Memaknai Sebuah Musibah

Sejatinya musibah dapat ditelusuri penyebab terjadinya secara rasional. Bisa jadi musibah yang terjadi adalah karena kita tidak antisipatif, kita tidak peduli, dsb.


allevents.in

Dalam KBBI, ada dua makna musibah. Pertama, musibah adalah kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa. Kedua, musibah bearti malapetaka; bencana. Makna kata musibah tersebut juga sejalan dengan kata musibah yang ada dalam bahasa Arab dengan asal kata asâba-yusîbu-musîbatan yang bearti mengenai, menimpa, atau membinasakan. Kata tersebut juga bermakna al-baliyyah (kemalangan) atau kejadian yang tidak diinginkan.

Makna etimologis kata musibah di atas juga sejalan dengan sebuah hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh at Tabrani “Apa yang menimpa manusia berupa yang tidak dikehendakinya, itu namanya musibah.” Dalam al-Mîzân fî Tafsîr al-Qur’ân, Muhammad Husain al-Taba’taba’imenjelaskan bahwa musibah adalah kejadian apa saja yang menimpa manusia yang tidak dikehendakinya dan berakibat negatif, seperti: penyakit, kerugian dalam bisnis, kehilangan keluarga yang dicintai, bencana alam, kalah perang, ppaceklik, dan lain sebagainya (Taba’taba’i, 1983: 353).

Pertanyaanya, apa sih hakikat sebuah bencana? Kenapa musibah datang bertubi-tubi dalam hidup? Bagaimana kita memaknai musibah sehingga kita bisa menyikapinya sebagai seorang beriman? Tulisan Hadi Wiryawan ini akan menjelaskan tiga hakikat musibah yang menimpa manusia.

***

Musibah pada dasarnya dilatarbelakangi karena tiga faktor, yakni:

1. Musibah (Bencana) Merupakan Takdir Allah

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah” (QS. al-Hadid: 22).

Mengenai takdir yang telah Allah tuliskan di Laul Mahfudz, hal tersebut agak rumit untuk dijelaskan sebab terdapat beberapa dalil-dalil yang sepintas saling bertentangan satu sama lain. Maka untuk menjawab kerumitan ini, sebagian ulama kemudian membagi takdir (qadla’) menjadi dua macam, yakni:

Pertama, takdir mubram, yaitu takdir yang sudah paten tidak dapat diubah dengan cara apa pun. Misalnya takdir harus lahir dari orang tua yang mana, di tanggal berapa dan lain sebagainya yang sama sekali tidak ada opsi bagi manusia untuk memilih. Kedua, takdir mu’allaq, yaitu takdir yang masih bersifat kondisional sehingga bisa diubah dengan ikhtiar manusia. Misalnya takdir miskin dapat diubah dengan doa dan kerja keras, takdir sakit dapat diubah dengan doa dan berobat, dan sebagainya yang melibatkan ruang usaha bagi manusia.

Dalam ayat lain diterangkan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. al-Baqarah: 155).

Adapun mengenai ayat di atas, Allah memberikan ujian kepada hambanya baik dari segi ketakuan, kelaparan, kekurangan harta, dan sebagainya dalam rangka untuk meningkatkan kualitas manusia. Karena biasanya seseorang untuk menjadi manusia yang hebat harus ditekan atau dijui terlebih dahulu dengan berbagai kesakitan berupa ujian (great pain). Dalam konteks ini kita bisa menjadikan Jepang sebagai contoh. Sebagaimana maklum, ketika Perang Dunia kedua, mereka mendapatkan serangan yang begitu dahsyat dari pihak musuh dengan dibomnya kota Hirosima dan Nagasaki. Meskipun serangan tersebut membuat mereka lumpuh kala itu, Namun hal tersebut pada akhirnya justru membuat Jepang berusaha meningkatkan kualitas manusiamya dengan berusaha bangkit mengatasi masalah.

Baca juga: Bencana dan Azab: Serumpun Namun Tak Sama

Begitulah, manusia itu banyak yang justru tumbuh karena berbagai musibah. Jika dilihat secara psikologis alami, sesungguhnya pertumbuhan manusia itu selalu ada fase-fase kritis karena sudah menjadi fitrah dalam kehidupannya. Jadi, semestinya kita berpandangan positif terhadap tragedi apapun, karena manusia itu pada dasarnya punya daya survive yang tinggi. Hewan ditimpa musibah pasti punah, akan tetapi manusia jika ditimpa musibah justru pertumbuhan peradabannya naik terus menerus.

Dengan adanya musibah, kita akan berfikir “apa faktor salahku? Dan, apa yang harus kulakukan?” Maka dengan itu nanti kemudian kita dapat menemukan celah untuk menutupi kekurangan.

2. Bencana Akibat Kezaliman dan Kedurhakaan

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلٰٓى اَنْ يَّبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّنْ فَوْقِكُمْ اَوْ مِنْ تَحْتِ اَرْجُلِكُمْ اَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَّيُذِيْقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami(nya).” (QS. al-An’am: 65)

Dalam ayat lain dikisahkan:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًا ۗفَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Ankabut: 14)

Selain dari ayat-ayat Al-Qur’an di atas, masih banyak ayat lain yang menjelaskan tentang terjadinya bencana oleh sebab kezaliman dan kedurhakaan manusia. Seperti kisah kaum Saba yang pada awalnya diberkati dengan negeri yang makmur, kemudian dikarenakan kaumnya berpaling menyekutukan Allah, maka Allah kirimkan hama-hama di negeri tersebut sehingga aliran air tercemar, tanahnya tandus, dan tidak ada lagi yang bisa dimakan di negeri tersebut (QS. Saba: 14-19), atau penjelasan mengenai azab berupa angin topan yang ditimpakan kepada kamu ‘Ad, seperti yang dijelaskan dalam surah al-Haqqah: 6-7), (az-Dzariyat: 41-42) dan (al-Qamar: 34).

Sudah menjadi fitrah, kezaliman dan kedurhakaan dapat melahirkan musibah yang buruk. Andaikan seseorang berbuat zalim dengan membunuh orang lain, maka ada kemungkinan orang lain juga akan membalas dengan hal sama.

Contoh lainnya, sebut saja narkoba. Orang yang menggunakan narkoba kemungkinan akan merusak keluarganya, lingkungan sekitarnya, dan minimal merusak dirinya sendiri. Artinya, kezaliman dalam bentuk apapun, meskipun pada awalnya tidak membahayakan, pada akhirnya ia akan memberikan akiabt negatif pada orang-orang sekitarnya, termasuk pada lingkungannya.

3. Bencana Akibat Ulah Manusia

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. ar-Rum: 41).

Ayat lain juga menegaskan:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syura: 30)

Berdasarkan ayat di atas, sejatinya musibah yang buruk sebenarnya bisa jadi karena ulah keserakahan dan kelalaian “tangan-tangan” manusia itu sendiri. Bukankah kita bisa memperhatikan bahwa musibah banjir di beberapa daerah yang ada di Indonesia adalah akibat dari serakahnya beberapa oknum dalam menebangi hutan dan juga karena kelalaian dalam membuang sampah? Lantas akhirnya malah menybabkan kerugian pada banyak orang.

Setelah mengetahui hakikat musibah di atas, lantas apa refleksi yang bisa kita ambil?

Baca juga: Luasnya Cakupan Sabar dalam Kehidupan

Sejatinya setiap musibah dapat ditelusuri penyebab terjadinya secara rasional. Bisa jadi musibah yang terjadi adalah karena kita tidak antisipatif, kita tidak care (peduli), kita tidak mencintai alam, atau kita lupa bahwa ini adalah amanat dari Allah. Seperti alam di Indonesia yang banyak telah dirusak dengan cara dibakar, dan sebagainya, yang pada akhirnya merugikan masyarakat umum.

Jika sudah seperti ini, maka tugas kita adalah melakukan “taubat”, dalam arti secara metafisik kita taubat kembali kepada Allah, dan taubat secara fisik dalam artian kembali kepada jalan yang benar untuk menjaga diri dan peduli pada orang-orang sekitar dan juga lingkungan, tempat di mana kita hidup. Tidak cukup kembali kepada Allah tetapi yang empiris tidak diselesaikan, dan tidak cukup juga kembali kepada empiris namun melupakan dimensi spiritual. Dua dimensi itu saling berkaitan. []

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
5
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Hadi Wiryawan

Master

Hadi Wiryawan, Lahir di Sambas, Kalimantan Barat 23 November 1999. Saat ini menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Prodi Ilmu Hadis Orcid ID : https://orcid.org/0000-0002-7620-6246

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Hikmah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals