Implementasi Teori Tindakan Sosial Weber dalam Wacana Studi Al-Qur’an

Al-Qur’an tak hanya berkaitan dengan sarana kegiatan atau proses memperoleh ilmu pengetahuan, kesadaran, ataupun perasaan, namun juga perlu tindakan.


Sumber gambar: Koleksi Pribadi

Max Weber merupakan salah seorang sosiolog. Ia mendefinisikan Sosiologi sebagai ilmu yang berupaya memahami tindakan sosial. Sedangkan tindakan sosial ialah setiap perbuatan atau tindakan manusia yang memiliki arah dan tujuan tertentu.

Teori yang ditawarkan Weber dalam tindakan sosial ada empat tipe, yaitu instrumentally rational, value rational, affectual, dan traditional. Di antara teori Weber yang dapat diimplementasikan dalam studi Al-Qur’an adalah instrumentally rational dan value rational.

Instrumentally rational, yaitu tindakan-tindakan yang ditentukan oleh harapan-harapan yang memiliki tujuan untuk dicapai dalam kehidupan manusia yang bertujuan untuk mencapai hal tersebut, serta telah dirasionalkan sedemikian rupa untuk dapat diraih pelaku.

Sedangkan value rational, yaitu tindakan yang didasari oleh kesadaran keyakinan mengenai nilai-nilai yang penting, seperti etika, estetika, agama dan nilai-nilai lainnya yang mempengaruhi tingkah laku manusia dalam kehidupan (Ambo Upe, 2010).

Baca juga: Al-Qur’an dalam Dua Dimensi

Al-Qur’an menjadi pedoman bagi umat Islam tak hanya berkaitan dengan sarana kegiatan atau proses memperoleh ilmu pengetahuan, kesadaran, ataupun perasaan, namun juga perlu adanya tindakan, aksi dan implementasi. Adapun tindakan sosial umat Islam didasari oleh nilai-nilai spirit al-Qur’an, di antaranya adalah:

Pertama, menginfakkan sebagian harta di jalan Allah (Lihat ayat 262 dalam surah Al-Baqarah: 2).

Kegiatan seperti infak, sedekah, berbagi makanan kepada yatim piatu dan fakir miskin, merupakan suatu hal yang dianjurkan bagi masyarakat muslim. Dalam ayat di atas telah disebutkan bahwa Allah akan memberi pahala bagi mereka yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, dengan syarat tidak menyebut-nyebut dan membanggakan nikmat tersebut (Quraish Shihab, 2006).

Jika ayat tersebut dihubungkan dengan teori Weber, maka dapat dipahami bahwa dalam pelaksanaan infak dan sedekah, seorang muslim memiliki suatu harapan dan tujuan. Tindakan berinfak dan bersedekah memiliki nilai instrumentally rational, karena nilai spirit berbagi (the power of giving) sangat terlihat dalam ayat tersebut.

Tujuan umat muslim menginfakkan sebagian hartanya semata-mata ingin mendapat pahala dari Allah Swt. Paradigma tafsir tersebut memiliki nilai kemanusiaan dalam gerakan sosial kemasyarakatan. Sekaligus sebagai dakwah dan khidmah (pengabdian) pada bangsa dan negara, serta usaha untuk merealisasikan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Sedangkan tujuan hidup umat muslim ialah untuk mendapatkan kedudukan mulia di sisi Tuhannya (Allah), dan orang yang paling mulia ialah orang yang bertakwa. Infak dan sedekah pun tak hanya dianjurkan ketika seseorang dalam keadaan memiliki harta saja (Quraish Shihab, 2006).

Hal tersebut ini dalam Surat Ali-Imran ayat 134, bahwa salah satu karakter yang dimiliki seorang yang bertakwa ialah yunfiquuna fi as-sarra' wa adh-dharra', yakni menafkahkan hartanya baik di waktu lapang ataupun sempit. Dengan adanya ayat tersebut, sebagai motivasi seseorang agar berinfaq di jalan Allah tanpa menyebut-nyebut tentang apa yang ia beri.

Kedua, belajar (Lihat ayat 11 dalam surah Al-Mujadalah: 58).

Bentuk tindakan sosial yang secara umum terjadi di masyarakat adalah belajar. Secara tegas Allah Swt. akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Derajat mereka lebih tinggi dari orang-orang yang sekedar beriman. Ilmu yang dimaksudkan dalam ayat tersebut bukanlah hanya ilmu agama, tetapi apapun yang bermanfaat (Quraish Shihab, 2006).

Jika ayat di atas dihubungkan dengan teori Weber, maka terdapat nilai dalam kegiatan belajar tersebut, yakni mendapat derajat yang tinggi (mendapat kedudukan yang mulia). Kesadaran belajar yang terus dilakukan akan melahirkan sebuah karakter atau tindakan (value rational). Seluruh kegiatan belajar yang dilakukan umat muslim semata-mata berharap akan pahala dan kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt.

Tindakan yang dilakukan seseorang akan lahir dan melahirkan perilaku sosial. Perilaku sosial yang memiliki landasan ilmu akan terlihat lebih dinamis, yakni akan terciptanya ilmu yang amaliyah dan amal yang ilmiah. Dengan adanya ayat tersebut, maka seseorang akan termotivasi untuk selalu belajar agar meningkatkan kualitas diri dan memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah swt.

Ketiga, berpuasa di bulan Ramadhan (Lihat ayat 183 dalam surah Al-Baqarah: 2).

Contoh konkret dari tingkah laku manusia dalam ritual keagamaan yang termaktub dalam al-Qur’an ialah melaksanakan ibadah puasa dalam bulan Ramadhan. Perintah untuk melaksanakan ibadah puasa dalam ayat di atas merupakan wasiat yang ma’ruf bagi umat muslim. Ibadah puasa merupakan ibadah mahdhah yang bersifat vertikal. Perintah puasa tersebut diwajibkan dengan tujuan agar termasuk orang-orang bertakwa (Quraish Shihab, 2006).

Jika dihubungkan dengan teori Weber, ibadah puasa yang dilakukan umat muslim semata-mata karena keyakinan atas adanya nilai (value rational), yakni berharap agar mendapat pahala dari Allah swt, serta memiliki harapan agar mendapat maqam mahmudah di sisi-Nya, yakni termasuk orang-orang yang bertakwa.

Baca juga: Revolusi Mental Perspektif Al-Qur’an

Secara nyata, kehidupan umat muslim tak terlepas dari value rational. Jika ditelaah, dalam wacana studi Al-Qur’an, teori Weber memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai dalam Al-Qur’an yang mempengaruhi tindakan manusia. Tindakan tersebut terealisasikan dengan beragam hal, seperti menginfakkan sebagian harta di jalan Allah, belajar, dan berpuasa di bulan RamadhanHal ini diharapkan dapat membentuk tindakan umat muslim agar istiqomah dalam mengamalkan nilai-nilai dalam Al-Qur’an ke dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi:

Shihab. Muhammad Quraish. 2006. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.

Upe, Ambo. 2010. Tradisi Aliran Dalam Sosiologi. Jakarta: Rajawali Press.

Editor : Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals