Post-Strukturalisme: Mengapa Strukturalisme tak Selesai?

Suatu perubahan tak akan muncul tanpa adanya hantaman, dalam kata lain, kita sebut sebuah kritik. Mengapa demikian?


Sumber gambar: arsipide.com

Selama matahari masih menampakkan semburat dari arah timur, selama itu pula kehidupan dan segala tetek bengeknya tak dapat kita klaim “selesai.” Begitu juga dengan fenomena, gejala, konstruksi dan teori-teori.

Jika dilihat dari mekanismenya, kurang lebih seperti ini: muncul-berkembang-dikritik-muncul lagi (dengan nafas yang lebih segar). Ya, begitulah seterusnya. Selalu ada perubahan dan perkembangan.

Suatu perubahan tak akan muncul tanpa adanya hantaman, dalam kata lain, kita sebut sebuah kritik. Mengapa demikian? Karena, jika sesuatu telah dianggap selesai, maka hal itu tak akan ada indikasi untuk berkembang dan berbenah ke arah yang lebih baik.

Perubahan-perubahan yang sangat mendominasi dalam lini kehidupan manusia adalah budaya. Di samping itu, kajian-kajian mengenai kebudayaan atau “Cultural Studies” pada akhirnya juga turut mengamini, bahkan mengaplikasikan perubahan-perubahan tersebut.

Dalam tulisan ini, saya hendak sedikit “melucuti” perubahan, yang terutama, terselubung dalam kajian kebudayaan (cultural studies).

Bagi strukturalis−Ferdinand de Saussure, sebagai tokoh strukturalisme terkemuka, bahasa merupakan suatu unsur utama dan pertama untuk menyoroti struktur pada berbagai fenomena.

Dengan kata lain, strukturalisme merupakan sebuah paham yang mengimani bahwa segala sesuatu yang ada dalam dunia ini mempunyai struktur, dan untuk mengetahui struktur tersebut menggunakan pendekatan linguistik (bahasa).

Jadi, sebuah fenomena hanya akan bermakna ketika dikaitkan dengan struktur sistematis pada individu.

Strukturalisme ini mulai berkembang pada tahun 1960-an yang diorientasikan untuk mengetahui struktur-struktur yang mendasari bahasa, sehingga ada elemen-elemen dan tanda-tanda yang saling berrelasi.

Fokus kajian ini juga berfokus pada sistem. Oleh karena itu, terdapat “kematian subjek” atau dalam bahasa lunaknya adalah “tidak menjadikan individu sebagai sentral”.

Dengan prinsip-prinsipnya yang kerap kita kenal, yakni: difference, tanda, langue/parole, hierarki tanda, dan relasi tanda, ternyata strukturalisme masih memiliki kekurangan.

Baca juga: Prinsip Teori Evolusi dalam Media Sosial

Oleh karenanya kekurangan-kekurangan itu melahirkan paradigma baru yaitu “Post-strukturalisme”. Lantas bagaimana post-strukturalisme melengkapi sekaligus menghantam strukturalisme dengan kritik-kritiknya.

Sebagaimana kita ketahui, kata “Post” artinya sesudah, melampaui, atau kelanjutan. Post-strukturalisme bisa berarti kelanjutan dari strukturalisme. Mengapa strukturalisme perlu dilanjutkan dan dilampaui?

Sebab, strukturalisme mengacu pada sesuatu yang pasti dan konkrit tanpa menghadirkan aspek konseptual. Oleh karena itu, post-strukturalis hadir untuk menghadirkan aspek konseptual.

Strukturalisme pada mulanya memiliki asumsi bahwa pengetahuan tentang teks maupun budaya akan berdampak secara utuh, bahkan larut secara emosional. Padahal, pembaca juga memiliki sikap kritis terhadap teks tersebut.

Hal inilah yang diselami oleh post-strukturalisme, yaitu melakukan analisis subjek, baik penulis maupun sebagai pembaca dan memposisikan subjek sebagai sebuah kesadaran yang mengisi struktur dalam sebuah teks atau budaya.

Dari situlah muncul teori “Dekonstruksi” dalam jubah post-strukturalisme yang ditawarkan oleh Derrida. Menurut Derrida, kebenaran suatu konsep atau yang terdapat pada makna teks tidak dapat kita unggulkan dan kita amini begitu saja.

Sebab, jika mengacu pada makna yang dibawa secara totalitas oleh pengarang, bagaimana teks itu bisa berkembang dan kontekstual? Oleh karenanya Derrida menawarkan dekonstruksi, sebagai metode pembacaan teks agar dapat dimaknai secara kontekstual dan meninggalkan habit logosentrisme yang digaungkan oleh para pemikir modernis.

Meskipun post-strukturalisme “sekata” dan “seia” mengenai pentingnya pembentukan linguistik pada kehidupan manusia serta fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya, tapi ada satu hal yang luput dari pertimbangan strukturalisme.

Baca juga: Implementasi Teori Tindakan Sosial Weber dalam Wacana Studi Al-Qur’an

Suatu kebudayaan, menurut strukturalis, adalah abstraksi yang sudah ada dan terbentuk di dalamnya. Kebudayaan berlaku secara deterministik. Kekuasaan tidak serta merta dihadirkan dalam terbentuknya sebuah kebudayaan. Hal itulah yang menjadi refleksi dari tokoh post-strukturalisme: Michael Foucault.

Michael Foucault menawarkan satu teori yang disebut sebagai teori wacana. Menurutnya, cara mengetahui suatu realitas, terlebih dahulu perlu menyingkap wacana yang ada di baliknya. Karena itu, suatu wacana menerapkan kekuasaan pada manusia.

Post-strukturalis juga menguraikan bahwa individu-individu sangat ditentukan oleh wacana. Oleh karenanya, wacana menjadi pendorong bagaimana individu dapat “menjadi” seseorang.

Menyelami samudera post-strukturalisme memang rumit. Tapi ada satu contoh pemakaian “jubah” post-strukturalisme dalam kajian budaya.

Dalam banyak iklan maskapai pesawat terbang, baik di televisi maupun di media-media online, selalu menampakkan pramugari (perempuan) dalam memperkenalkan fitur-fitur dan kelebihan maskapai penerbangan tersebut. Hal semacam ini, kaum strukturalis akan membaca dengan perbedaan oposisi biner yakni laki-laki dan perempuan.

Namun, bagi post-strukturalisme hal itu masih sangat kurang dan belum selesai. Tanpa kita sadari, pengiklanan semacam itu membangun konstruksi superior dan inferior.

Di mana seorang laki-laki sebagai superior karena bebas bisa bepergian kemana saja; sementara perempuan menjadi inferior karena harus di rumah saja, fokus pada urusan logistik, dan lebih parahnya, perempuan dijadikan objek.

Hal itulah yang menjadi kritik sekaligus bangunan baru dari post-strukturalisme. Jika struktural hanya berfokus pada struktur yang ada pada fenomena iklan tersebut. Maka post-strukturalisme mencoba menangkap adanya wacana yang membentuk serta mengkritisi adanya oposisi biner pada strukturalisme.

Sebab, oposisi biner hanya akan berdampak pada diskriminasi dari yang superior terhadap inferior; meng-objek-kan sesuatu yang seharusnya menjadi subjek, seperti perempuan, misalnya.

Seperti yang diuraikan di atas, jika iklan tersebut diamini begitu saja oleh strukturalisme−tanpa disempurnakan oleh post-strukturalisme−maka selama itu pula perempuan dianggap sebagai struktur yang hanya berada pada ranah logistik (rumah) dan laki-laki menempati struktur yang bebas keluar ke mana saja.

Editor : Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ainu Rizqi

Master

Tim Redaksi Artikula.id | Alumni Pondok Pesantren Darul 'Ulum. Mahasiswa jurusan Akidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals