Pemaknaan Kemu’jizatan Al-Qur’an yang Proporsional

Dalam pembuktian kemu’jizatan Al-Qur’an dari berbagai aspeknya, para ulama’ memberikan sumbangsih yang penting.


Tantangan Menandingi Al-Qur’an

Mengenai tidak tertandinginya Al-Qur’an, beberapa ulama’ salah satunya sebagaimana Ibnu ‘Asyur mengistilahkannya dengan at-tahaddi (التحدّي)At-tahaddi adalah hal dimana Al-Qur’an tidak dapat diungguli, bahkan Allah menantang bagi siapa saja untuk menandinginya dan tidak akan mampu.

Tantangan tersebut tersurat dalam beberapa ayat, yang merupakan tantangan untuk membuat kitab, atau sepuluh surat, atau satu surat saja yang sepadan Al-Qur’an. Sebagaimana beberapa ayat yang menjelaskan tantangan tersebut sebagai berikut:

Tantangan membuat semisal satu surat menandingi yang ada dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang terdapat dalam Surat Al-Isra’ ayat 88:

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.

Tantangan membuat sepuluh surat menandingi yang ada dalam Al-Qur’an. Sebagaimana dalam Surat Hud ayat 13 disebutkan:

“Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat- buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.

Tantangan membuat satu surat menandingi yang ada dalam Al-Qur’an. Sebagaimana yang tersurat dalam QS. Yunus ayat 38 :

Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.

Aspek I’jaz Al-Qur’an

Dalam pembuktian kemu’jizatan Al-Qur’an dari berbagai aspeknya, para ulama’ memberikan sumbangsih yang penting. Para ulama’ itu seakan menjadi corong yang menyebarkan gelombang kemu’jizatan melalui penelitian mereka terhadap Al-Qur’an.

Oleh karena itu, menyatakan bahwa Al-Qur’an akan dapat menunjukkan kemu’jizatannya sendiri, tanpa pengungkapan oleh penelitinya, merupakan hal yang naif. Dan dengan semakin berkembangnya keilmuan, maka temuan dalam kemu’jizatan Al-Qur’an terus berkembang.

Segi kemu’jizatan Al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai aspek, yang para ulama’ abad ini terus berusaha menggali aspek lain yang dapat menunjukkan ke-luarbiasa-an Al-Qur’an.  Setidaknya ada dua aspek yang mendasar dalam kemu’jizatan Al-Qur’an, aspek bahasa juga bunyinya, dan isinya.

Aspek Bahasa (I’jaz Lughawi)

Ada beberapa kenyataan yang penting untuk diperhatikan dalam I’jaz lughawi. Pertama, Kenyataan yang kita temui bahwa bahasa yang dipilih oleh Allah sebagai bahasa Al-Qur’an adalah Bahasa Arab. Bahasa Arab, menurut ulama’ merupakan satu-satunya bahasa yang dapat menampung makna Al-Qur’an.

Karena hal itu kita tidak dapat mengandai-andai, dengan cara membandingkan bahasa Arab dengan bahasa lain yang kita anggap lebih kaya kosa kata ataupun memiliki aturan bahasa (gramatikal) yang lebih tinggi, untuk mengatakannya lebih cocok dipilih oleh Allah sebagai bahasa pengantar untuk Al-Qur’an.

Sebagaimana Allah menjelaskan dalam QS. Asy-Syu’ara’ ayat 195:

“Dengan bahasa Arab yang jelas.

Kedua, Bangsa Arab saat itu yang gemar dan pandai bersyair merupakan kondisi yang menjadi realitas latar belakang Al-Qur’an diturunkan menjadi mu’jizat Nabi Muhammad. Sebagaimana nabi-nabi terdahulu diberikan mu’jizat sesuai dengan keahlian kaumnya (yang viral saat itu).

Seperti Nabi Musa, dengan mu’jizatnya mengubah tongkat menjadi ular, menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati dan lainnya, digunakan untuk menantang dan melemahkan kaumnya yang ahli dalam ilmu sihir.

Maka Nabi Muhammad dengan kondisi kaumnya tersebut mendapatkan mu’jizat utamanya yakni Al-Qur’an, untuk melemahkan orang Arab dengan keahlian bahasanya. Tantangan dan ketidakmampuan bangsa Arab untuk menandinginya telah tersurat dalam Al-Qur’an sebagaimana penjelasan dalam pembahasan at-tahaddi diatas.

Ketiga, Nabi Muhammad memiliki keadaan sebagai orang yang ummiyy. Kenyataan ini serta-merta menjadi penegasan bagi kemu’jizatan Al-Qur’an dalam aspek kebahasaan, dengan menimbulkan kepastian bahwa tidak mungkin Nabi Muhammad—yang ummiyy—mampu membuat Al-Qur’an yang sehebat itu.

Jika tidak mungkin Nabi Muhammad yang membuatnya, maka menjadi pasti bahwa Allah saja lah yang mampu membuatnya.

Keempat, kemu’jizatan Al-Qur’an dari segi bahasa telah berulang terbukti pada masa Nabi Muhammad. Sebagaimana tantangan kaum Yahudi yang meinginginkan Nabi Muhammad menjelaskan peristiwa pada saat kelahirannya yang kemudian Allah menurunkan surat Al-Fiil.

Termasuk juga luluhnya Umar ibn Khattab ketika membaca keindahan bagian surat Thaha sehingga oleh sebab itu ia memutuskan menyatakan masuk Islam.

Mengenai i’jāz al-Qur’ān dalam aspek kebahasaannya, Manna’ al-Qaththan menjelaskan bahwa jika manusia memusatkan perhatiannya pada Al-Qur’an, ia tentuakan mendapatkan rahasia-rahasia kemukjizatan aspek bahasanya.

Kemukjizatan itu dalam keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya. Ketika mendengar harakat dan sukun-nya, madd dan gunnah-nya, fashilah dan maqta’-nya, sehingga telinga tidak pernah merasa bosan, bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya.

Aspek Kisah Masa Lampau (I’jaz Inba’i)

Kemu’jizatan Al-Qur’an dalam aspek kisah masa lampau yang di kandungnya berarti bahwa Al-Qur’an memuat kisah dan kabar orang, kaum atau nabi-nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad.

Informasi Al-Qur’an tentang kejadian masa lampau cukup banyak, yang semuanya akan menunjukkan betapa mustahilnya ilmu tersebut berasal dari diri Muhammad sendiri.

Dalam QS. Hūd: 49 ditegaskan mengenai kisah Nabi Nuh.

Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini diturunkan dalam konteks pemberitaan kisah Nabi Nuh dan para pengi-kutnya yang menyelamatkan diri dari musibah banjir besar sebagai cobaan bagi para penantang dakwahnya.

Al-Qur’an juga mengisahkan nabi-nabi lain, seperti Nabi Adam, Ibrahim, Ismail, Luth, Ya‘qub, Musa, Harun, dan nabi lainnya, yang semuanya sulit diketahui umat manusia tanpa wahyu.

Atau kisah Mūsā dan Fir‘aun dalam Al-Qur’an yanv diuraikan sekitar 30 kali. Kisah tersebut merupakan kisah yang tidak diketahui masyarakat ketika itu kecuali melalui kitab dari Ahlul Kitab. Bahkan tidak mungkin diketahui kecuali oleh mereka yang hidup pada masa terjadinya peristiwa tersebut, yaitu pada abad 12 sebelum Masehi.

Maka adalah sesuatu yang menakjubkan ketika Nabi Muhammad menguraikannya melalui Al-Qur’an. Sedangkan bukti jasad Fir’aun saat ini dapat kita saksikan, sesuai dengan apa yang tersurat dalam Al-Qur’an.

Kisah Fir‘aun diantaranya diuraikan dalam surat Yūnus: 90-92:

Dan Kami mungkinkan Bani Israil melintasi laut. Mereka pun diikuti Fir‘aun dan tentaranya, karena mereka hendak menganiaya dan menindas (Bani Israil). Ketika Fir‘aun telah hampir tenggelam berkatalah ia, “Saya percaya bahwa tiada tuhan melainkan Tuhan yang disembah oleh Bani Israil dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri”. 

(Allah menyambut ucapan Fir‘aun ini dengan berfirman), “Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat keru-sakan. Hari ini kami selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi (generasi) yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.

Aspek Informasi Masa Depan (I’jaz Ikhbari)

Selain kisah-kisah masa lampau, Al-Qur’an juga mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, baik hal yang akan terjadi di dunia, maupun di akhirat nanti.

Ada beberapa contoh peristiwa-peristiwa yang akan terjadi diungkapkan Al-Qur’an, dan beberapa telah terbukti dalam sejarah. Beberapa contohnya antara lain nubuwwah kemenangan umat Islam atas kaum Quraisy ini dijelaskan dalam surat Al-Qamar ayat 45:

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.

Allah memberi informasi kepada Nabi Muhammad SAW melalui ayat ini bahwa kaum musyrikin Quraisy akan dapat ia kalahkan. Ayat ini diturunkan pada saat Nabi masih tinggal di kota Mekkah. Beberapa tahun kemudian kaum muslimin mengalahkan kaum musyrik dalam fathu Makkah pada tahun 8 Hijriyah.

Atau dalam surat Ar-Rum ayat 1-5 memuat informasi- informasi terkait kemenangan bangsa Romawi dan sekaligus kemenangan umat Islam:

Alif Lām Mīm. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat, dan mereka setelah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun (antara tiga sampai 9 tahun). 

Bagi Allah ketetapan urusan sebelum dan sesudah (mereka me-nang), dan di hari (kemenangan) itu orang-orang mukmin bergembira, karena pertolongan Allah. Allah menolong siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia Maha Perkasa, lagi Maha Penyayang.

Az-Zarqani menjelaskan bahwa pada tahun 614 M.—kurang lebih tiga tahun setelah kerasulan Muhammad—kerajaan Romawi Timur dikalahkan kerajaan Persia dalam pertempuran besar. Kekalahan ini oleh orang-orang Quraisy digunakan untuk mengolok-olok kegiatan dakwah Muhammad dengan mengatakan bahwa para penganut agama Samawi telah kalah oleh penganut Majusi.

Kini Muhammad, dengan kitab yang dibawanya, hendak mengalahkan orang Quraisy. Bagaimana mungkin keingi-nan tersebut bisa terwujud, yang akan terjadi justru orang-orang Quraisy akan mengalahkan mereka, sebagaimana penganut Majusi mengalahkan mereka.

Ayat-ayat tersebut pada dasarnya hendak menghibur umat Muslim dengan kabar bahwa Romawi akan kembali menang atas Persia, yang mana dengan kemenangan itu kaum Muslim turut bergembira.

Ternyata informasi tersebut akhirnya terbukti kebenarannya. Informasi sejarah menyatakan bahwa tujuh tahun setelah kekalahan Romawi terjadi lagi peperangan antara keduanya pada tahun 622 M, dan Romawi berhasil menang2F[5]

Aspek Kebenaran Ilmiah (I’jaz Ilmi)

Aspek lain dari kemukjizatan Al-Qur’an adalah banyaknya isyarat ilmiah yang dikemukakan di dalamnya yang kesemuanya belum diketahui manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini. Nabi Muhammad yang ummī tentu saja tidak akan mengetahuinya jika tidak diberi wahyu oleh Allah yang Maha Mengetahui.

Isyarat-isyarat ilmiah itu dapat dilihat dalam beberapa bidang ilmu pengetahuan. misalnya muatan teori Big Bang dalam Al-Qur’an pada surat Al-Anbiyaa’ ayat 30 disebutkan:

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?’”

Kata ratq berarti perpaduan beberapa unsur untuk dijadikan suatu kumpulan yang homogen. Sedangkan kata fataqa berarti memisahkan. Berdasarkan Teori Big Bang, alam semesta tercipta dari kumpulan gas yang disebut ‘primary nebula’ kemudian terpecah dan menjadi bintang-bintang, planet-planet, matahari, bulan dan sebagainya.

Ada juga yang memuat tentang teori bumi mengelilingi matahari dengan tanda terjadinya siang dan malam. Orang beranggapan bahwa bumi datar sehingga orang takut berjalan terlalu jauh khawatir terjatuh ke jurang yang dalam.

Anggapan tersebut adalah dalam pemikiran orang-orang abad-abad awal. Kemudian Sir Francis Drake pada tahun 1597 yang menyatakan bumi berbentuk Geospherical (bulat telur) ketika dia menjelajahinya. Jauh sebelum itu, Al-Qur’an telah mengisyaratkan dalam surat surat Az-Zumar ayat 5:

Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Kata kawwara-yukawwiru berarti menggulung. Sebelumnya, dalam tradisi Arab, kata kawwara digunakan dalam arti menggulung serban di kepala. Seandainya bumi datar, tidak mungkin terjadi penggulungan (yukawwiru) malam terhadap siang atau sebaliknya secara perlahan, perubahannya akan terjadi secara mendadak.

Contoh-contoh di atas merupakan sebagian contoh kebenaran isyarat ilmiah yang diungkapkan oleh Al-Qur’an. Tentu masih banyak contoh lain yang memuat tentang isyarat ilmiah dan banyak yang telah terbukti kebenarannya oleh penelitian para ilmuwan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.

Aspek Keseimbangan Redaksi (I’jaz ‘Adadi)

Yang dimaksud dengan i’jaz ‘adadi adalah kemu’jizatan Al-Qur’an dari aspek kesimbangan porsi dalam menuturkan tema-tema yang berpasangan. Dalam kajian ini salah satu ulama’abad akhir yang bernama Abd Ar-Razzaq Naufal, telah menyusun hasil penelitiannya dalam karyanya Al-I’jaz al-‘Adadi li al-Qur’an al-Karim. 

Di dalam pembahasannya Naufal mengungkap beberapa tema yang berpasangan yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an dengan menghitung masing-masing porsi pengulangannya. Berikut ini beberapa contoh i’jaz ‘adadi yang  diungkap olehnya:

  1. Kata dun-ya dan akhirah, kata dun-ya ditemukan sebanyak 115 kali, sedangkan kata akhirah juga ditemukan sebanyak 115 kali. Sedangkan dua kata itu bersanding dalam satu ayat yang sama sebanyak 50 kali.
  2. Kata syaithan dan malaikah, keduanya berulang sebanyak 68 kali dalam Al-Qur’an
  3. Kata maut dan hayat dengan berbagai derivasinya, masing-masing ditemukan sebanyak 145 pengulangan.

Demikian sebagian contoh yang diungkap oleh Naufal. Beberapa contoh tema dan kata lainnya hingga ada 16 tema yang merupakan kata yan berpasangan dan yang berhubungan diungkap oleh Naufal.

Sedangkan pada bab selanjutnya dia juga membahas kata yang berhubungan dengan kata lain semisal; kata aththuhr dan kata ikhlash; ilm, ma’rifah dan iman; al-ittifaq dan ar-ridha, dan lain sebagainya. Penelitian ini menunjukkan bagaimana Al-Qur’an memiliki perhitungan redaksional yang teliti dan seimbang, dan menunjukkan salah satu aspek kemu’jizatannya.

Aspek Manfaat Pengobatan (I’jaz Syifa’i )

Yang dimaksud i’jaz syifa’I adalah bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an dianggap dan terbukti memiliki khasiat sebagai pengobatan, terapi penyakit fisik ataupun psikis. Mengenai aspek pengobatan dengan ayat Al-Qur’an untuk penyakit atau masalah fisik, banyak dijelaskan dalam kitab-kitab mujarrabat semisal Syumus al-Anwar karya Ad-Dairabi.

Meskipun hal ini merupakan hal eksternal dari Al-Qur’an, yang hal tersebut bersifat metafisik, akan tetapi kenyataan ini tidak dapat dinafikan. Sebagaimana adanya terapi ruqiyah dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkembang di masyarakat.

Dalam hal ini Al-Qur’an menyatakan dalam ayat-ayat syifa’’, sepeti dalam surat Yunus ayat 57:

“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Atau dalam surat Al-Isra’ ayat 82:

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad sendiri pernah mempraktekkan kemu’jizatan pengobatan dengan surat Al-Falaq dan An-Nas ketika tersihir, dan terlepaslah beliau dari sihir tersebut.

Ada juga kisah sahabat Nabi yang menggunakan surat Al-Fatihah untuk me-ruqiyah warga sebuah desa yang digigit oleh kalajengking. Kemudian mereka melaporkan kisahnya kepada Nabi Muhammad sambil membawa hadiah dari sang warga untuk dibagi dengan Nabi Muhammad.

Dalam pembuktiannya di masa sekarang, kita dapat melihat beberapa kasus yang terjadi dalam praktek yang dilakukan oleh beberapa orang ketika membaca ayat tertentu yang dipercayainya memiliki khasiat tertentu.

Semisal ketika orang yang dalam keadaan bersedih maka dianjurkan membaca surat Al-Insyirah. Atau kita dapat melihat bagamana ayat Al-Qur’an ‘bekerja’ untuk pengobatan penyakit fisik. Hal-hal diatas tidak lain merupakan salah satu kemu’jizatan Al-Qur’an yang tidak dapat ditentang.

Menuju Pemahaman Kemu’jizatan Al-Qur’an yang Proporsional

Fungsi kemu’jizatan Al-Qur’an merupakan hal-hal yang sejalan dengan tujuan utama Al-Qur’an diturunkan oleh Allah. Mu’jizat Al-Qur’an dapat diterjemahkan bahwa Al-Qur’an dengan berbagai fungsi serta maksudnya selain menjadi mu’jizat Nabi Muhammad tapi juga sebagai petunjuk untuk seluruh manusia.

Kita menemukan beberapa orang yang menginginkan Al-Qur’an mengandung segala teori ilmiah. Artinya kita tidak seharusnya mencari-cari dalam Al-Qur’an saat kita menemukan teori ilmiah baru.

Kemu’jizatan ilmiah Al-Qur’an tidak terletak pada cakupannya terntang teori-teori ilmiah yang pasti berubah. Tetapi kemu’jizatan ilmiah itu terletak pada semangatnya untuk mendorong manuasia agar berfikir dan menggunakan akal. Al-Qur’an mendorong manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam semesta.

Dalam menyikapi sesuatu atau kasus yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an maka kita tidak dapat menyatakan bahwa Al-Qur’an tidak sesuai dengan perkembangan dengan zaman. Al-Qur’an menjadikan pemikiran yang lurus dan perhatian yang tepat terhadap alam dan segala apa yang ada di dalamnya sebagai sarana terbesar untuk beriman kepada Allah.

Al-Qur’an mendorong manusia untuk melakukan aktifitas intelektual sebagaimana dijabarkan dalam ayat-ayatnya. Ia mendorong kaum Muslimin agar memikirkan makhluk-makhluk Allah yang ada di langit dan di bumi, seperti dalam surat Ali Imran: 190-191.“

Sesunggguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) mereka yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalamkeadaan berbaringdan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (saya bersaksi): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

  • Selain itu Al-Qur’an mendorong umat Islam agar memikirkandirinya sendiri, bumi yang ditempatinya dan alam yang mengitarinya, seperti dalam surat Ar-Rum ayat 8:

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya.

Pemahaman mengenai kemu’jizatan Al-Qur’an harus dilakukan bukan dengan memaksakan Al-Qur’an mencakup seluruh teori dan ilmu.

Karena meskipun Al-Qur’an bukan kitab sejarah tetapi ia mengandung kisah dan sejarah masa lampau. Ia juga bukan syair, meskipun keindahannya melebihi kata indah dan syair. Ia juga bukan buku teori ilmiah, tetapi ia memiliki isyarat-isyarat ilmiah yang satu persatu teerbukti kebenarannya. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Maghfur Amin
Alumni S1 jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Guru MI Narrative Quran (MINAN), Lamongan. Saat ini menempuh S2 di UIN Sunan Ampel Surabaya pada jurusan yang sama (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir).

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals