Kopdar Grup WA Literasi

Kata pepatah, bahasa menunjukkan bangsa. Tutur kata menunjukkan latar belakang daerah asal ​seseorang. Demikian yang kami rasakan.


Belum lama Kopdar Sahabat Pena Kita (SPK) Pertama di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) yang megah itu. Masih sangat nyata wajah-wajah ceria yang hadir di sana dan wajah-wajah sesal yang tak hadir pula karena sesuatu dan lain hal yang tak terhindarkan. Tidak mungkin Kopdar terselenggara tanpa koordinasi dan jurus simpatik Bu Sri Lestari Linawati.

Permohonan maaf dan terima kasih tak terhingga kepada Bu Rika Parmadi yang telah berbesar hati dan rela ajang Kopdar dipindahkan dari rencana semula di Wisma Sargede milik beliau, ke UNISA. Berat rasa di hati, tetapi apa mau dikata. Ini semata-mata supaya Kopdar lebih menggelegar dan SPK makin berkibar.

Kopdar SPK Pertama di Jogja meneguhkan komitmen literasi bersama. Berapa banyak grup WA yang kuikuti, tetapi tidak ada yang seasyik SPK dalam soal kepedulian terhadap literasi. Disepakati aktivitas baru berupa tulisan sunah tiap hari, menambah pekerjaan, tetapi lebih banyak pelajaran yang didapatkan.

Kata pepatah, bahasa menunjukkan bangsa. Tutur kata menunjukkan latar belakang daerah asal seseorang. Demikian yang kami rasakan. Kopi darat memberikan nuansa yang tak dapat diberikan oleh kopi udara. Kopi darat benar-benar melengkapi kopi udara. Masing-masing anggota dapat berinteraksi dengan lebih leluasa. Aku pun menerima cendera mata dari tangan penulisnya. Sungguh bahagia.

Melalui Kopdar SPK Pertama di Jogja aku berusaha meyakinkan diri sendiri dan menguji tesis tentang kesempurnaan berbahasa, yakni baik, benar, santun/etis, dan indah/estetis. Kopdar di Jogjaku menginsyafkan untuk terus melangkah maju. Mempersepsi setiap kalimat sebagai sebuah bangunan yang menawan. Agar menawan, bangunan kalimat itu niscaya disusun dengan kata-kata pilihan.

Tulisan adalah gudang informasi, tempat menyimpan ide dan gagasan yang berarti. Nilai sesuatu tulisan terletak pada isinya, bukan lokasinya. Buku adalah rumah ilmu, tempat pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan itu.

Tulisan adalah simbol kebudayaan dan peradaban. Bangsa-bangsa besar mempunyai tradisi menulis untuk mengomunikasikan gagasan. Pepatah Yunani menyatakan, Verba volant, scripta manent – Kata-kata lisan lenyap menguap, tulisan abadi menetap.

Meminjam kata bijak Helen Keller, “Para pujangga semua negara adalah penerjemah keabadian;” ditambah petuah Benjamin Franklin, “Jika tak ingin dilupakan setelah meninggal dunia, lakukanlah sesuatu yang patut ditulis atau tulislah apa yang patut dibaca.”

Pramoedya Ananta Toer pernah berpetuah, “Menulislah, jika tidak menulis, engkau akan segera tersingkir dari panggung peradaban dan dari pusaran sejarah.” Dalam ungkapan Sayyid Quthb, “Sebuah peluru hanya bisa menembus satu kepala, sedangkan sebuah buku dapat menembus ratusan, bahkan ribuan kepala.” “Buku adalah surat lebih tebal kepada kawan-kawan,” kata Jean Paul.

Menulis adalah menebar pengetahuan dan mendialogkan kebenaran. Menyebar pengetahuan menyumbangkan kemudahan bagi kehidupan. Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan iman hidup menjadi terarah, dan dengan amal hidup menjadi melimpah. Para penulis semakin tahu betapa banyak kehidupan berubah karena buku. Penulis buku membantu pembaca menemukan rencana Tuhan untuk maju.

Sebuah langkah kecil bernilai besar, yakni sehari selembar tulisan, setahun sebuah buku. Andaikata seluruh pikiran, pengetahuan, perasaan, dan perbuatan, serta pengalaman hidup kita ditulis, niscaya membuahkan ratusan buku.

Buku adalah guru dan sumber ilmu. Buku adalah kepanjangan tangan guru. Buku adalah teman setia di setiap ruang dan waktu. Buku adalah jendela dunia, barometer zaman, dan penggerak perubahan. Buku yang bervisi tak akan pernah mati.

Menulis itu belajar; jadi, sangat menyenangkan. Kemauan untuk menulis meningkatkan kemampuan menyusun buku. Menjadi penulis adalah tanggung jawab, bukan pilihan. Penulis buku adalah co-worker Tuhan dalam mengembangkan peradaban. Tumbuhlah menjadi penulis yang lebih baik, handal, dan berbuah lebat.

Menulis buku tanda terima kasih kepada guru. Menulis buku adalah petualangan dan perjuangan yang menantang. Menulis buku untuk keabadian, kebahagiaan, dan persaudaraan. Untuk menulis buku butuh membaca buku guna menambah bekal ilmu.

Bukumu kakimu. Buku bacaanmu menunjukkan kualitasmu. Menulis buku tak perlu bakat, sebab, bakat tidak lain adalah kesabaran dan ketekunan yang lama.

Menulis buku laksana Bimbo menyanyikan lagu.
Menulis buku seperti dirigen mengatur irama lagu.
Menulis buku bagaikan Beethoven menggubah lagu.

Menulis buku laksana Tuhan berfirman sejak dahulu.
Menulis buku seperti Afandi melukis wajah sang Ibu.
Menulis buku bagaikan Michelangelo memahat batu.

Menulis buku laksana chef meracik bumbu sesuai menu.
Menulis buku seperti menggesek biola hasilkan suara merdu.
Menulis buku bagaikan Ronaldo menendang bola tanpa ragu.

SAHABAT PENA KITA

Sahabat Pena Kita
Rumah singgah bersama
Mengasah daya cipta
Mengabdi untuk bangsa.

Mari bergandeng tangan
Bergerak beriringan
Singkirkan segala rintangan
Wujudkan karya idaman.

*Menyongsong Kopdar SPK Kedua di IAIN Tulungagung, 27 Januari 2019.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals