Menikmati Kotagede Sebagai Upaya Menjaga Krisis Ruang Publik Kultural

Kotagede bukan saja menawarkan nilai-nilai sejarah. Akan tetapi menawarkan nilai-nilai penghayatan akan kebersamaan dan kedamaian.


Salah satu kegemaran saya ketika berkunjung ke Yogyakarta adalah menikmati suasana damai sambil ditemani segelas kopi di sebuah tempat yang bernama Kotagede. Sebuah wilayah yang penuh nilai-nilai historis terletak di Kabupaten Bantul sebelah Selatan. Disebut penuh nilai-nilai historis karena sejarah berdirinya kota ini yang tidak bisa dilepaskan dari pergulatan panjang politik Mataram Islam.

Sekadar untuk mengingatkan kembali sekilas sejarah kota ini yang sebelumnya bernama hutan Mentaok yang merupakan hadiah dari Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir Raja Pajang kepada Ki Gede Pemanahan. Hadiah atas dasar balas jasa karena Ki Gede Pemanahan telah membantu Jaka Tingkir mengalahkan Arya Penangsang.

Daerah yang di kemudian hari diberi nama Kotagede karena didirikan oleh Ki Gede Pemanahan, yang berkuasa antara tahun 1570-1584. Kedudukannya sebagai adipati kemudian digantikan oleh anaknya bernama Danang Sutawijaya (Raden Ngabehi Loring Pasar) yang kelak bergelar Panembahan Senopati Ing Alago Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Keberhasilan Penambahan Senopati mengalahkan dominasi Pajang membuat dirinya diangkat sebagai Raja Mataram Islam pertama dengan ibu kota (the old capital city) di Kotagede pada tahun 1586-1601.

Itulah sekilas sejarah singkat nilai historis penting dari keberadaan Kotagede. Dari sejarah historis yang panjang itu hingga hari ini. Hadirnya Kotagede tentu banyak meninggalkan warisan-warisan sejarah yang bernilai tinggi.

Selain terkenal sebagai kota pengrajin perak, Kotagede bukan saja menawarkan nilai-nilai sejarah. Akan tetapi menawarkan nilai-nilai penghayatan akan kebersamaan dan kedamaian. Bagi saya yang memilih Kotagede sebagai tempat untuk menikmati suasana damai tentu bukan tanpa alasan.

Mungkin bagi sebagian besar masyarakat ketika berkunjung ke Yogyakarta hal yang pertama kali disinggahi adalah tempat-tempat yang sudah terkenal seperti, Malioboro, Alun-Alun, Taman Sari, Candi Prambanan, Hutan Pinus, Bukit Bintang, dan lain sebagainya. Hal itu tidak sepenuhnya salah, tapi bagi saya berkunjung ke Kotagede selain sebagai penenang batin. Juga sebagai sikap untuk menjaga Kotagede dari krisis ruang publik kultural. Inilah alasan saya, selain untuk menelusuri jejak sejarah para leluhur saya.

Adapun alasan itu berangkat dari kegelisahan saya yang selama bertahun-tahun tumbuh di kota Jakarta, yang hari ini ruang publiknya telah bergeser kulturnya. Bagaimana tidak, ibu kota Jakarta dengan segala fasilitas dan modernitasnya telah kehilangan ruang publik sebagai penghayatan ruang bersama menjadi ruang ekonomis dengan rasionalitas (pola pikir kalkulasi untung-rugi).

Ruang-ruang bermain anak-anak, tempat ngopi warga, ruang-ruang bercengkrama yang sejuk, ruang eskpresi diri, dan lain-lain, telah kehilangan tempat. Hal itu dapat dilihat ketika ruang bermain anak hanya sebatas ruang lingkup bernama kolong jembatan.

Tentu fenomena di atas bukan tanpa sebab, gaya hidup anak muda perkotaan seperti Jakarta. Dalam perkembangannya inilah yang telah menggeser ruang-ruang publik sebagai penghayatan bersama menjadi sebuah tempat yang disebut dengan mal. Anak muda dengan segala kebutuhan dan style-nya ternyata dalam prakteknya telah memancing pihak-pihak pemodal untuk terus memompa nafsu anak muda melalui iklan dan mal-mal yang menjual segala kebutuhan yang diperlukan anak muda saat ini demi tuntutan modernitas.

Pelipatgandaan bertubi-tubi melalui penciptaan citra-citra atau idola yang dipasang melalui iklan. Bukan saja telah menggerus mental anak muda menjadi seorang yang konsumtif, tetapi tidak sempat lagi akal menyeleksi mana yang buruk dan baik.

Hadirnya mal sebagai pusat toko hiburan, pemenuhan hasrat makan, hasrat menonton dengan nikmat dan hasrat tampil bergaya bagaikan selebritis telah menyatukan komoditas dengan simbol-simbol budaya sehingga para konsumer mengidentifikasi diri dengan tempatnya. Identitas yang melekat pada diri konsumer pada gilirannya harus ditambah dengan “anda membelinya di mana?”

Maka tidak heran jika dalam kacamata politik ekonomi. Hadirnya tempat seperti mal disebut sebagai “political fact”,  yang artinya tempat para pemilik modal memiliki kuasa untuk membangun tempat imaji-imaji artifisial (Hardiman, 2010).

Dengan mentransformasikan kenangan masa lalu pasar-pasar tradisional ke dalam ruang-ruang ilusi seperti mal. Ruang-ruang di mal dirancang menjadi taman firdaus dengan air mancur instrumental. Seakan-akan alami dan surgawi ekologis namun palsu, hanya di situ saja lantaran begitu pulang ke rumah, rasa dan imaji ini tersadar lagi. Atas kesadaran dan alasan inilah yang membuat saya perlu menuliskan kegelisahan atas ruang-ruang publik di sekitar saya.

Oleh karena itu, tidak heran jika saya selalu merindukan suasana yang damai tanpa kepalsuan. Suasana ini hanya saya dapatkan di Kotagede. Sebuah kota di mana saya bisa menikmati ruang-ruang tanpa unsur-unsur politik yang membawa diri saya tenggelam dalam sikap hidup yang konsumtif sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas.

Kotagede dengan segala nilai-nilai historisnya ada banyak hal yang bisa saya pelajari selain penghayataan akan kebersamaan dengan warga sekitar yang setiap hari selalu menjaga budayanya lewat tutur kata bahasa Jawa.

Menikmati indahnya pasar-pasar tradisional yang orisinil tanpa penuh kepalsuan, di mana saya masih bisa merasakan dan melihat transaksi yang paling ramai di Pasar Gede yang terjadi pada hari pasaran Legi (hari menurut kalender Jawa). Pada hari pasarasan tersebut, banyak dijual berbagai kebutuhan seperti, hasil pertanian, kue-kue tradisional, kain batik.

Selain itu, dalam hal makanan kecil atau kudapan, Kotagede terkenal dengan hasil industri rumah tangganya, yang saat ini industri rumahan khususnya di Jakarta, telah digeser keberadaannya oleh mal-mal. Namun di Kotagede industri rumahan khususnya dalam hal makanan seperti kipa (makanan yang terbuat dari tepung, beras ketan, kelapa, dan gula Jawa) dan yangko (makanan kecil yang terbuat dari beras ketan) masih berkembang.

Bukan saja dalam hal makanan tradisional yang masih dapat ditemukan di Kotagede, namun yang lebih penting adalah kawasan tempat bangunan kuno bersejarah seperti, Kraton Kotagede, cepuri (sisa-sisa tembok bangunan) dan bangunan rumah kuno yang masih berdiri sampai dan dapat ditemui hingga saat ini. Hal ini karena kesadaran para warganya untuk tetap menjaga ruang-ruang hidupnya untuk tetap lestari.

Bahkan untuk menikmatinya pun kita disuguhkan dengan pemandangan-pemandangan yang tidak penuh kepalsuan seperti, menyusuri lorong-lorong perkampungan penduduk, di mana orang-orang dapat melihat rumah-rumah tradisional dengan nuansa etnik sungguhan. Rumah tradisional yang dibedakan berdasarkan gaya arsitekturnya seperti, rumah kalang (sudagaran) gaya eropa dan tradisional Jawa (joglo) serupa pendopo.

Bahkan di Kotagede terdapat salah satu jalan yang menunjukkan adanya aktifitas ruang bersama kultural sebagai penghayatan akan kebersamaan dan kerukunan hidup di para wargannya, jalan itu disebut Jalan Rukunan, sebuah jalan yang terletak di Kampung Alun-Alun RT 37/RW 09 Kelurahan Purbayan.

Secara historis kondisi jalan di Kotagede dapat dibagi menjadi tiga hierarki, yakni jalan utama, jalan kampung, dan jalan rukunan. Dan di antara ketiga jalan itu, jalan rukunanlah yang paling unik. Jalan Rukunan sendiri terbentuk dari deretan ruang-ruang pringgitan. Ruang pringgitan merupakan ruang yang terbentuk di antara dua bangunan utama rumah tradisional Jawa, yakni bangunan pendapa.

Deretan ruang pringgitan dapat berbentuk karena setiap rumah warga bersama-sama merelakan ruang pringgitannya untuk digunakan sebagai jalan khusus pejalan kaki. Jalan Rukunan yang terbentuk cenderung membentang dari Timur ke Barat dan berujung ke jalan utama Kotagede. Ini dapat diistilahkan sebagai contoh “Public Space in Private Property” (Larasati). 

Karakteristik jalan ini menjadi unik karena setiap masyarakat pengguna ruang tersebut harus peka dan dapat berbagi ruang. Sehingga jalur yang begitu sempit, tetap dapat dilewati oleh pejalan kaki dan pengendara motor dengan nyaman. Di samping digunakan untuk jalur sirkulasi, pengguna ruang Jalan Rukunan juga harus berbagi dengan anak-anak yang bermain di sela-sela bangunan. Para orang tua yang biasanya duduk-duduk saat pagi atau sore di depan bangunan, juga turut serta meramaikan suasana berbagi di ruang Jalan Rukunan.

Sejak dahulu para pengguna Jalan Rukunan di Kotagede sudah mengerti aturan berprilaku ketika melewati jalan tersebut, yaitu saling berbagi, mengerti, dan berprilaku sopan. Sebuah kondisi yang jarang ditemukan di kota seperti Jakarta.

Selain menikmati ruang-ruang yang bersahaja dan indah dengan nuansa masa lalu, di Kotagede kita juga bisa wisata spiritual. Sebuah kegiatan yang sangat diperlukan saat ini, untuk mengingatkan kembali jati diri kita sebagai manusia yang fana dengan berziarah ke makam Panembahan Senopati. Saat berziarah dianjurkan memakai kostum ciri khas Jawa seperti, surjan lurik lengkap dengan blangkonnya.

Begitu pun setelah atau sebelum ziarah,  kita dapat melakukan ibadah di sebuah masjid yang penuh nilai-nilai historis seperti, Masjid Gedhe Mataram. Halamannya yang luas memberi akses bagi anak-anak bermain dengan riang gembira.

Tak berhenti sampai di situ, dengan kesadaran yang sedemikian besar di tengah-tengah guncangan mental budaya konsumtif dan modernitas. Masyarakat Kotagede masih aktif untuk mengadakan tradisi kirab budaya Ambengan Ageng Kotagede yang diadakan setiap tahun. Sebuah tradisi budaya yang menyimbolkan wujud syukur atas limpahan rezeki yang diperoleh masyarakat setempat.

Kedamaian, penghayatan, dan kebersamaan dengan limpahan culture heritage inilah yang membuat saya terkesan dan ingin berlama-lama di kota ini. Sebab dengan melihat realitas yang tergambarkan melalui Kotagede penghayatan kita terhadap ruang bersama yang kultural terus terjaga. Di tengah perubahan dahsyat ruang bersama itu dari kultural ke fungsional seperti yang terjadi di Jakarta, maka lambat laun akan menggeser kesadaran kita akan arti penting kebersamaan.

 

Daftar Pustaka

Hardiman, B. (2010). Ruang Publik Melacak “Partisipasi Demokratis” dari Polis Sampai Cyberspace. Yogyakarta: Kanisius.

Larasati, T. A. (n.d.). Jalan Rukunan Di Kotagede “Kerukunan Hidup Melalui Ruang Jalan”. Jogjaprov .

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals