Rekonstruksi Identitas: Pandai Menyikapi Politik

“Jika kau ingin menguasai orang-orang bodoh, maka bungkuslah segala sesuatu yang bathil dengan kemasan agama”


gambar: inadis

Kontestasi perpolitikan di bumi pertiwi akhir-akhir ini kian bergejolak. Utamanya pelaksanaan pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) di tahun 2019 ini dilakukan secara serentak. Tujuh belas April akan menjadi saksi bisu dari efouria Pemilu yang nampak lebih atraktif dan memberi kesan sedikit agak rumit.

Pasalnya khalayak masyarakat dituntut untuk memberi kepercayaannya kepada calon anggota dewan legislatif DPR RI, DPD RI dan DPRD. Sementara dalam Pilpres, masyarakat dibuat gamang dengan keadaan dua kubu paslon yang terus-menerus bersitegang.

Telah menjadi rahasia umum, apabila di setiap pojok yang representatif telah dipenuhi dengan deretan baliho dan poster bernada persuasif. Namun, menariknya, perhatian khalayak telah ditawan dan dibuat terpukau dengan serentetan wacana yang dihilirkan oleh aroma pilpres. Mulai dari labelitas keberagamaan, keterlibatan tokoh agama ke dalam kubu lawan, saling mencuri peran sampai dengan menebar janji-janji manis yang memberi harapan di masa depan.

Sontak hal ini menjadi bumbu penyedap baru yang mampu menggoyangkan lidah dan sedikit memberi rasa ngilu di mulut. Siang, sore, malam, bahkan sampai tak mengenal waktu entah itu kapan, program pertelevisian telah mampu tertundukan.

Sosial media nampak berubah wujud mengerikan. Masing-masing fanatisme kubu saling mengunggulkan dan membentuk peristilahan. Bahkan, fanatisme kubu terkadang tampil lebih agresif dibanding dengan paslon pilpres itu sendiri.

Isu belakang ini misalnya, terdapat oknum fanatisme dari salah satu kubu paslon yang melakukan kampaye gelap dan menebar ancaman. Padahal masyarakat tidak buta informasi bahwa kedua paslon berstatus muslim.

Namun, entah dengan dalih apa mereka akan mempertanggungjawabkan, yang jelas misi suci pesta demokrasi pancasila telah dicemarinya. Fanatisme terlalu agresif untuk nampak ke permukaan.

Bagian lain yang lebih mencolok, nyatanya politik di tahun ini lebih suka melibatkan Tuhan dalam ‘berperan’. Cenderung menjadikan agama sebagai kendaraan perpolitikan. Islam sebagai agama mayoritas menjadi bahan rebutan.

Sudah barang tentu suara terbanyak menentukan kemenangan. Alhasil, sesama umat islampun memiliki dikotomi yang saling bergesekan. Sebagai dampaknya yang fatal, isu takfirisme yang minggu lalu nampak booming menghiasi setiap postingan media sosial tidak dapat terelakan. Akibat pemahaman politik yang pincang, sesama muslim saling mengafirkan.

Hal ini pula yang sejatinya menjadi puncak kegelisahan. Dikotomisasi tersebut dapat memicu kerenggangan hubungan, menyulut perpecahan sampai dengan terjadinya konflik internal. Identitas sebagai muslim telah terdiskreditkan. Bias terbawa arus politisasi yang mengacuhkan. Kabur dalam mimbar permainan wacana peran.

Sebagai upaya mengakomodir persoalan tersebut, nampaknya akan sangat elok apabila seorang muslim kembali merenungi makna identitas “muslim” dalam benaknya. Kembali pada fitrahnya: ta’awun, tasamuh, ta’adil dan tawajun.

Dalam bersikap senantiasa mengutamakan tolong-menolong dalam kebaikan dan saling menasehati dalam ketakwaan. Saling toleransi dalam menyikapi perbedaan selama itu dalam koridor yang dibenarkan. Bersikap adil dalam setiap kebijakan dan menentukan pilihan. Serta senantiasa pandai menimbang-nimbang (matang pertimbangan) dalam mengambil keputusan.

Keempat sifat tersebut harus disempurnakan pula dengan diimplementasikannya sifat-sifat yang wajib bagi Rasul dalam diri seorang muslim. Jujur, amanah, tabligh dan fatanah haruslah menjadi perangai yang kompeten dalam menghadapi dunia perpolitikan.

Jujur dalam konteks maraknya kampanye pemilu sekarang ini, sudah barang tentu sangat dibutuhkan. Mahal harganya. Terlebih lagi, melihat trik dan intrik yang ditampilkan dalam kampaye paslon pilpres sejatinya kita harus jujur apa adanya. Fanatisme dan eksklusivitas harus jauh-jauh disingkirkan. Yang nampak hanyalah bentuk kejujuran dan cara pandang natural dari fakta-fakta yang dimiliki oleh dua kubu paslon.

Amanah. Dengan kesungguhan hati benar-benar paham betul siapa saja paslon pilpres pemilu di tahun 2019 ini. Sehingga tanpa sogokan, intimidasi dan grativikasi apapun akan berani mengatakan bentuk-bentuk sisi kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam diri paslon. Tidak memihak dan malah menyembunyikan. Sebab bagaimanapun, paslon tersebut harus teruji terlebih dahulu kredibilitas dan elektabilitasnya sebelum dijadikan wakil kita dalam mengemban suatu amanah. Utamanya dalam rentan waktu yang panjang.

Tabligh. Seorang pemimpin yang memiliki sifat jujur dan amanah secara otomatis pasti akan memiliki sifat tabligh, menyampaikan. Setelah dipercaya sebagai wakil rakyat dalam mengembang amanah, sudah selayaknya menunaikan apa yang telah dijanjikannya.

Mengerjakan semua yang menjadi kegelisahan masyarakat. Semua problematika hidup yang bersangkutan dengan hasrat kepentingan orang banyak ditunaikannya. Dalam tahapan spiritualitas, tabligh di sini dapat dipahami sebagai bentuk janji yang harus ditepati. Sehingga orang yang tabligh di dalam dirinya akan senantiasa tertanam sikap ihsan.

Dimana, kapan dan dengan siapa pun akan senantiasa menjaga perbuatannya. Setiap ucapannya adalah kejujuran. Setiap berjanji akan senantiasa ditepati. Dan apabila dipercaya tidak akan pernah mengkhianati. Bersikap anti golput adalah salah bentuk tabligh-nya seorang muslim.

Sementara jika sebaliknya berarti termasuk sebagai golongan munafik. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw bersabda: “Tanda orang munafik itu ada tiga, apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta dan jika dipercayai mengkhianati” (HR. Al-Bukhari).

Sifat terakhir yang harus dimiliki oleh seorang muslim dalam periodisasi politisasi ini ialah fatanah. “Pintar” di sini bermakna cerdas, kritis dan analitis. Setiap isu perpolitikan yang muncul ke permukaan tidak secara mentah-mentah diterima. Namun dengan sangat teliti dianalisis dan kritisi. Logis dan empiriknya benar-benar teruji. Sehingga dengan sifat fatonah ini, seorang muslim tidak akan mudah tersulut emosi. Tidak akan bersikap lalim dalam menilai. Namun justru akan sangat bijak dalam menghadapi wacana perpolitikan itu hadir di hadapannya.

Dengan mengimplementasikan sifat ta’awun, tasamuh, ta’adil dan tawajun yang disertai dengan empat sifat yang wajib bagi para Rasul tersebut, selayaknya seorang muslim menyikapi realitas dengan penuh bijaksana. Menghadapi dunia perpolitikan yang sedang bergejolak dengan sikap kritis, analitis dan bersahaja. Sehingga mampu membedakan antara ruang-ruang batas dunia perpolitikan dan percaturan agama yang sesungguhnya.

Sebab jauh-jauh hari Ibnu Rusyd pernah mengingatkan kita dengan maqolahnya, “Jika kau ingin menguasai orang-orang bodoh, maka bungkuslah segala sesuatu yang bathil dengan kemasan agama”.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Tak Berkategori

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals