Theologi Green Ramadhan dalam Membangun Kesadaran Lingkungan di Bulan Suci

Terkait erat dengan bulan ini adalah terjadinya peningkatan konsumsi atau biaya hidup yang menyertainya. Hal ini juga akan memperbanyak sampah dan pengelolaannya.


Bulan Ramadhan sebagai bulan yang dinanti-nanti kedatangannya akan segera hadir. Hal ini setidaknya kurang dari sebulan semua umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa sebulan lamanya. Terkait erat dengan bulan ini adalah terjadinya peningkatan konsumsi atau biaya hidup yang menyertainya. Hal ini juga akan memperbanyak sampah dan pengelolaannya. Dengan demikian, diperlukan usaha bersama memahami esensi puasa dan sampah menuju eksistensi dimensi kemanusiaan.

Bisnis makanan untuk keperluan bulan ini meningkat. Hal ini tidak saja dilakukan di jalan-jalan raya melainkan juga melalui bazar tahunan di beragam tempat. Geliat ini juga merebak ke pasar baik tradisional maupun modern. Hal yang sama sejumlah restoran dan hotel juga berlomba membuat paket buka puasa. Dengan demikian, ibadah Ramadhan ini menjadi berkah bagi masyarakat luas.

Fenomena di atas menjadikan sampah 20% menigkat. Hal ini setidaknya 500 ton sisa makanan selama Ramadhan dan 40% sampah di TPA adalah sisa makanan dan 14%  di antaranya adalah sampah plastik. Dengan demikian, di antara umat Islam harus memulai untuk ramah dengan sampah ini.

Sampah menjadi persoalan lingkungan dewasa ini. Hal ini terjadi antara lain adanya kegiatan yang masif menyertankan banyak orang seperti terjadi di GBK pada saat musim kampanye Pilpres dan Pileg 2019 ini. Setidaknya ada 72 ton sampah yang dihasilkan pada acara tersebut. Belum lagi persoalan penutupan Tempat Pembuangan Akhir  (TPA) di daerah Yogyakarta yang mengakibatkan sampah menumpuk di mana-mana dan terlihat kotor serta bau busuk di mana-mana. Sehingga persoalan ini tidak saja mengganggu estetika melainkan juga kesehatan keseluruhan makhluk hidup. Dengan demikian, maka sampah harus menjadi persoalan bersama seluruh masyarakat.

Dampak sampah termasuk sampah plastik sangatlah banyak ditemukan. Banyak hewan dan binatang yang mati akibat sampah ini. Hal tersebut sebagaimana ditemukan sampah 5,9 Kg dalam perut Ikan Paus yang panjangnya hampir 10  meter sehingga menyebabkan ikan tersebut mati.  Dengan demikian perlu adanya penyelamatan lingkungan dari bahaya sampah terutama sampah plastik.

Demikian juga atas manusia bisa terjadi gejala yang merugikan eksistensinya. Hal ini setidaknya dapat  mengganggu kesehatan pencernaan maupun pernapasan dan lain sebagainya. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada anak-anak saja melainkan juga pada orang dewasa dan tua. Dengan demikian, diperlukan secara arif mengurangi sampah dan tidak membuangnya secara sembarangan.

Pola pengelolaan lingkungan terutana terkait dengan pengelolaan sampah merupakan bagian dari ajaran Islam. Hal ini setidaknya dapat dilihat dalam hadis yang memerintahkan untuk berbuat baik kasih sayang di  bumi maka Allah swt akan menyanyangi. Hadis tersebut juga didukung oleh QS. al-Rum (30):41-42 yang mengisyaratkan akan adanya keruskaan di bumi akibat ulah tangan manusia. Dengan demikian diperlukan usaha menyeluruh untuk menjadi penyelamat bumi ini.

Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa menyingkirkan sampah atau hal-hal yang dapat merusak dimensi kemanusiaan adalah bagian dari iman. Hal tersebut sebagaimana dalam hadis Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dalam hadis tersebut menunjukkan banyaknya raga keimanan itu dan yang tertinggi adalah perkataan la ilaha illa Allah dan yang paling rendah adalah menjauhkan halangan di jalan. Dengan demikian hadis tersebut secara tidak langsung juga mengajarkan akan pengelolaan sampah yang terus terjadi sampai sekarang ini.

Keprihatinan di atas juga disuarakan oleh MUI. Hal ini setidaknya dapat dilihat dalam fatwa yang dikeluarkan MUI no. 47 tahun 2014 yang menyatakan kewajiban setiap umat Islam dalam memelihara lingkungan dari pengaruh buruk atasnya dan menghindari tabzir dengan cara menggunakan barang yang bisa digunakan lagi dan isyraf atau berlebih-lebihan. Dengan ajakan seperti ini selayaknya umat Islam juga melakukan kegiatan mulia ini yakni penyelamatan atas lingkungan hidup.

Problem di atas juga semakin meningkat seiring datangnya bulan Ramadhan. Hal tersebut setidaknya beriringan dengan budaya konsumerisme yang ada di bulan ini. Dengan memasuki bulan puasa ini seharusnya banyak melakukan ibadah dan meresapi seperti orang yang tidak memiliki makanan. Namun, ternyata ketika buka puasa selalu memakan jamuan makanan yang menyisakan banyak sampah. Dengan demikian, puasa harus juga dapat dilakukan  dengan pemeliharaan lingkungan.

Istilah yang lazim digunakan dalam hal ini adalah Green Ramadhan. Sebuah kesadaran dalam menjalankan aktivitas di bulan Ramadhan dengan menjaga lingkungan hidup. Setidaknya kesadaran ini harus tumbuh di seluruh umat Islam sehingga tidak ada lagi problem terkait persoalan sampah dan lingkungan ini.

Tentu saja budaya ini tidak hanya dijadikan kebiasaan melainkan sebagai sebuah teologi atau kepercayaan yang harus dilakukan. Hal ini dilakukan seperti ketaatan umat Islam dalam memahami akidah atau keyakinan pada Allah swt dan yang lainnya dalam rukun Iman. Keyakinan tersebut kemudian dilaksanakan juga dengan aplikasi ke dalam kehidupan keseharian baik di bulan Ramadhan maupun tidak. Dengan demikian, sampah yang menjadi problem kehidupan ini akan berkurang.

Akhirnya, kehidupan manusia dalam lingkungan hidupnya berjalan dengan baik. Melalui upaya inilah maka umat Islam juga melakukan ajaran dari Allah swt dan Rasul-Nya. Menjaga lingkungan adalah juga menjaga diri sendiri. Jika lingkungan tidak baik maka dimensi kehidupan akan menjadi tidak ramah dalam diri manusia serta yang ada hanya penyakit dan akses negatif darinya. Dengan demikian, umat Islam di Bulan Ramadhan harus melakukan perubahan teologi lingkungan ke arah yang ramah sehingga menjadi bagian dari kelestarian yang digagas oleh Tuhan. (MAS)

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga
Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals