Rabuk Sikil dan Lereng Merapi

Rabuk Sikil di Lereng Merapi telah mengajarkan kehidupan yang harmonis antara alam sebagai makrokomos dengan manusia sebagai microkosmos.


Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis

KKN Pengenalan Tegalrejo

Momentum Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengantarkan kami untuk bermukim di dusun Tegalrejo selama sebulan. Sebuah dusun kecil di lereng merapi dengan bentang alam yang asri dan kultur masyarakatnya ramah. di tepian kawah candradimuka yang bisa meletus semaunya itu, masyarakat lereng merapi yang agraris itu mengenal rabuk sikil sebagai kearifan lokal.

Secara administratif Tegalrejo masuk ke dalam wilayah Padukuhan Rejodadi, Kelurahan Bangunkerto, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dusun yang memiliki sekitar 70 Kepala Keluarga itu hidup berdampingan dengan perkebunan. Baik perkebunan salak yang merupakan komoditas utama, maupun sayuran sebagai tanaman sampingan.

Serba-serbi KKN

Selama rentang waktu satu bulan, kami anggota KKN 102 UIN Sunan Kalijaga Kelompok 198 banyak belajar dari kehidupan masyarakat. Sejenak, kami mencoba menggeser ego untuk tidak menerapkan ideal dalam kacamata yang kami anut untuk menilai masyarakat Tegalrejo. Semua berjalan layaknya anak kecil yang manut dengan orang tuanya.

Baca juga: Suami atau Orang tua?

Secara simpel kami mengikuti kultur dan keseharian yang mereka jalani, walaupun terkadang ada pertanyaan iseng yang terlontar. Tentu untuk mempertanyakan kegelisahan kami seputar kultur dan keseharian mereka itu.

Metode yang Kami Pilih

Sebagai bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat, kami tidak hanya belajar dan menyerap nilai-nilai positif yang muncul dari interaksi sosial selama berkegiatan di sana. Akan tetapi, kami juga menjalankan program kerja sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat. Program ini merupakan kolaborasi ide antara mahasiswa dan masyarakat yang kemudian mendapat dukungan dari pemangku kekuasaan di sana.

Proses kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat menggambarkan adanya kesetaraan di antara keduanya dalam proses pelaksanaan pemberdayaan. Hal itu sesuai dengan metode yang menjadi acuan dalam proses pemberdayaan kali ini yaitu PAR (participatory action research). Metode ini mengharuskan mahasiswa memposisikan masyarakat sebagai pelaku aktif dalam proses pemberdayaan.

Hal ini mengantisipasi adanya ketergantungan masyarakat terhadap mahasiswa yang sebenarnya hanya bertugas sebagai fasilitator dalam program pemberdayaan. Mengingat mahasiswa memiliki jangka waktu yang pendek untuk melakukan pendampingan.

Di sisi lain kelanjutan dari setiap program yang telah tersusun dalam rencana menjadi tanggungjawab masyarakat untuk pengembangan selanjutnya.

Tema dan Pelaksanaan Pengabdian

Pada tahun ini, tema besar yang menjadi fokus kampus adalah tentang Covid-19 dan kondisi sosial keagamaan di era pandemi. Dengan begitu, masjid menjadi tempat sentral dalam berkegiatan. Pendampingan tersebut meliputi pendirian TPA, sosialitasi prokes, pembuatan masker kain, dan kebun keluarga. Semua program tersebut memiliki tujuan memberikan pemahaman tentang pentignya prokes dalam aktivitas sosial keagamaan, serta kemandirian pangan.

Baca juga: Era Baru Pasca-Pandemi: Mengembalikan Manusia Ruang yang Mulai Usang

Selain menjalankan program kerja, kegiatan KKN juga mendorong mahasiswa agar dapat menerapkan ilmu dari kampus guna kepentingan masyarakat. Dengan harapan mahasiswa juga mau belajar dari kehidupan masyarakat. Mulai dari cara bersosial, membangun gotong royong, dan menyerap kearifan lokal yang ada di sana sebagai tambahan wawasan.

Sebagai daerah yang dianugerahi tanah subur, Tegalrejo menjadi rumah bagi puluhan petani salak. Di sana kami belajar banyak tentang pengetahuan seputar pertanian dan kearifan lokal kepada para petani. Mengingat kultur bertani sudah menjadi sebagai ruh dalam kehidupan mereka. Selama proses belajar tentang pertanian, kami menemukan keunikan dari para petani di lereng merapi, yaitu adanya spirit–ruh–etos kerja rabuk sikil.

Rabuk Sikil sebuah Kearifan Lokal Masyarakat Lereng Merapi

Secara harfiah kata “Rabuk Sikil” memiliki arti pupuk kaki. Sebuah istilah baru yang menggelitik rasa penasaran kami. Setelah melalui perbincangan dengan sesepuh desa, gambaran tentangnya semakin jelas. Beliau menuturkan, bahwa ada wejangan dari nenek moyang terdahulu yang menyatakan semakin rajin menyambangi kebun akan berdampak pada suburnya tanah kebun tersebut.

Tidak ada sumber yang pasti, apakah istilah rabuk sikil ini berkembang di daerah lain atau tidak. Tetapi rasanya kami, mahasiswa KKN baru pertama kali mendengar istilah tersebut, tepatnya ketika berinteraksi dengan masyarakat dusun Tegalrejo.

Menurut penuturan Mbah Tris, sesepuh desa yang rumahnya menjadi posko KKN. Istilah rabuk sikil ini adalah wejangan yang telah turun-temurun dan menjadi sebuah kepercayaan sekaligus spirit masyarakat. Spirit tersebut mendorong masyarakat untuk lebih giat mengunjungi kebun mereka. Walaupun terkadang hanya sekedar melihat-melihat saja, karena tidak setiap hari ada pekerjaan di kebun tersebut.

Kebiasaan berkunjung ke kebun setiap hari yang merupakan rutinitas masyarakat agraris pada umumnya. Ternyata bagi masyarakat Tegalrejo memiliki makna yang berbeda, karena terdapat alasan normatif berupa keyakinan bahwa kebun akan semakin subur.

Spirit Rabuk Sikil di Lereng Merapi

Pada generasi-generasi setelahnya kepercayaan tersebut kemudian terimplementasi menjadi sebuah spirit etos kerja yang menjadikan berkebun sebagai sebuah kultur. Hal ini kemudian berdampak pada munculnya inovasi untuk mencoba berbagai alternatif guna memaksimalkan lahan miliknya, agar kultur berkebun tetap terjaga.

Berkebun sebagai bagian dari laku kehidupan dan kultur telah membentuk pola kesadaran di masyarakat agar tidak berpatokan pada hasil dan kuantitas komoditas belaka. Proses perawatan juga menjadi aspek penting laku ini, agar tidak merusak keseimbangan alam serta menjaga kelangsungan alam sebagai bagian dari kehidupan mereka. Pola seperti ini menjadikan hasil panen dapat terjaga kualitasnya dengan tetap mengupayakan kuantitasnya.

Rutinitas tersebut juga mendorong petani untuk melakukan kontrol secara teratur terhadap tanaman di kebun mereka. Dengan begitu mengasah petani untuk lebih peka terhadap kebutuhan perawatan tanaman. Termasuk penggunaan pupuk yang sesuai takaran serta metode pembasmian hama secara tradisional dengan meminimalkan penggunaan pestisida. Hal ini dapat terjadi karena kontrol yang intens sehingga penanggulangan hama dapat terjadi sejak dini.

Rabuk Sikil di Lereng Merapi dan Ekoteologitani

Kultur berkebun seperti ini juga akan melatih rasa untuk memahami berbagai tanda alam yang berhubungan dengan kelangsungan tanaman. Seperti musim, perkembangan cuaca dan sebagainya. Hal ini membuat petani semakin lihai dalam mengontrol tanaman serta memilih jenis tanaman yang tepat. Termasuk memperhatikan siklus tanam dan proses peremajaan tanah yang baik.

Rabuk sikil sebagai sebuah spirit etos kerja masyarakat membuktikan kedekatan masyarakat Tegalrejo dengan alam yang menjadi tempat tinggal sekaligus sumber mata pencaharian mereka. Hal itu membuat proses kehidupan berjalan secara harmonis dengan saling menjaga satu sama lain.

Spirit seperti ini harus terus terpelihara menjadi sebuah kearifan lokal yang nantinya akan mendorong adanya keseimbangan antara alam sebagai makrokosmos dan manusia sebagai mikrokosmos. Ini penting, agar kebun sebagai bagian penopang sumber pangan dapat terus memenuhi kebutuhan manusia, di samping tetap terjaga kelangsungan alamnya sebagai ekosistem dan tempat tinggal manusia.

Artinya, secara tidak langsung semangat ini juga bisa berfungsi sebagai penghalang terjadinya penggarapan lahan secara eksploratif yang akan menjadikan alam tidak seimbang dan menimbulkan bencana yang tentu akan merugikan manusia.

Refleksi Rabuk Sikil di Lereng Merapi bagi Kelangsungan Kultur Ekosistem

Sayangnya hari ini yang menjadi tujuan dalam proses pertanian oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia adalah kuantitas hasil panen. Tak jarang hal-hal yang merugikan terhadap kelangsungan alam tidak terindahka. Oleh karena itu, akan berdampak negatif pada kelangsungan alam serta munculnya berbagai bencana.

Untuk itu penting bagi kita agar kembali menerapkan kearifan lokal sebagaimana warisan nenek moyang terdahulu, salah satunya rabuk sikil ini. Agar alam dapat merawat kita dengan menghasilkan sumber makanan, menyediakan tempat tinggal serta ekosistem yang mendukung kelangsungan kehidupan manusia.

Lalu, sampai kapan kita akan terus merusak alam demi sikap egois dan keangkuhan?

Editor: Sukron Jazila
——-
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

[zombify_post]

Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI