Uzlah dan Pejabat

sebelum sufi mengenal Tuhan, ia takut kepada pejabat negara, ia takut kepada tentara bersenjata


Sumber gambar: Republika.co.id

Agaknya setiap diri kita tertanam naluri kesufian. Kita mudah takut, luluh, lentur di hadapan rupa-rupa tekanan. Meski semula seseorang tampak gagah lagi berani, namun bisa saja secara tiba-tiba tunduk oleh entah apa pun itu.

Ini persis terjadi pada seorang pejabat di kota saya. Ia bukan hanya dikenal sebagai politikus yang bernyali besar, namun juga intelektual yang mumpuni. Musuh-musuh politiknya acap kali dibuat berlutut setiap gelar musyawarah. Ia seolah punya taji yang mampu melunakkan siapa saja.

Bapak saya, pada waktu itu, termasuk salah seorang yang mengaguminya. Sangking kagum, foto pejabat yang doyan menggunakan rompi itu selalu disisip dalam dompet. Memang selain terkenal ‘pandirnya’ ia sangat royal bagi-bagi bantuan ke masyarakat, mulai dari sekotak indomie hingga semenisasi.

Singkat kisah, ia tiba-tiba surut dari hiruk-pikuk politik. Tersebar desas-desus dia telah mengundurkan diri dari jabatan pimpinan partai, sekaligus ketua DPRD. Masyarakat dibuat terheran-heran, lawan politiknya tentu girang bukan main. Apa gerangan?

Keheranan masyarakat diganjal dengan isu yang bercabang: ia ditangkap polisi, ditangkap KPK, melarikan diri, bahkan ada yang tega-teganya mengatakan, Pak Dewan dibunuh, dan beraneka berita simpang siur lainnya.

Saya yang pada waktu itu turut dirundung penasaran, spontan memberanikan diri menghampiri anak Pak Dewan, yang merupakan kakak tingkat di sekolah. “Bapak saya baik-baik saja”, tuturnya dengan nada agak lesu.

Ya. Pak Dewan ternyata baik-baik saja. Jauh lebih baik bahkan. Belakangan diketahui ternyata ia menempuh ‘jalan sunyi’, sebutan lain dari uzlah atau hijrah. Anehnya, langkah Pak Dewan itu ternyata menular ke banyak pejabat. Dengan kata lain, menginspirasi. Lalu, uzlah menjadi sebuah tren.

Pada titik ini, saya melihat adanya transformasi batin yang cukup menukik. Dari satu dimensi ke dimensi lainnya. Barangkali ini bertolak pada pencapaian pengenalan atas diri, kemudian meniscayakan munculnya semacam ‘ketakutan’, dari level akut hingga super akut. Kondisi (ahwal) ini diterjemahkan lewat ragam laku. Pada intinya, manusia butuh suasana yang sejumbuh dengan gejolak jiwa. Jadilah uzlah salah satu haluan.

Para pejabat, politikus, konglomerat, agak cenderung, bahkan mutlak, memiliki lalu lintas jiwa yang bukan main sibuk, macet, juga pengap. Suatu masa, lalu lintas tersebut akan meluber dan bergeser ke kondisi yang sebaliknya: tenang, damai, dan penuh tangisan. Amien Wangsitalaja dalam “Perawan Mencuri Tuhan”, melukiskan pergeseran jiwa tersebut dengan cukup aduhai:

sebelum sufi mengenal Tuhan
ia takut kepada pejabat negara
ia takut kepada tentara bersenjata

setelah sufi mengenal Tuhan
ia takut menjadi pejabat negara
ia takut menjadi tentara bersenjata

(Maret, 2004)

Baik fase sebelum maupun sesudah mengenal Tuhan, manusia tidak lekang dari ketakutan, selalu berposisi sebagai subjek yang dikekang. Bedanya, ada yang menelan ketakutan sebagai ancaman, ada pula sebagai limpahan nikmat atau katalisator menuju insan purna.

Terlepas dari itu, jalan uzlah yang ditempuh para pejabat, apakah bisa diartikan sebagai konsekuensi psikologis, atau tanda terbitnya titik jenuh? Jika iya, apakah ini hal biasa dari keadaan jiwa manusia-manusia politik?

Pertanyaan berikutnya, setelah mereka berbondong-bondong uzlah, bagaimana nasib meja birokrasi, dampaknya tidak seberapa jika pejabat kelas teri, tidak terlalu signifikan. Kalau kelas kakap, dampaknya akan luar biasa seperti yang terjadi kepada Pak Dewan kota saya.

Jungkir balik kebijakan benar-benar terasa. Apa tidak mungkin mereka, ‘pejabat uzlah’, akan dilabeli pemimpin yang abai, acuh, lagi oportunis. Karena tekanan batin, yang mekanisme agak sulit dipahami masyarakat, mereka malah mengabaikan tekanan batin masyarakat yang bermuara dari kebijakan-kebijakan serampangan dari meja dewan.

Bukankah ketimpangan sosial, ketidakadilan, dan carut-marut ekonomi merupakan turunan dari ketidakbecusan penguasa. Mereka beruzlah namun menyisakan getir di batin rakyat. Jika demikian, bisakah uzlah mereka disebut uzlah, yang sejatinya soal pemurnian budi dan hati?

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
2
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals