Meneguhkan Pendidikan Berbasis Budaya

"Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari budaya, karena fungsi pendidikan bukan hanya sebagai transfer of knowledge saja, tetapi..."


Sumber foto: radarjogja.co.id

Tulisan ini berawal dari trend tema calon wisudawan/wisudawati ke-37 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Surakarta yang diselenggarakan pada hari Kamis, 26 April 2018. Pelepasan calon wisudawan/wisudawati FITK IAIN Surakarta kali ini bertemakan “Meneguhkan Pendidikan Berbasis Kearifan Budaya Lokal Jawa” dan sebagai wujud dari trend tema tersebut, pelepasan wisuda diisi dengan pagelaran seni wayang kulit. Seni wayang kulit merupakan budaya lokal Jawa yang pada awalnya digunakan oleh para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari budaya, karena fungsi pendidikan bukan hanya sebagai transfer of knowledge saja, tetapi juga berfungsi sebagai transfer of culture  dan transfer of value. Nilai-nilai luhur budaya yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia merupakan potensi berharga yang tak ternilai harganya dalam membangun keutuhan negara. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang sangat majemuk baik dari segi budaya, agama, maupun bahasa yang memiliki nilai-nilai luhur sebagai local wisdom-nya.

Haar Tilaar mengatakan bahwa dalam perspektif antropologi, pendidikan merupakan transformasisistem nilai sosial budaya dari satu generasi ke generasi lainnya (generasi old ke generasi now) dalam suatu masyarakat. Sebagai generasi pendidik, kita perlu menjadikan budaya sebagai sarana untuk membentuk karakter moral anak bangsa. Kesadaran akan hal itu sangat penting untuk dilakukan, mengingat praktik pendidikan kita selama ini terlalu berorientasi ke Barat dan kurang memperhatikan nilai-nilai luhur budaya masyarakat yang sarat dengan makna dan filosofi.

Derasnya arus globalisasi dan teknologi disinyalir sebagai penyebab lemahnya penghayatan dan penanaman nilai-nilai budaya di masyarakat. Pendidikan sebagai alat untuk menyadarkan masyarakat, diharapkan mampu menjaga dan menginternalisasikan nilai-nilai budaya, supaya pendidikan tidak hilang dari fungsi dan perannya sebagai transfer of culture. Fungsi untuk menyampaikan dan menanamkan nilai-nilai budaya.

Perlunya meneguhkan kembali pendidikan berbasis budaya diorientasikan supaya masyarakat dapat menjaga dan memahami nilai luhur budaya bangsa. Karena budaya yang berkembang di masyarakat bukan begitu saja hadir instan dan diyakini, tetapi budaya yang hadir di tengah masyarkat sudah teruji oleh kekuatan zaman yang tidak akan punah. Meneguhkan pendidikan berbasis budaya merupakan filter terhadap arus globalisasi yang kian tidak terbendung.

Budaya merupakan hasil karya, cipta, dan karsa para leluhur nenek moyang bangsa, yang memberikan kekuatan jiwa dan batin pada setiap insan. Nilai-nilai luhur budaya yang mengakar merupakan perekat kesatuan dan persatuan bangsa. Tanpa budaya, Indonesia tidak akan berdiri kokoh. Indonesia dibangun atas kebhinekaan yang diikat oleh budaya lokal masing-masing daerah yang memberikan ruh perdamaian. Maka dari itu, penting sekali generasi pendidik untuk mengenal, memahami, menanamkan, dan menginternalisasikan budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Peradaban suatu bangsa salah satunya dapat dilihat dari kemapanan politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Kemapanan budaya, merupakan tolok ukur diakuinya peradaban suatu bangsa. Maka menjaga budaya lokal Indonesia merupakan sarana strategis untuk menjaga peradaban bangsa di tengah carut marutnya perpolitikan dan ekonomi bangsa Indonesia.

Di samping nilai-nilai luhur budaya dijadikan sebagai filter terhadap budaya Barat dan perekat keutuhan bangsa. Budaya juga merupakan jati diri bangsa sebagai negara yang berperadaban. Meneguhkan kembali pendidikan berbasis budaya lokal, akan menjadikan masyarakat inklusif, guyub rukun, dan bermartabat. Budaya akan menjadi problem solver terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Membudayakan gotong royong, guyub rukun, ngayomi, dan saling asah asih asuh, merupakan salah satu sarana untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Di samping kita melestarikan budaya-budaya yang terbungkus dalam seni dan tradisi masyarakat. Al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdu bil jadidil ashlah, memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Hakiman

HAKIMAN. SPd.I, MP.d. Dosen PAI FITK IAIN Surakarta.

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Sugeng ndaluh,
    Selamat malam,
    Setelah membaca artikel ini rasanya harus ada keseimbangan antara imtaq dan intek,mengingat dinamika kehidupan semakin cepat melakukan perubahan,digitalisasi,komputerisasi,cyber media juga menopang lajunya informasi terhadap perubahan peradaban yang semakin meninggalkan nilai-nilai serta norma-norma kehidupan yang ditanamkan oleh leluhur kita,budaya,tradisi,adat-istiadat serta habitasi yang dilajukan oleh masyarakat natif,dan plasmatisnya,kini perubahan itu sudah semakin menjauhi natifasi dan intinya sebagaimana dilakukan dan dilaksanakan secara spontanitas dan bersifat guyub rukun,serta gotong royong.
    Dengan membaca artikel ini saya tetap berpegang kepada apa yang telah diajarkan oleh leluhur kita dulu tanpa mengurangi dinamika peradaban default yabg sedang berlangsung,kolabirasi antara peradaban kuno dan peradaban modern akan memberikan nilai tambah pada perbandingannya dimana kelebihan kita dan dimana kekurangan kita demikian juga dimana kekurangan leluhur dan dimana kelebihannya,yang pastipasti tolok ukurnya adalah bukti-bukti peninggalan sejarah berupa kebudayaan,tradisi,
    Terimakasih
    Suganda Nata Atmaja,S.Sos
    semasyarakatnya

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals