Pendidikan di Persimpangan Makna: Antara IQ dan EQ

Pendidikan kita hari-hari ini berada di pesimpangan makna, karena masih berkutat pada hegemoni teori IQ yang berujung pada prestasi akademik semata.***


Pikiran warga telah berayun mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Wajar, bila banyak kalangan memandang kekayaan sebuah bangsa bukan lagi terletak pada emas, tembaga, batu bara, gas, dan mutiara melainkan pada potensi kecerdasan intelektual (IQ) warganya. Pendidikan menjadi organ yang paling berpengaruh dalam mencetak IQ yang unggul dan berdaya saing. Maka tidak berlebihan bila Nelson Mandela mengatakan “pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia”.

Sayangnya, soal kesuksesan hidup tidak dipatok sepenuhnya dari potensi IQ yang diolah dalam sektor pendidikan. Cobalah pikirkan secara saksama mengenai atlet, penari balet yang mengagumkan, pemburu yang mengadalkan insting, atau pengusaha sukses. Apakah mereka semua harus memiliki IQ yang tinggi?

Goleman (2000) memaparkan hasil kajian tentang potensi IQ yang hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sementara 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, di antaranya adalah kecerdasan emosional atau emotional quantient (EQ).

Para ahli telah meneliti seputar persoalan ini, kebanyakan dari mereka menemukan orang memiliki EQ baik lebih diterima masyarakat daripada berIQ tinggi. Sebut saja Robert Stenberg, ahli bidang Successful Intelligence yang pernah mengungkapkan “bila orang berIQ tinggi yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya demikian dan bila kita telah membiarkannya berkuasa maka secara tidak sadar kita telah memilih penguasa yang buruk”.

Ginanjar (2001), mencatat sebuah hasil survei yang dilakukan terhadap ribuan eksekutif, manajer, dan wiraswasta yang berhasil, ternyata sebagian besar di antara mereka menggantungkan diri pada dorongan suara hati. Sebuah survei lain terhadap ratusan perusahan di Amerika mengungkapkan, kemampuan teknis/analisis bukan hal yang menentukan keberhasilan seorang pemimpin/manajer. Hal terpenting justru kemauan, keuletan mencapai tujuan, kemauan mengambil inisiatif baru, kemampuan bekerja sama, dan kemampuan memimpin tim.

Hasil identik juga disimpulkan dari penelitian jangka panjang terhadap 95 mahasiswa Harvard University lulusan tahun 1940-an yang menemukan, mahasiswa berIQ tinggi memiliki sifat egois dan kurang perhatian sehingga hidupnya tidak terlalu sukses (berdasarkan gaji, produktivitas, dan status pekerjaan), sementara mereka yang memiliki EQ baik sangat sukses dalam kehidupannya, karena memiliki banyak teman, pandai berkomunikasi, berempati, dan tidak temperamental.

Jadi, salah kaprah bila mengukur keberhasilan seorang anak hanya dari segi angka, di mana anak dianggap cerdas bila memiliki nilai A, 100 (seratus) dalam pelajaran tertentu atau pelajaran lain yang diujian-nasionalkan. Karena, ukuran tersebut bukanlah “jaminan sepenuhnya” keberhasilan seorang anak dalam bertarung dengan kehidupan nyata.

Mungkin pembaca merasa hal ini berlebihan, dibesar-besarkan, dan tendensius. Namun penulis meyakini, pendidikan kita hari-hari ini berada di pesimpangan makna, karena masih berkutat pada hegemoni teori IQ yang berujung pada prestasi akademik semata. Padahal setiap anak yang datang ke dalam dunia memiliki potensi yang beragam. Itulah sebab Suryadi, dkk (2009) menegaskan taraf intelegensi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesuksesan hidup seorang anak di masa mendatang. Karena Goleman (2000) mencatat, kenyataan banyak orang yang cerdas kerap kali gagal dalam kehidupannya.

Mengubah Paradigma atau Bertahan dalam Kemunduran

Ada begitu banyak potensi yang ada dalam diri seorang anak. Albert Einstein pernah mengatakan “setiap orang jenius, tapi bila kamu menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon maka selama hidupnya ia akan mempercayai bahwa ia bodoh”.

Guru dan orangtua perlu menyadari selama ini kecerdasan anak selalu diukur dengan tes IQ, yang pada giliranya tes tersebut, seorang anak diberi “label” sebagai anak cerdas atau bukan. Apalagi, terdapat beberapa pelajaran tertentu yang dipercayai secara signifikan berkorelasi dengan kecerdasan anak. Salah satunya adalah matematika.

Hal ini menyebabkan banyak orang tua dan guru yang mengagumkan pelajaran yang satu ini dan mengira bahwa anak-anak yang mampu menggeluti bidang ilmu eksakta lebih cerdas ketimbang anak-anak yang menggeluti bidang ilmu non eksakta. Itulah cara orang tua dan guru bertahan dalam kemunduran.

Kecerdasan anak dapat diukur dengan angka, itu mungkin. Tetapi kecerdasan tidak hanya dapat diukur dari sejauh mana anak menguasai pelajaran tertentu. Perlu digarisbawahi, kecerdasan bukanlah hal yang permanen dan tidak dapat diubah. Albert Einstein menjadi contoh nyata, semasa kecil ia dianggap bodoh oleh guru dan teman-temannya, namun saat dewasa ia dianggap orang paling cerdas sedunia karena merumuskan teori relativitas.

Contoh lain, anak yang kurang menyerap konsep nasionalisme dalam pendidikan kewarganegaraan belum tentu ia tidak dapat menghargai dan menghormati ajaran agama orang lain. Jadi, orangtua dan guru tidak boleh berfokus hanya pada peningkatan IQ. Goleman (2000), menegaskan penting untuk mengembangkan kecerdasan emosional (EQ) pada anak yang mencakup kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati (mood), berempati, dan kemampuan bekerja sama.

Dalam proses belajar anak, kedua intelegensi ini sebenarnya sangat diperlukan menempati porsi yang seimbang. IQ tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa partisipasi penghayatan emosional terhadap pelajaran yang disajikan oleh guru maupun orangtua. Jadi, keseimbangan antara IQ dan EQ merupakan kunci keberhasilan kehidupan seorang anak di masa mendatang.

Sangat mudah untuk membedakan IQ dengan EQ. Objek IQ mencakup hal-hal yang berada di luar diri manusia seperti kimia, matematika, bahasa, fisika, dan lain-lain. Sementara objek EQ berkaitan dengan hal yang fenomenal dalam diri manusia, seperti pengendalian emosi, pergaulan hidup, dan eksistensi hidup manusia (Suharsono, 2002).

Bila mengacu pada beragam pandangan dan hasil kajian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka orangtua dan guru mesti mengubah paradigma berpikir terkait pertimbangan metodologi yang seyogianya lebih “memanusiakan manusia” dalam pendidikan. Pendidikan tidak sekadar mentransfer ilmu (transfer of knowlege) kepada anak, tetapi lebih dari itu mentransfer nilai (transfer of value) atau membentuk karakter baik (good character).

Sebab nilai/karakter berkaitan dengan EQ yang dapat mengantarkan anak pada pintu gerbang kesuksesan di masa mendatang. Jadi, peran orangtua dan guru tidak boleh sebatas “mengajar” melainkan “mendidik” anak sesuai dengan nilai/karakter baik. Lebih dari itu, agar pendidikan kita tidak berada di persimpangan makna, maka pikirkan secara saksama perkataan filsuf kenamaan Yunani, Aristotes bahwa mendidik pikiran tanpa mendidik hati adalah bukan pendidikan sama sekali.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Yakob Godlif Malatuny
Yakob Godlif Malatuny, S.Pd.,M.Pd adalah Akademisi Universitas Pattimura/Tutor Universitas Terbuka Ambon. Gemar membaca dan menebarkan benih ilmu melalui tulisan pada jurnal, prosiding, dan opini di media. Beberapa kajian dan hasil penelitian dipublikasikan pada Jurnal Sains dan Humaniora, Jurnal Pedagogika dan Dinamika Pendidikan, Prosiding Seminar Internasional, Departemen Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia, Prosiding Seminar Nasional Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Pattimura. Prosiding Internasional kerja sama Universitas Pendidikan Indonesia dengan Universitas Kebangsaan Malaysia. Prosiding Internasional, The 1st International Conference on Social Science Education (ISSCE) Universitas Lampung Mangkurat. Beberapa artikel diterbitkan pada koran Kabar Timur, Spektrum, Rakyat Maluku dan media online Cahaya Lensa, Kompas Timur, Tribun Maluku, Kompasiana, Qureta, Artikula serta blogger pribadi.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals