Upaya Merengkuh Al-Quran (Bagian 1)

Membaca ulang ayat-ayat Al-Quran memperoleh pemahaman baru, mengembangkan gagasan, menambah kesucian jiwa dan kesejahteraan batin.


Al-Quran adalah pangkal dan ujung Islam. Generasi awal Islam mencapai peradaban adiluhung karena berpegang pada Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Mereka memperoleh kemudahan untuk meneguk nilai-nilai Al-Quran karena Al-Quran berbahasa Arab. Sungguhpun begitu, tidak semua orang yang mengetahui bahasa Arab dengan serta-merta menerima pesan Al-Quran. Di sini kita mengakui campur tangan Tuhan dalam keberimanan atau ketidakberimanan seseorang terhadap risalah Al-Quran.

Kendati berbahasa Arab, Al-Quran ditujukan kepada segenap umat manusia sepanjang masa. Kami tidak mengutus engkau, Nabi Muhammad saw, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa kabar gembira (bagi mereka yang melaksanakan tuntunan yang engkau sampaikan), dan pemberi peringatan (bagi yang enggan mempercayaimu), tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui (bahwa engkau adalah utusan Allah swt. (QS 34:28).

Bahasa Al-Quran jernih dan jelas, sehingga orang yang tidak terpelajar sekalipun, dapat memahami dan mengambil manfaat pesan-pesannya (Abdullah Yusuf Ali). Al-Quran pun memuaskan dahaga semua kalangan dan lapisan masyarakat manusia, baik anak-anak, remaja, orang dewasa, maupun lanjut usia. Al-Quran juga memuaskan orang-orang awam, orang-orang kelas menengah, maupun kalangan atas kaum intelektual.

Al-Quran membersihkan akal dan menyucikan jiwa; mengajarkan hidup bermasyarakat dan berbangsa; membasmi kemiskinan, kebodohan, penderitaan dan kezaliman; menggabungkan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang; memberi jalan tengah antara falsafah monopoli kapitalisme dan falsafah kolektif komunisme; menekankan peranan ilmu dan teknologi seiring jati diri manusia.

Wahyu Al-Quran pertama adalah Iqra’! Bacalah apa saja yang dapat dan patut dibaca; telitilah, selamilah, ketahuilah dengan saksama; pandanglah alam, perhatikan tanda-tanda zaman dan diri sendiri, yang tersurat maupun yang tersirat (M. Quraish Shihab).

Siapa yang membaca Al-Quran dengan sungguh-sungguh akan menemukan makna tertentu dalam ayat-ayatnya. Bila ia membacanya lagi, ia akan menemukan makna-makna lain. Membaca ulang ayat-ayat Al-Quran memperoleh pemahaman baru, mengembangkan gagasan, menambah kesucian jiwa dan kesejahteraan batin. Al-Quran ibarat sebuah permata yang memancarkan cahaya berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang pembacanya. Al-Quran adalah lautan tak bertepi; sumur tanpa dasar.

Al-Quran diwahyukan bertahap dalam rentang waktu 23 tahun. Hasil penelitian seorang  guru besar Harvard University pada 40 negara, untuk mengetahui faktor kemajuan dan kemunduran negara-negara itu, bahwa salah satu faktor utamanya adalah materi bacaan yang disuguhkan kepada generasi mudanya.

Para generasi muda suatu Negara dibekali dengan sajian dan bacaan tertentu. Setelah 20 tahun berlalu mereka berperan demikian rupa dalam berbagai aktivitas atas pengaruh bahan bacaan yang disuguhkan itu. Demikian pulalah bacaan menampakkan dampaknya sepanjang waktu penurunan Al-Quran!

Interaksi dengan Al-Quran paling elementer adalah melihat, memegang, membuka, mendengarkan dan membacanya. Pengalaman tersebut ditindaklanjuti dengan mempelajari isinya dan mengamalkannya. Interaksi dengan Al-Quran melahirkan sejumlah ilmu pengetahuan seputar Al-Quran yang terhimpun dalam Ulumul Quran.

Nabi Muhammad saw menerima wahyu Allah swt melalui malaikat Jibril. Beliau kemudian membacakannya kepada para sahabat dan meminta mereka menuliskannya. Pengumpulan Al-Quran dilakukan Abu Bakar ash-Shiddiq atas usulan Umar bin Khaththab dan disempurnakan pada masa Utsman bin Affan.

Perintah membaca Al-Quran menginspirasi lahirnya lembaga pendidikan Al-Quran tingkat kanak-kanak, Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) dan pesantren-pesantren untuk pendidikan Al-Quran tingkat menengan hingga perguruan tinggi. Dimulai dengan belajar membaca kata demi kata dan ayat demi ayat hingga menghafal Al-Quran, sebagian maupun seluruhnya, dan mengkaji ilmu-ilmu bantu dan kandungannya.

Untuk mengajarkan membaca Al-Quran disusunlah buku-buku praktis cara belajar membaca Al-Quran, semisal buku Qira`ati oleh Ustadz KH Dahlan Salim, Iqro`: Cara Cepat Belajar Membaca Al-Quran  oleh Ustadz KH As’ad Humam, Yambu’ul Quran, Al-Barqi, dan 10 Jam Belajar Membaca Al-Quran karya penulis.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Istanthiq al-Quran – Persilakan Al-Quran berbicara.” Ayah Muhammad Abduh berpesan, “Bacalah Al-Quran seolah-olah ia diturunkan kepadamu!” dan ayah Mohammad Iqbal berwasiat, “Bacalah Al-Quran dan siarkanlah ke seluruh penjuru dunia!” “Untuk memahami kandungan Al-Quran, tidak cukup kita membacanya empat kali sehari,” kata Abul A’la al-Maududi dalam pendahuluan Tafhimul Quran. Nashr Hamid Abu Zaid menulis, “Bacalah Al-Quran seakan-akan ia sedang diturunkan sekarang!”

Sejak Nabi Muhammad saw mengajarkan Al-Quran, para sahabat mulai menghafal ayat-ayat Al-Quran secara bertahap. Mereka saling membantu dan berbagi hafalan. Di antara mereka Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, ‘Amr bin ‘Ash, Abdullah ibn ‘Amru, Mu’awiyah, Ibnu Zubair, ‘Aisyah, Hafshah, dan Ummu Salamah dari kalangan Muhajirin, dan Ubay ibn Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darda`, dan Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhum dari kalangan Anshar.

Tradisi menghafal Al-Quran dipelihara turun-temurun sepanjang zaman, baik oleh bangsa-bangsa yang berbahasa Arab maupun yang bukan berbahasa Arab, termasuk bangsa Indonesia. Allah swt telah memudahkan lafazh Al-Quran untuk dibaca dan dihafal, dipahami, direnungkan dan diamalkan (Al-Qamar/54:17). Petunjuk-petunjuk Al-Quran yang sederhana mengenai perilaku jelas dan mudah dimengerti dan dipraktikkan.

Tradisi menghafal Al-Quran di Indonesia telah berlangsung lama. Pada awalnya dilakukan oleh para ulama yang belajar di Timur Tengah melalui guru-guru mereka. Kecenderungan untuk menghafal Al-Quran kian meningkat. Para alumni Timur Tengah, khususnya dari Hijaz (Mekah-Medinah) membentuk lembaga-lembaga tahfizh Al-Quran dengan mendirikan pondok pesantren khusus tahfizh atau membelajarkan tahfizh Al-Quran di pondok pesantren yang telah ada.

Di antara ulama Indonesia yang menekuni tahfizh Al-Quran ialah KH Muhammad Sa’id bin Ismail Sampang Madura, KH Muhammad Munawwar Gresik, KH Muhammad Mahfuzh At-Tarmasi Pacitan, KH Muhammad Munawwir Krayak Yogyakarta, KH Dahlan Khalil Rejoso Jombang. Dari kelima ulama inilah berkembang para huffazh dan pesantren tahfizh di Indonesia.

Ulama lain yang dikenal hafal Al-Quran tetapi tidak menjadi sumber sanad dalam bidang ini di antaranya KH Khalil Bangkalan Madura, KH Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan KH Hasyim Asy’ari Jombang.

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals