Abu Hurairah; Warisan Rasulullah SAW untuk Umatnya


Tujuan daripada diutusnya Rasulullah SAW ke muka bumi ini tak lain adalah menyempurnakan akhlak seluruh manusia, terutama kepada Allah SWT. Selain itu, dakwah juga merupakan misi utama Rasulullah SAW dalam mengajak manusia menyembah Sang Maha Kuasa. Sepeninggal Rasulullah, para Sahabat pun melanjutkan dakwah sebagai warisannya.

Rasulullah tidak pernah mewariskan harta, tahta, dan dunia, melainkan ilmu yang beliau wariskan kepada seluruh umat dan keturunannya. Kenapa harus ilmu yang menjadi warisannya? Karena dengan ilmu derajat seseorang akan diangkat oleh Allah SWT, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mujadalah ayat 11; “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Selain ayat di atas, ada sebuah kisah yang juga menceritakan tentang warisan Rasulullah SAW kepada para Sahabatnya. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Abu Hurairah r.a, di saat ia melewati sebuah pasar di kota Madinah, tiba-tiba langkahnya terhenti oleh keramaian orang-orang yang di pasar itu. Lalu Abu Hurairah berkata, “Alangkah lemahnya kondisi kalian!,” mendengar perkataan Sahabat Nabi tersebut, tentu penduduk pasar terkejut, kemudian mereka bertanya kembali, “Wahai Abu Hurairah, mengapa engkau mengatakan demikian? Kenapa dengan kondisi kita?”

Tak lama kemudian, beliau menjelaskan apa maksud dari ucapannya, “Sekarang kalian pergilah ke Masjid, di sana Rasulullah meninggalkan warisan kepada seluruh umatnya dan saat ini sedang dibagi-bagi. Mengapa kalian tetap di sini? Segeralah bergegas dan mintalah jatah bagian kalian.” Tak ingin kehilangan warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah, akhirnya mereka bergegas meninggalkan aktivitasnya di pasar, semua barang jualan dan toko mereka ditutup demi mengambil sebuah harta peninggalan.

Dalam perjalanan menuju masjid, mereka pun berangan-angan, “Apa ya jatah bagianku?”, Semua dari mereka memimpikan harta yang melimpah ruah. Sudah bisa diambil kesimpulan dari perekataan mereka bahwa yang namanya warisan itu pasti berupa harta dan dunia. Namun, perlu diingat bahwa warisan itu tidak selamanya berupa harta dan tahta, bisa jadi berupa nasihat dan wejangan yang baik agar kelak menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.

Akhirnya mereka tiba di depan halaman masjid, tak sabar ingin menerima bagiannya, mereka pun langsung masuk ke dalam masjid. Akan tetapi, mereka tidak melihat ada satu orang pun yang sedang membagikan harta warisan. Tidak ingin menunggu lama meninggalkan bisnis mereka yang ada di pasar, mereka pun langsung kembali ke pasar dan menemui Abu Hurairah.

Dalam perjalanan pulang, mereka saling bertanya satu sama lain, “Mengapa seorang sahabat Nabi seperti Abu Hurairah, tega membohongi kita?” “Ya sudah biarkan saja, coba nanti kita tanyakan apa maksudnya dia membohongi kita,” jawab yang lain.

Sesampainya di pasar, Abu Hurairah tetap berdiri di tempat semula sambil menunggu kedatangan mereka, dan beliau bertanya kepada mereka, “Bagaiamana sudah kalian ambil bagian kalian?” “Sungguh tega engkau Abu Hurairah, membohongi kami! Padahal kami begitu memuliakan engkau sebagai Sahabat Nabi,” jawab mereka dengan nada kecewa. “Bagaimana mungkin saya membohongi kalian? Apa kalian tidak melihat sesuatu di dalam masjid itu,” tegas Abu Hurairah.

Dengan perasaan hampa mereka menjawab, “Saya tidak melihat ada pembagian harta warisan di sana, yang kami lihat hanya ada beberapa kelompok orang yang membentuk halaqah. Ada satu kelompok yang berdiskusi tentang halal dan haram, ada kelompok lain yang sedang membaca Al-Qur`an, dan ada pula yang sedang melaksanakan sholat sunnah.”

Abu Hurairah pun tertawa mendengar jawaban dari penduduk pasar dan menjelaskan, “Celaka kalian! Asal kalian tahu, itu adalah warisan Rasulullah SAW untuk umatnya, agar kalian bisa menjaga warisan Nabi dengan mengajarkan kepada orang yang membutuhkan. Rasulullah SAW tidak pernah mewariskan harta kepada umatnya, beliau hanya mewariskan ilmu agar supaya diamalkan.” Perkataan Abu Hurairah tersebut sejalan dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabarani di dalam kitab al-Ausath:

إِنَّ العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوْا العِلْمَ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dirham ataupun dinar, hanya ilmu yang diwariskan oleh para Nabi.”

Kisah di atas bukanlah satu-satunya cerita yang menjelaskan pentingnya menuntut ilmu, ada banyak lagi cerita dan kalam para ulama yang menjelaskan bahwa ilmu merupakan bekal di dunia dan akhirat. Seperti perkataan Imam As-Syafi`i dalam kitab al-Manhaj as-Sawi, “Orang yang ingin hidup di dunia, maka bekalilah dirinya dengan Ilmu dan barang siapa yang ingin hidup di akhirat, maka bekalilah dengan ilmu pula. Karena ilmu dibutuhkan di dunia dan akhirat.” Di samping itu, Imam Ahmad ibn Hambal meriwayatkan Hadits dari Ibnu Mas`ud:

اِنَّ الدُنْيَا يُعْطِيْهَا اللهُ مَنْ يُحِبُّ وَ مَنْ لَا يُحِبُّ وَ لَايُعْطِي العِلْمَ اِلَّا مَنْ يُحِبُّهُ مِنَ الاَبْرَارِ

“Sesungguhnya Allah SWT memberikan dunia kepada setiap orang, baik yang Dia dicintai maupun yang tidak dicintai. Namun Allah SWT tidak akan memberikan ilmu kecuali kepada orang yang Dia cintai (taat kepada Allah SWT).”

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Hilmi Ridho

Hilmi Ridho, lahir di Grujugan Kidul, Bondowoso 13 Desember 1996, pendidikan dasarnya ia tempuh di SDN I Grujugan Kidul, Bondowoso (2001-2007), SMPN 02 Grujugan Kidul, Bondowoso (2007-2010), kemudian setelah selesai menempuh pendidikan menengah pertema, penulis melanjutkan studinya di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo, Situbondo SMA 1 Ibrahimy Sukorejo (2010-2013), S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam di Universitas Ibrahimy Sukorejo (2013-2017), S2 Fakultas Hukum Ekonomi Syariah Universitas Ibrahimy Sukorejo (2017-2019), selain itu penulis juga merangkap di pendidikan tinggi keagamaan Ma`had Aly Marhalah Ula (2014-2017) dengan konsentrasi Fiqh dan Ushul Fiqh, Ma`had Aly Marhalah Tsaniyah (2017-2020) dengan konsentrasi Nushus dan Maqasid Syari`ah. Hingga saat ini penulis masih aktif menjadi santri di pondok pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo, Situbondo. Penulis aktif sebagai kontributor NU Online, Muallimin Amtsilati Jawa Timur, Sidang Pelaksana Buletin Tanwirul fkar, Anggota Kaderisasi IKSASS Bondowoso. pernah menjadi Speaker dalam acara Muktamar Pemikiran Santri Nusantara 2018 yang diadakan oleh Kementerian Agama RI yang bertempat di Pon-Pes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, Finalis 4 besar Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat Nasional 2018 yang diadakan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals