Resepsi Hadis ‘Maulid Nabi’ di Sulawesi Selatan: Studi Tradisi ‘Baku’ di Masyarakat Pulau Balang Caddi

Hadis 'Maulid Nabi' mengandung aspek Informatif yakni menghormati hari kelahiran Nabi, dan aspek Performatif yakni munculnya tradisi "Baku"


Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan kejadian luar biasa dalam ingatan umat Islam sepanjang sejarah. Beberapa riwayat bahkan menyebut adanya berbagai kejadian fenomenal yang ikut menyambut kelahiran Nabi besar umat Islam tersebut, seperti runtuhnya empat belas balkon Istana Raja Kisra, padamnya Api suci yang dipuja-puja oleh orang Majusi, air Danau Sawa yang dikultuskan oleh orang-orang Persia tiba-tiba surut dan akhirnya kering, dan lain sebagainya.

Tidak heran jika dalam perjalanan Islam, muncul berbagai fenomena, di berbagai daerah, perayaan kelahiran Nabi yang diadakan oleh umat Islam, yang kemudian dikenal sebagai Maulid Nabi. Berkenaan dengan fenomena perayaan kelahiran Nabi ini, dalam hadis dikatakan:

Rasulullah bersabda: “Siapa menghormati hari lahirku, tentu aku akan memberikan syafa’at kepadanya di Hari Kiamat” Imam al-Hafiz al-Musnid. Habib Abdullah Bafaqih mengatakan bahwa hadits “man azhzhama maulidi kuntu syafi’an lahu yaum al-Qiyamati” seperti diriwayatkan Ibnu Asakir dalam kitab Tarikh, Juz I, hlm 60, menurut Imam Dzahaby sahih sanadnya. Umar Mengatakan: Siapa menghormati hari lahir Rasulullah sama artinya menghidupkan Islam.

Dilihat dari teori resepsi –bagaimana sikap pembaca kepada sebuah teks (Hadis), hadis di atas mengandung aspek informatif yang berupa anjuran untuk menghormati kelahiran Nabi Muhammad. Hadis tersebut juga menampilkan aspek performatif, yakni nilai/makna tersendiri yang mampu menggerakkan umat Islam, sehingga hadis tersebut kemudian memunculkan ragam tradisi dari umat Islam, termasuk dalam hal ini adalah umat Islam kalangan Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan.

Tradisi Maulid Nabi, menjadi tradisi keagamaan yang sangat bermakna bagi masyarakat Bugis-Makassar, ini tergambar dalam syair atau nyanyian khas Bugis-Makassar sebagai berikut:

Manna tena kussambayang
Assala maudu mama
Antama tonja
Ri suruga Papinyamang
Kaddeji kunipapile
Assambayang na maudu
Kuealleangi a’maudu rinabbiya
Balukangi tedongnu
Pappi tanggalang tananu
Naniya sallang
Nupa’maudukang ri nabbiya

Artinya:

Walaupun saya tidak sembahyang
Asalkan saya bermaulid
Saya akan masuk surga juga
Ke dalam surge yang nikmat
Andaikata aku disuruh memilih
Bersembahyang atau maulid
Lebih kusukai bermaulid pada Nabi
Juallah kerbaumu
Gadaikan sawahmu
Seupaya ada nanti
Dipakai bermaulid pada Nabi.

Kedambaan umat Islam Bugis-Makassar untuk merayakan Maulid Nabi di atas menunjukkan besarnya kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad. Tidak hanya dalam bentuk syair, di kalangan masyarakat Pulau Balang Caddi, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, merayakan Maulid Nabi dalam bentuk ‘Baku’ antar sesama masyarakat Pulau Balang Caddi di Masjid Darus Sa’ada.

Tradisi ‘Baku’ dapat dipahami sebagai tradisi saling memberi kado yang ditempatkan dalam sebuah ember, berisi berbagai makanan pokok, makanan khas Bugis-Makassar, dan berbagai cemilan. Tradisi ‘Baku’ ini sudah lama berlangsung, bahkan tradisi ini sudah menjadi agenda wajib masyarakat Pulau Balang Caddi setiap tahun. Agenda maulid ini, di bawah arahan pemuka agama setempat: ustadz, pengurus masjid, dan perangkat daerah seperti lurah, RW dan RT, termasuk kalangan Pabagang –pekerja (laki-laki) nelayan khas Pulau Balang Caddi.

Tradisi Baku ini dilakukan setelah pembacaan Barazanji, dengan makna (nilai) agar Baku yang disedekahkan senantiasa mendatangkan berkah kepada pihak yang memberi dan yang menerimanya. Masyarakat yang tidak ikut membaca Barazanji, dianjurkan membantu dalam mengumpulkan Baku, yang dibawa dari rumah masyarakat, di berbagai titik (sudut) pintu Masjid yang ditentukan oleh masing-masing ketua RT.

Setelah pembacaan Barazanji dan terkumpul semua Baku, para penyelanggara agenda kemudian menyerahkan Baku-Baku tersebut kepada masyarakat dengan pola acak, yakni antar RT. Resepsi hadis ‘Maulid Nabi’ oleh masyarakat Pulau Balang Caddi dalam bentuk tradisi Baku ini sebagai upaya menjaga dan mengembangkan ajaran Islam dengan karakteristik masyarakat setempat. Wallahu a’lam.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals