Post-Modernism: Krusialitas Falsifikasi Karl Popper

Salah satu ciri tradisi akademik adalah adanya anomali dalam pegetahuan, ilmu, dan ataupun pemikiran sebuah konsep, yang menjadikannya relatif sepanjang waktu.


Sumber foto: mylifeandrhymes.wordpress.com

Gemericik air tanda tak dalam, jatuhnya buah ke bawah dipersepsikan sebagai daya tarik gravitasi bumi, begitu pun perbedaan-tidak menyatunya minyak dan air. Sederet “pernyataan” diformulasikan oleh sebagian teoritikus, untuk kemudian dijadikan norma pengetahuan (informasi global) seputar pembebasan manusia dari kungkungan status quo (normatif agama). Usut punya usut, tambal sulam pengetahuan terus berjalan menuju ekuivalensinya dengan perencanaan masa depan begitu cerah, sebuah harapan masyarakat transisi (menuju modernis). Sekilas, masa lalu atau bahkan kemarin sore bagi masyarakat yang merasakan, minimal menyadari akan hal itu.

Bukan porsinya (sekarang) untuk mengutamakan sisi kesalahan jalan kaum rasionalis, dikarenakan catatan sejarah membutuhkannya, masa pencerahan. Hanya saja, alangkah baiknya jika mengutamakan apresiasi terhadap “cerita kemarin sore,” menjadi loncatan lebih tinggi (ketajaman ilmu-spesialisasi), sebagai contohnya dokter gigi, dokter jantung, psikiater, konselor, sampai dengan apa yang dinamakan sebagai dukun bayi (indonesian culture).

Sungguh disayangkan, worldview turut andil memperkeruhi keadaan, maksudnya dengan menyuguhkan beragam fenomena baru yang mengejutkan-kalangan primitif, apapun itu berupa serangan biologis, iluminasi, zaman akhir (harapan kehadiran aktor pembela masyarakat agamis), semuanya di luar dugaan. Sedemikian rumit simpul-simpul diciptakan lalu dikencangkan dengan problematika kehidupan, menuju ketertunggalan sistem buatan manusia dengan istilah populer post-modernism, masa di mana penggugatan total atas karya ilmiah berbagai disiplin ilmu, sebuah keniscayaan.

Selanjutnya, siapapun dibenarkan jika menyampaikan argumen, konsep, terlebih aksi nyata demi redefinisi struktur, sistem, komunikasi, kepribadian, kebudayaan, dan alam. Meminimalisir “kecemasan buatan” pada masyarakat atas pola sindikat kambing hitam, kenyamaan sekaligus harmonisasi unsur-unsur yang ada di masyarakat, belahan negara, dan ekosistem alam mendesak untuk dipenuhi. Bersatu padu menyatukan gagasan para intelektual yang diselimuti oleh nilai-nilai keagamaan menjadi alternatif mutakhir, lihat saja diskursus ilmu pengetahuan dan agama, corak dan polemik dua kutub tersebut. Berawal dengan berdiri sendiri, kemudian saling sapa dan pada akhirnya mencoba untuk berintegrasi-interkoneksi.

Polemik mengenai agama dan illmu pengetahuan memang belum ketemu titik laras maupun ujung pangkalnya. Hal ini, pengklasifikasian cara pandang manusia kepada dua terma tersebut dimasukkan dalam empat aliran yang saling berbeda satu dengan lainnya, yakni:

  1. Aliran yang memandang dua term tersebut bersifat konflik. Artinya, satu sama lain saling bertentangan, saling menegasikan, dan berdiri sendiri.
  2. Aliran yang menjelaskan dua term tersebut bersifat kontras. Artinya, memperlihatkan perbedaan nyata apabila diperbandingkan di antara keduanya.
  3. Aliran yang memandang keduanya saling mengkonfirmasi. Artinya, di antara keduanya saling membenarkan, menegaskan, dan mengesahkan.
  4. Aliran yang meyakini bahwa keduanya bersifat integrasi dan interkoneksi. Artinya, keduanya ini bersifat berhubungan, tidak terlepas atau berdiri sendiri (Bagir & Abdalla, 2020).
Baca juga: Paradigma Integrasi-Interkoneksi: Cuma Tinggal Simbol?

Proses pencarian konsep antara agama dan ilmu pengetahuan terus berjalan, seiring dengan empat aliran tadi, dapat kita klasifikasikan lagi dari sisi yang lain, yakni Islamisasi ilmu pengetahuan, Islam sebagai ilmu, serta Islam dan ilmu adalah satu. Namun, dunia akademik saat ini sedang mengembangkan Aliran yang keempat, di mana agama dan ilmu pengetahuan itu pasti berkaitan, agama adalah ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan adalah bagian dari agama.

Pengharapan besar kepada intelektual post-modernism untuk aktif bergeliat, bersifat inklusif sekaligus giat memperbaiki sisi epistemologi sepanjang memotret apa yang telah (history), sedang (up to date), dan akan terjadi (prediction). Progresif terhadap lingkungan biotik (individu, keluarga, komunitas) dan lingkungan abiotik sebagai bentuk perwujudan tanggung jawabnya di bumi (pemulihan kerusakan oleh tangan manusia). Jadi, inilah momentum terbaik bagi ilmuwan post-modernism untuk mengedukasi, menampakkan taring sekaligus merobek-robek kejumudan paradigma akademik.

Salah satu ciri tradisi akademik adalah adanya anomali dalam pegetahuan, ilmu, dan ataupun pemikiran tentang sebuah konsep, yang menjadikannya relatif sepanjang waktu. Mendengar kata relatif itu sendiri sudah tidak asing lagi di masyarakat, bahkan tak jarang ketika duduk santai di warung pojokan sudut kota pun menjadi pembicaraan yang ramah-tamah dengan penjualnya. Menariknya, term relatif ini mudah diselipkan dalam berbagai susunan kata, misalnya perihal cantik, toh cantik itu relatif, cantik itu putih-langsing, hitam-manis, atau bisa jadi ditambahi sifat kental, nah itulah cantiknya susu kental manis cap bendera. Tapi sadarkah kita, bahwa pemahaman-pemahaman manusia seluruhnya bersifat relatif. Mungkinkah? Benarkah? Seperti apakah? Berikut rumus singkat tentang relatif, singkat tapi kontroversial.

Manusia: File Historis (genetic, education, geographic) – Panca Indra – Tahu – Ilmu Pengetahuan – Teori / Metode – Kebenaran – Value – Fakta – Anomali – Panca Indra

Sejatinya, manusia dikaruniai bekal yang kemudian dipengaruhi oleh keturunan, pendidikan, serta kondisi lingkungan sosial-budaya. Setelah melalui beberapa proses di kehidupan, maka kemudian menjadi kebiasaan bagi dirinya. Kebiasaan, menjadi pondasi dasar (sudut pandang) masing-masing individu untuk menilai berbagai macam kejadian dihadapannya, sehingga proses dialektika pemahaman kenyataan dengan di-nyatakan itu terjadi, jadilah manusia itu mengetahui.

Pengetahuan barulah diterima keberadaannya apabila berhasil melalui beberapa prasyarat dalam dunia akademik melalui pengujian (rasional, sistematik, dan berdaya guna), sehingga terciptalah teori dengan ciri khas metodenya tersendiri. Sampai tahap ini, barulah sesuatu itu (statemen, hasil penelitian, pengalaman, dan sejenisnya) dianggap sebagai kebenaran, mempunyai nilai untuk diamalkan. Dan tentunya, sudah menjadi fakta bersama untuk dipatuhi, atau minimal pantas bagi kita meghargainya.

Uniknya, fakta sekarang belum tentu menjadi fakta satu tahun kedepan, bahkan esok hari. Sebagai contohnya “teori evousi manusia,” kalau kita hidup se-zaman dengan pernyataan ini, tentunya kita akan meyakininya. Alhasil, ternyata fakta pun bersifat relatif. Jika fakta sekarang benar, besok bisa jadi sudah salah. Atau menurut segolongan benar, sedang golongan lain tidak mau membenarkannya, bahkan dalam diri kita pun saling kontradiksi mengenai fakta? Maka itulah yang disebut anomali. Whats the meaning of anomaly?

Ringkasnya, anomali diartikan sebagai tidak seperti yang pernah ada, penyimpangan dari yang sudah ada, dan penyimpangan atau kelainan. Kata kuncinya adalah penyimpangan. Ketika fakta bersifat relatif, maka disitulah telah, dijadikan, dan atau terjadi penyimpangan. Maka siklus relatif kembali lagi ke tahap awal, yakni panca indra. Begitu seterusnya sampai pada tataran seseorang meyakini fakta dengan sesungguhnya, adalah proses terakhir dari siklus relatif, tahapan ini bernama falsifikasi.

Krusialitas falsifikasi di zaman post-modernism adalah keniscayaan untuk diformulasikan kembali. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kembali gagasan falsifikasi Karl Popper yang dikontekstualisasikan dengan post-modernism sebagaimana bertolak pada bagian pendahuluan tadi.

Karl Popper merupakan salah satu bagian filsuf dan pemikir paling berpenaruh pada abad ke-20. Berbagai karyanya yang paling terkenal adalah The Logic of Scientific Discovery and The Open Society and Its Enemies. Kedua buku tersebut terus memberikan pengaruh besar kepada para filsuf, ilmuwan, politisi, dan banyak orang lain yang mempunyai kekhawatiran akan masa depan sebuah kebebasan dan demokrasi.

Sosok Karl Popper

Karl Popper lahir di Wina pada tahun 1902. Popper dibesarkan di sebuah kota yang menjadi saksi akan ketergejolakan intelektual yang luar biasa. Buku pertamanya, The Logic of Scientific Discovery, terbit dalam bahasa Jerman pada tahun 1934. Buku tersebut menjadikan sebab putusnya Karl Popper dengan doktrin para ilmuwan dan filsuf dari Lingkaran Wina (Vienna Circle), yang terkenal dan menyajikan banyak argumen yang sangat berpengaruh, dalam sejarah perkembangan teori pertumbuhan ilmu pengetahuan ilmiah. Meskipun pada awalnya Ia termasuk bagian dalam Lingkara Wina. Pada edisi bahasa Inggris tahun 1959, buku itu dijelaskan dalam New Scientist sebagai salah satu dokumen terpenting abad kedua puluh (Jarvie dkk., 2019).

Menjelang Perang Dunia Kedua, kehidupan Karl Popper berubah sangat drastis. Ia dipaksa meninggkalkan Austria karena mendapat ancaman invansi dari Jerman. Ia berimigrasi ke Selandia Baru pada tahun 1937. Kemudian ia mendapat jabatan pengajar di Canterbury University College di Christchurch. Di sanalah, Ia merefleksikan keadaan bagaimana tirani yang sedang melanda Eropa, melaui tulisannya berjudul The Open Society and Enemies, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1945 (Popper & Hansen, 2009).

Pada tahun 1946, Karl Popper menerima undangan untuk mengajar filsafat di London School of Economics, dan di tempat inilah Ia mengajar sampai dengan pensiun pada tahun 1969. Pada masa ini, ia menerbitkan tulisan berjudul The Poverty of Historicism, yang diterbitkan melalui Sunday Times pada tahun 1957. Buku itu sebagai satu-satunya karya yang diterbitkan pada tahun tersebut, dan mempunyai pengaruh lebih lama melampaui abadnya. Karl Popper memperoleh gelar bangsawan pada tahun 1965 dan diangkat sebagai Pendamping Kehormatan pada tahun 1982. Aktivitas produktif menulisnya mampu mempengaruhi pada kolega, siswa, dan teman-temannya hingga Ia meninggal pada tahun 1994 (MILLER, 2017).

Krusialitas Falsifikasi

Gagasan utama terkait falsifikasi Karl Popper berawal dari ketidaksesuaian dirinya dalam apa yang dijadikan dasar ilmu pengetahuan oleh kaum positivisme, terlebih Lingkaran Wina. Tiga terma utama yang dikritik oleh Karl Popper berkaitan dengan preposisi ilmu pengetahuan positivistik, verifikasi metode, dan generalisasi melalui proses induksi. Bagi Karl Popper, ketiga prinsip dasar ini bersifat tentatif dan eksklusif jika dalam perkembangannya tetap digunakan (Harahap dkk., 2019).

Pertama, verifikasi tidak mungkin bisa dijadikan pembenaran terkait hukum umum ilmu pengetahuan. Sebagaimana dalam metafisika, yang diakui akan tidak semuanya mempunyai makna. Kedua, mendasarkan diri pada verifikasi, metafisika menjadi tidak bermakna, namun dalam sejarahnya acapkali ilmu pengetahuan terlahir dari sebab pandangan para ilmuwan yang bersifat irasional-metafisis. Dan ketiga, untuk mengetahui bermakna ataupun tidaknya suatu ilmu pengetahuan, maka terlebih dahulu untuk dimengerti apa adanya, lalu bagaimana mungkin jika tidak mempunyai makna, maka apakah yang disebut teori kemudian (Ulum, 2020).

Apabila menengok ke belakang, ada sebab keterkaitan dengan teori gravitasinya Newton dan Einstein. Teori yang memperkenalkan cara kerja alam, sebagaimana terjadinya pasang-surut air laut, beredarnya planet-planet, rotasi matahari dan bulan, dan sederet kejadian di alam yang memperkuat teori ini. tentu dengan berbagai peristiwa yang  bisa diprediksi sesuai dengan ukuran, mempunyai ketepatan, dan kesesuaian prediksi melalui teori yang telah dibentuk, menjadikan kaum positivis leluasa untuk menampilkan taringnya (Rabiaty, 2019).

Akan tetapi, dalam pandangan Karl Popper tidaklah demikian, Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh bukanlah hasil akhir dari sebuah penjelasan, begitu pula proses verifikasi yang melibatkan empiris manusia, jelas sekali mempunyai kelemahan di berbagai sisinya. Oleh karena itu, Karl Popper mengajukan pandangan baru terkait perumusan ilmu pengetahuan melalui penjelasan ketahanan teori terhadap kritik dan proses penyanggahan lain, dan inilah yang dinamakan falsifikasi.

Selanjutnya, Karl Popper mempunyai ciri berfikir rasionalisme secara kritis-empiris. Baginya, preposisi dalam ilmu pengetahuan bukanlah tertuju pada tataran bermakna atau tidak bermakna saja, sebagaimana pandangan kaum positivis. Akan tetapi, ilmu pengetahuan itu bersifat ilmiah dan tidak ilmiah, sekalipun atomnya Demokritos bersifat non inderawi, tapi tetap bermakna dalam menjelaskan berbagai aspek kehidupan.

Jelasnya, pengamatan dan percobaan selalu dilakukan setiap kali menganalisia pengetahuan. Hal ini sesuai dengan kaidah empirisisme yang memberi keputusan untuk diterima maupun tertolaknya sebuah ilmu berdasarkan pengamatan dan pengalaman melalui pernyataan ilmiah, termasuk ke dalamnya adalah teori dan konsep (Habibah, 2019). Nampaknya, Karl Popper selalu mempertentangkan antara obyektivitas dan subyektivitas terhadap ilmu pengetahuan. Obyektivitas berdiri sendiri tanpa tercampur apapun, sedangkan subyektivitas mempunyai ruang kapasitas dalam keberpengaruhannya atas rasio dan indra manusia.

Sebagai pertegas, Karl Popper menolak cara kerja dari penggunaan metode induksi yang berawal dari observasi. Observasi menjustifikasikan diri atas pengulangan pengamatan untuk memperkuat bukti teorinya. Di sisi lain, jika terdapat orang lain dengan pandangan berbeda atas pembuktian awal secara observasi, maka dinilaikan tidak bermakna, atau menyimpang dalam apa yang sudah dibuktikan sebelumnya (Frederick, 2020). Bagi Karl Popper, tidaklah demikian cara kerja atas metode ilmu pengetahuan, melainkan proses pengulangan dengan diuji cobakan atas penanggalan berbagai peristiwa lain yang bersifat melemahkan pembuktian awal adalah niscaya. Beginilah jika proses induksi tergambarkan, dan selanjutnya bagaimana Karl Popper mengajukan alternatif lain untuk menjelaskan metode tersendiri.

Gambar 1. Proses induksi dalam ilmu pengetahuan

Melalui gambaran proses induksi yang menjadikan teori umum, untuk kemudian dijadikan dasar dalam menentukan deduksi terhadap setiap kejadiaan. Sederhananya, setiap kejadian dapat diprediksi dan dijelaskan lebih dini sebelum kejadian itu benar-benar terjadi (Komarudin, 2016). Kemudian, Karl Popper mengajukan metode lain yang disebutnya sebagai falsifikasi, berikut gambaran cara kerjanya

Gambar 2. Siklus falsifikasi ilmu pengetahuan

Dari gambaran siklus relatif, menjadi jelas bahwa kritik terhadap teori atau preposisi ilmu pengetahuan adalah keniscayaan. Bagaimanapun juga para ilmuwan beserta teori yang telah digagasannya, tidaklah sesuai jika menghindari adanya falsifikasi terhadapnya. Falsifikasi bukanlah menghancurkan apa yang sudah ada, melainkan memperkuat dan atau menambal sisi ruang yang perlu diperbaiki. Ruang tersebut dalam pandangan Karl Popper mencakup apa yang dinamakan sebagai pandangan tiga dunia.

Sebagai penutup dari sisi ruang yang perlu diperbaiki, Karl Popper mendefinisikannya melalui tiga dunia yang terkait satu sama lain, disebut juga obyektifitas ilmu pengetahuan. Adapun dunia kesatu merupakan dunia fisik dengan segala apa yang melingkupi darinya, termasuk benda fisik yang organis maupun nonorganis. Dunia kedua merupakan seluruh dunia mental pada manusia, mengenai kesadaran dan kejadian psikis yang bersifat subjektif. Dan, dunia ketiga adalah dunia objektif hasil terkaan atau produk human mind, di sisi lain juga disebut sebagai seluruh hipotesa, hukum, konsep dan, teori hasil pemikiran subjektif, kerjasama antara dunia kesatu dan dunia kedua (Habibah, 2019).

Gambar 3. Hubungan ketiga dunia (dunia 1, 2 dan 3)

Hubungan ketiga dunia itu saling terpadu, yakni dunia satu berhubungan dengan dunia dua, dunia dua berhubungan dengan dunia tiga. Tetapi dunia satu tidak dapat berhubungan langsung dengan dunia tiga, melainkan melalui dunia dua terlebih dahulu. Hubungan ketiga dunia dapat dijelaskan melalui benda fisiologis (duna 1) yang berhubungan dengan benda psikologis (dunia 2) secara langsung, dan benda fisiologis (dunia 1) juga dapat berhubungan dengan benda logis, namun melalui benda psikologis (dunia 2). Ketiga hubungan itu menunjukkan bahwa manusia berhubungan dengan dunia tiga hasil ciptaannya, adapun terhadap dirinya bersifat evaluatif, kritik-mengkritik terus terjadi. Maka dari itu, dunia tiga pada asalnya bersifat otonom, sesuai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu dalam menemukan, mengkonsep dan mempersepsikan terhadapnya (Binar Kurnia Prahani dkk., 2020).

Contoh konkret dari hubungan ketiga dunia dapat terlukiskan ketika ada seorang gadis yang sedang duduk di bangku taman. Sembari meneguk kopi hangat di genggaman tangannya, Ia memandang seekor angsa yang sedang berdiri di pinggiran kolam ikan dan berada persis di depannya. Selang beberapa menit kemudian, angsa tersebut memperoleh ikan dari kolam tadi dan kemudian membawanya jauh-jauh ke tempat sunyi untuk mengamankan hasil tangkapannya. Jika dianalisis melalui tiga dunia Karl Popper, maka akan nampak jelas bahwa posisi si gadis yang sedang duduk di bangku taman menggambarkan pada dunia kesatu, sedangkan proses pengamatan si gadis terhadap angsa yang sedang mencari mangsa berupa ikan di kolam adalah dunia kedua, dan mempunyai persepsi bahwa angsa kabur untuk mencari tempat aman setelah mendapatkan mangsa adalah dunia ketiga. Di sini jelas tergambarkan, manakala posisi si gadis yang berada di bangku taman berhubungan dengan kaburnya angsa untuk menyelamatkan mangsa hasil tangkapannya, akan terdefinisikan secara jelas jika melalui tahapan dunia kedua, yakni persepsi si gadis terhadap seekor angsa dengan hasil tangkapannya.

Baca juga: Pengembangan Ilmu Agama Berbasis Riset dalam Menghadapi Tantangan Era Industri 4.0

Benang Merah

Post-modernism sebagai lonceng kematian dari modernism, adalah perubahan pada cara dan pola interaksi dalam berbagai aspek kehidupan manusia, satu di antaranya terjadi pada tradisi ilmu pengetahuan. Kebenaran sekarang, di tempat tertentu, dengan cara tertentu dan berbagai embel-embel yang melingkupinya, akan bersifat naif jika menjustifikasikan diri sebagai kebenaran tunggal dan komprehensif. Artinya, sebuah gagasan, konsep dan ataupun teori haruslah bersikap terbuka dan siap untuk menerima kritik dari manapun asalnya. Hal demikian tidak lain untuk menguji kekuatan, kebergunaan dan kebaruan dalam merespon perkembangan zaman. Satu di antara sekian banyak tokoh beserta pemikiran yang relevan untuk menengahi problematika post-modernism dalam tradisi ilmu penetahuan adalah falsifikasi Karl Popper.

Gagasan falsifikasi Karl Popper berawal dari ketidaksetujuannya terhadap tiga pokok bahasan kaum positivistik dalam Lingkaran Wina. Ketiga pokok bahasan tersebut meliputi preposisi ilmu pengetahuan, verifikasi metode, dan generalisasi. Menurutnya, ilmu pengetahuan berupa teori, masuk dalam tataran ilmiah dan tidak ilmiah, dapat diujicobakan dan bersifat terbuka untuk dikritik (sebagai bentuk pembuktian lanjut, penguatan, pengembangan, dan penemuan teori baru), dan harus jeli ketika membedakan mana yang objektif sekaligus subjektif. Poin terakhir ini dijelaskannya melalui penjelasan konsep tiga dunia yang saling terkait satu sama lain, dunia satu berhubungan dengan dunia dua, dunia dua berhubungan dengan dunia ketiga, dan dunia kesatu berhubungan dengan dunia ketiga melalui perantaraan dunia kedua.

Kemudian, melihat perkembangan zaman yang menuntut kebenaran sejati, adalah niscaya untuk menggunakan falsifikasi dari Karl Popper sebagai alternatif dalam dunia akademik. Selain sebagai acuan dasar bagi para ilmuwan untuk mengerti duduk perkara setiap gagasa, konsep dan teori ilmu pengetahuan, falsifikasi membuktiakan diri untuk bersikap dinamis menanggapi perubahan dan perkembangan zaman. Tentunya, kalangan akademisi mempunyai kewajiban untuk mencermati geliat post-modernism melalui kacamata falsifikasi Karl Popper.

Sumber Referensi :

Bagir, H., & Abdalla, U. A. (2020). Sains “Religius” Agama “Saintifk”: Dua Jalan Mencari Kebenaran (Pertama). Mizan.

Binar Kurnia Prahani, Sayidah Mahtari, Suyidno, Joko Siswanto, & Wahyu Hari Kristiyanto. (2020). Metaphysics in a Review of “Karl Popper’s Philosophy of Science” (Rationality Without Foundations) by Stefano Gattei. IJORER : International Journal of Recent Educational Research, 1(3), 314–318. https://doi.org/10.46245/ijorer.v1i3.58.

Frederick, D. (2020). Falsificationism and the Pragmatic Problem of Induction. Organon F, 27(4), 494–503. https://doi.org/10.31577/orgf.2020.27405.

Habibah, S. (2019). PARADIGMA POPPERIAN. DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora, 6(2), 303–318.

Harahap, R., Hasibuan, A. T., Sirait, S., Yuliawati, F., & Lubis, N. (2019). Teori Falsifikasi Karl Raimund Popper dan Kontribusinya Dalam Pembelajaran IPA Bagi Siswa Usia Dasar. MAGISTRA: Media Pengembangan Ilmu Pendidikan Dasar dan Keislaman, 10(2), 166. https://doi.org/10.31942/mgs.v10i2.3106.

Jarvie, I. C., Milford, K., & Miller, D. (2019). Karl Popper: A centenary assessment. Volume I, Volume I,. https://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&scope=site&db=nlebk&db=nlabk&AN=2154563.

Komarudin, K. (2016). Falsifikasi Karl Popper Dan Kemungkinan Penerapannya Dalam Keilmuan Islam. At-Taqaddum, 6(2), 444–465.

MILLER, D. (2017). OUT OF ERROR: Further essays on critical rationalism. ROUTLEDGE.

Popper, K. R., & Hansen, T. E. (2009). The two fundamental problems of the theory of knowledge (A. Pickel, Penerj.). Routledge.

Rabiaty, R. (2019). EPISTEMOLOGI KARL RAYMOND POPPER DAN KONSTRIBUSINYA PADA STUDI-STUDI KEISLAMAN. Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan, 19(1), 42–57.

Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran (A. Fawaid & R. Kusmini P, Penerj.; Keempat). (2019). Pustaka Pelajar.

Ulum, B. (2020). INKLUSIFISTAS PEMIKIRAN DAN PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP PERSPEKTIF KARL R. POPPER. At-Tajdid : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, 4(01), 75. https://doi.org/10.24127/att.v4i01.1225.

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
22
Suka
Ngakak Ngakak
5
Ngakak
Wooow Wooow
20
Wooow
Keren Keren
17
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Artipedia

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals