Kertas Azimat Penanda Mitologis Paling Laris

Azimat atau rajah yang berbahan kertas itu juga dapat memberi efek positif bagi pemakainya, tergantung bagaimana ia dikonstruksi dan dialamatkan.


Belum lama ini kita dihebohkan oleh sebagian kecil peserta CPNS yang ternyata menggunakan azimat. Mereka mengakui memakai azimat guna mendapatkan hoki selama proses seleksi. Bagi peserta CPNS yang tentu merupakan lulusan perguruan tinggi itu, mengantongi azimat berarti mengharapkan datangnya keberuntungan.

Saya tak mempermasalahkan penggunaan azimat dalam tes CPNS hanya karena dianggap mayoritas pengguna sebagai irasional, mistis, dan bahkan mengironikan pemakainya yang dianggap sarjana itu. Tak pula memversuskan antara akal sehat dan klenik yang barangkali di tengah masyarakat modern dibenturkan secara dikotomis. Apalagi mendudukkan keduanya secara hitam-putih: kalau azimat datang dari kepercayaan tradisional, sementara masyarakat kekinian wajib rasional. Tidak.

Saya tertarik untuk mewacanakan bahan baku azimat itu yang ternyata dari kertas. Sekalipun uraian tertulis maupun sketsa visual di atasnya dibubuhkan secara beraneka, tegantung dari kode kultural macam apa yang dipakai. Kertas azimat, sepemahaman saya, kadang diambilkan dari HVS berukuran kuarto dan sering kali juga disobekkan dari amplop. Sebelum menjelaskan fenomena ini lebih luas, saya sepintas akan menceritakan pengalaman saya, sebuah memori di masa kecil yang terngiang sampai sekarang: ternyata kertas azimat yang penuh energi mistis itu dibuat dari kertas yang tak saya bayangkan sebelumnya.

Waktu masih berada di bangku sekolah dasar kelas satu, saya di waktu dini hari sering meracau, penuh ketakutan tanpa sebab. Orang tua saya yang menyaksikannya dan kemudian membangunkan untuk menanyakan, “Kamu kenapa, Nak?” Kata mereka, ketika mengigau, saya menunjuk suatu sudut di ruangan dengan penuh cemas. Saya dianggap hanya bermimpi buruk, sehingga bukan mengherankan bila bereaksi begitu.

Namun, kejadian itu beruntun sampai seminggu berikutnya. Orang tua saya cemas, sedang saya sendiri masih fobia tidur di kamar. Seminggu setelahnya saya diantar ke “orang pintar” di sebuah dusun terpencil, perbatasan Klaten dan Gunung Kidul, yang kami tempuh selama sejam menggunakan sepeda motor. Selama perjalanan saya diminta orang tua untuk menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi dan menimpa saya waktu malam hari.

Sesampainya di tempat, saya masih malu-malu masuk ke rumah klasik itu, sebuah rumah bercorak joglo kuno, yang kayu jatinya berwarna cokelat tanpa cat—menandakan kemewahan tradisional yang kini mulai digandrungi lagi. Saya lupa nama “orang pintar” itu. Yang jelas orang tua saya langsung mengenalkan diri. Belum menyebut maksud kedatangan kami, ia langsung mengangguk tanda paham. Ia seperti membaca gestur dan mimik kami. Dari sana ia kemudian lekas memahami apa yang terjadi.

Singkat cerita, orang pintar itu masuk ke kamar, sekitar 15 menit, dan keluar-keluar membawa secarik kertas kecil berukuran seperti bungkus rokok. Kertas itu saya lihat dibalut dengan plastik dengan bubuhan aksara Arab serta angka-angka yang tak saya ketahui makna literalnya. Ia meminta kertas itu untuk ditempelkan ke sudut yang sering saya tunjuk manakala meracau kala dini hari.

Orang tua saya langsung melakukan perintah itu tanpa berpikir dua kali. Keesokan harinya saya tak mengigau lagi. Setelah kejadian itu, tak ada lagi pengalaman-pengalaman mistis pada dini hari yang saya alami. Tetapi ada hal yang mengganjal dan belum terjawab sepenuhnya. Baru mengetahui nama kertas itu dan kode-kode kultural apa yang ditulis di atasnya ketika menginjak sekolah menengah atas. Teman saya yang menceritakannya karena ia pernah mondok di sebuah pesantren tradisional di Barat Yogyakarta.

Teman saya berkata, sewaktu di pesantren, azimat semacam itu dinamakan rajah. Orang pesantren, khususnya yang masih memegang kuat tradisi Jawa sepuh, masih melakukan praktik itu tatkala hendak menempuh suatu laku di luar kebiasaan konvensional. Sebagai contoh, saat ingin ujian tahunan, rajah dibuat sebagai bentuk energi tambahan di luar “akal sehat” yang beroperasi untuk membantu pembuatnya.

Ia sering berhasil dalam ujian saat membawa rajah. Di luar faktor-faktor rasional seperti habitus belajar yang ditempuhnya secara ketat, rajah bagi kawan saya itu masih dipercaya kuat. Menurutnya, rajah bisa dibuat dari kulit kayu ataupun kulit binatang. Dapat pula menggunakan kertas. Bahan dasar itu bisa beraneka rupa tergantung kehendak tertentu sang pembuat.

Bagi saya pribadi, ada satu hal yang menarik, yakni bahan baku rajah atau azimat. Ia terbuat dari bahan dasar kertas yang acap ditemui banyak di sekitar kita. Barangkali sebagian besar dari kita tak mengetahui fenomena ini, tetapi di pelosok dusun-dusun, rajah atau azimat yang terbuat dari kertas ini lazim dipraksiskan sebagai ekspresi kebudayaan.

Saya menyebut ini sebagai ekspresi kebudayaan karena corak tulisannya yang mengakar dari kebiasaan masyarakat kita di masa silam. Tulisan maupun motif visual di atas kertas rajah atau azimat itu, bila dibaca secara cermat, terkadang menggunakan aksara Jawa atau Arab Pegon. Bahkan kombinasi dari keduanya dengan bubuhan angka-angka berkomposisi misterius. Saya anggap misterius sebab biasanya hanya dapat dibaca sendiri oleh sang pembuat.

Kode-kode kultural inilah yang menarik diteliti lebih lanjut, baik menggunakan perspektif etnografis maupun semiotis. Pertanyaan berikutnya, kenapa kertas digunakan sebagai bahan dasar? Tentu saja jawaban atas pertanyaan ini begitu banyak, tergantung dari interpretasi versi mana yang kita pakai.

Bagi saya pribadi, kertas itu serupa medium yang mampu menampung kemungkinan-kemungkinan di luar pengetahuan konvensional. Bagi masyarakat umum kertas adalah media tempat pengetahuan itu diikat, bahkan dikonstruksi, agar ia melintasi ruang dan waktu, sehingga dapat terwariskan secara turun-temurun.

Kendati demikian, kertas itu juga serupa medium yang netral yang energi-energi atas tulisan yang dibuat mencapai titik fungsionalitasnya. Ia mampu mengikat energi-energi itu dengan beragam kepentingan sang pembuat, khususnya dialamatkan sebagai peruntungan.

Kertas di sini, menurut saya, serupa air, yang kedudukannya sebagai medium untuk menyembuhkan ataupun menyengsarakan. Anda pernah mendengar air yang didoakan dapat menyembuhkan? Peneliti di Jepang, Dr. Masaro Emoto, pada tahun 2013, membuktikan itu. Air dikatakan dapat mendengarkan doa-doa positif, sehingga tak mengherankan bila ia memberi efek baik bagi peminumnya. Saya pikir kertas juga berposisi demikian.

Azimat atau rajah yang berbahan kertas itu juga dapat memberi efek positif bagi pemakainya, tergantung bagaimana ia dikonstruksi dan dialamatkan.

Kertas berisi tulisan-tulisan mitologis di sana menyiratkan kebaikan dan keburukan, namun yang patut dipahami bersama, ia berkedudukan netral karena hanya sebagai medium semata. Betapa kertas memiliki jangkauan tak terduga sebagaimana kita pahami selama ini. Inilah kehebatan kertas yang saya kira menarik dilihat dari perspektif nonkonvensional.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals