Menanti Badai untuk Berganti Cahaya Surya

Aku sadar sebenarnya. Bahwa di dunia ini, hanya ada dua kemungkinan. Yaitu bahagia dan Sedih.


Gambar: Ian Clark | Saatchi Art

Ternyata mengaplikasikan “la ilaha illalloh” tak semudah yg ku bayangkan.
Dulu, semasa kecil kita bersenandung “miftahul jannah la ilaha ilalloh”.
Dalam pikiranku kok gampang ya masuk surga cuma dengan la ilaha illalloh.

Tapi, ternyata…
Saat ini aku tersadar.
La ilaha illalloh, luas maknanya.
Bagaimana aku harus kembali mengingat bahwa aku punya Tuhan yang Maha Segalanya.

Seringkali aku seperti menghina-Nya.
Misalnya, akhir-akhir ini aku sering merasa cemas atas masa depanku ke depan.
Tentang pertanyaan siapa sih aku? Aku akan jadi apa ke depan? Aku mau ke mana? Aku seperti makhluk yang tak berguna.

Aku sadar sebenarnya. Bahwa di dunia ini, hanya ada dua kemungkinan.
Yaitu bahagia dan Sedih. Sudah itu saja.

Tapi, apa?
Aku seringnya ingat kepada Tuhanku hanya ketika bersedih saja.

Begitupun pergaulanku dengan sesama, dekat terlalu dekat ternyata memberikan kemungkinan untuk terjadinya gesekan.

Tapi, dari sisi lain juga aku berpikir, bagaimana aku bisa mengerti dan memahami mereka jika aku tidak terjun.

Keinginan untuk marah, kesel lan sapiturute pasti ada.
Tapi, aku harus berpikir lagi. Ternyata marah hanyalah masalah peperanganku dengan diriku sendiri.
Tentang aku mau mengerti mereka atau tidak.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Rohmah Saadah

Rohmah Saadah, sedang menempuh S1 Ilmu al-Quran dan Tafsir di STAI Sunan Pandanaran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Puisi

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals