersing” merupakan buah hati pasangan H. Muhammad bin Alif dan Hj. Fatimah. H. Hamid Mersing adalah anak tertua dari tiga bersaudara, dua adiknya adalah Muhammad Nuh dan H. Abdurrahman. Muhammad Nuh meninggal ketika masih muda, sedangkan H. Abdurrahman menjadi Imam Polis di Mersing Malaysia.

H. Hamid Mersing di lahirkan di Mersing, Johor, Malaysia sekitar tahun 1920. Sejak kecil ia telah mendapat pendidikan agama dari kedua orang tuanya yang berasal dari Batu Mandi, Balangan, Kalimantan Selatan. Namun, ia tidak dapat masuk ke institusi Pendidikan, karena keterbatasan ekonomi orang tuanya yang bekerja menoreh pohon karet. Kendati demikian, keinginan Hamid Mersing untuk menuntut ilmu tidak pernah pudar. Pada usia 13 tahun atau sekitar tahun 1933, ia bertemu dengan Nenek Anggut, seorang kerabatnya yang telah menetap di Teluk Kiambang, Indragiri.

Baca juga: KH. Syarkawi Hasan (1950-2010): Dewan Hakim MTQ Nasional dari Indragiri Hilir

Nenek Anggut inilah orang yang menyarankan dan mengajak agar Hamid Mersing belajar Agama kepada Tuan Guru Sapat Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari di Hidayat Sapat. Hamid Mersing menyetujui ajakan itu, ia-pun ikut dengan Nenek Anggut, ia meninggalkan kedua orang tuanya di Mersing. Sejak saat itulah Hamid Mersing menjadi santri dan khadam Tuan Guru Sapat hingga sang Tuan Guru wafat pada tahun 1939. Jadi, Hamid Mersing belajar kepada Tuan Guru Sapat sekitar 6 tahun (1933-1939).

Setelah Tuan Guru Sapat wafat, beliau dijodohkan dan menikah dengan anak Tuan Guru bernama Maimunah pada tahun 1941. Istrinya ini beliau bawa ke Mersing dan menetap di sana selama 3 tahun. Di Mersing ini istrinya melahirkan anak pertama bernama Syihabuddin, namun meninggal dunia ketika berusia 5 bulan. Di tempat ini pula ia pernah ditawari untuk menjadi Qadhi dan penasehat kerajaan, namun ia menolaknya. Padahal jabatan tersebut memiliki gaji yang besar dan fasilitas yang cukup dari pihak kerajaan. Kemudian beliau kembali ke Hidayat, kemudian ke Sungai Piai, dan pindah ke lagi Tembilahan. Di Tembilahan istrinya melahirkan Hj. Fauziyah, Hj. Masfah, dan Hj. Rabi’atul Adawiyah.

Sejak menetap di Tembilahan H. Hamid Mersing membuka pengajian (babacaan) di rumahnya Jl. Imam Bonjol seberang Masjid At-Taqwa. Pengajian untuk perempuan pada pagi Kamis, sementara pengajian laki-laki pada malam Sabtu. Beberapa kitab yang pernah diajarkan beliau antara lain: Aqaid Al-Iman, Asrar Al-Risalah, dan Amal Makrifah, ketiganya merupakan warisan dari karya guru sekaligus mertuanya, Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari. Selain itu beliau juga mengajarkan kitab Hidayat Al-Salikin karya Syekh Abdul Samad Al-Falimbani dan Sabil Al-Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Selain membuka pengajian di rumah, sekitar tahun 1975. Hamid Mersing juga membangun sebuah sekolah agama bernama Sullam Al-Khair di belakang rumahnya. Ketika itu institusi ini dikenal dengan sebutan “Sekolah Arab”, karena materi dan siswa diajarkan menulis menggunakan aksara Arab dan Melayu. Mata Pelajaran di sekolah ini antara lain Nahwu, Sharaf, Bahasa Arab, Tulisan Arab Melayu, dan Muhadharah. Pada hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj, diadakan lomba-lomba keislaman, seperti lomba adzan, pidato, dan membaca Al-Qur’an.

Bangunan sekolah Sullamul Al-Khair ini terdiri atas dua lantai, siswa yang belum pandai membaca dan menulis di lantai bawah, sedangkan siswa yang sudah bisa membaca dan menulis dipindahkan ke lantai atas. Kebanyakan siswa yang belajar adalah siswa Sekolah Dasar, bila mereka masuk pagi di SD maka mereka akan bersekolah di Sullamul Al-Khair pada siang hari, begitu pula sebaliknya. Tidak ada sistem raport, perangkingan, dan ijazah pada institusi ini. Bahkan siswa yang belajar di tempat itu tidak dipungut biaya sepeserpun. Beberapa orang guru yang pernah mengajar di Sullamul Al-Khair adalah H. Mukrin, Suman, Naurjanah, Marfu’ah, dan anak beliau Hj. Rabi’atul Adawiyah (lulusan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung Bukittinggi).

Pada sekitar tahun 1983, H. Hamid Mersing dan tokoh masyarakat lainnya seperti Abdul Samad Madhal, Zainuddin Siddiq, Abdul Hamid Dasjat dan Abdul Ghafur menggagas berdirinya institusi Pondok Pesantren Sabilal Muhtadin Tembilahan. Beberapa orang guru yang mula-mula mengajar di tempat ini adalah Buya H. Abdul Thaib Saman lulusan Tahtul Yaman Jambi, H. Mukrin, H. Lathif, Syahdan, Aziz, termasuk pula H. Abdullah, dan H. Mukhtar Awang. Beberapa orang lulusan Sabilal Muhtadin yang menjadi tokoh antara lain adalah Dr. H. Syuaib (Dosen UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru) dan Dr. Khairuddin (Dosen UIN Sultan Thaha Jambi).

Baca juga: Pesantren sebagai Intitusi Peradaban Manusia

Pendirian pesantren Sabilal Muhtadin ini semata-mata berasal dari dana pribadi dan swadaya masyakarat sekitar. Pasca kewafatan beliau barulah lembaga ini memakai kurikulum dan bantuan tenaga guru dari Kementerian Agama Kabupaten Indragiri Hilir. Bangunan yang paling awal dibangun adalah tingkat Madrasah Ibdtidaiyah, baru kemudian Tsanawiyah dan Aliyah, bahkan sekarang telah dikembangkan lagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di bawah Yayasan Sabilal Muhtadin. Yayasan ini secara berganti-ganti dipimpin oleh KH. Abdul Hamid Mersing, H. Taufiqurrahman, Lc dan sekarang Dr. H. Ali Azhar.

Alasan utama KH. Hamid Mersing mendirikan lembaga Pendidikan secara pribadi adalah kerena ingin berbagi kepada orang lain yang membutuhkan Pendidikan dan agar bisa mengaturnya sendiri tanpa ada intervensi pihak lain. Sikap perhatiannya terhadap dunia Pendidikan ini tergambar pula ketika beliau membeli rumah di Candung-Bukittinggi sebagai tempat tinggal para santri dari Indarigi Hilir yang belajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). Sehingga di rumah yang dibelinya inilah adik iparnya KH. Muhammad Jamaluddin dan KH. Sa’dullah Hudari menetap, hingga selesai belajar. Kedua tokoh ini menjadi ulama penerusnya di Indragiri Hilir.

Atas perhatian dan perjuangannya di bidang Pendidikan, pada sekitar akhir tahun 1980-an KH. Abdul Hamid Mersing memperoleh penghargaan sebagai tokoh Pendidikan Agama dari Bupati Kabupaten Indragiri Hilir. KH. Hamid Mersing wafat pada usia 72 tahun, lebih tepatnya pada hari Ahad, 11 Jumad Al-Akhir 1413 H/ 6 Desember 1992 M. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Jl. Sabilal Muhtadin, tidak jauh dari Pondok Pesantren Sabilal Muhtadin Tembilahan.

Sumber:

Wawancara dengan Hj. Rabi’atul Adawiyah (kelahiran 1958, Anak Hamid Mersing), 23 Januari 2021.

Wawancara dengan Muhammad Syafi’i (kelahiran 1975, Cucu Hamid Mersing), 23 Januari 2021.

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals