Menjaga Lisan

"..Muslim jauh dari kata-kata kotor dan meneladani Nabi Muhammad saw yang tak pernah mengucapkan satu kata pun yang melukai perasaan orang lain.."


Lisan adalah organ tubuh manusia yang amat sangat vital untuk berkomunikasi dengan orang lain. Orang bercakap-cakap dengan lisan. Orang mengucap syukur dan terima kasih dengan lisan. Orang curhat, mengeluh, mengumpat, dan mencela dengan lisan. Orang terpuji atau tercela karena lisan. Pepatah Arab menyatakan, “Salamatul insan fi hifzhillisan – Keselamatan seseorang terletak pada penjagaan lisannya.” Peribahasa Indonesia menyatakan, “Mulutmu harimaumu.”

Allah swt berpesan dalam Al-Quran:

Wahai orang-orang beriman, janganlah ada suatu golongan memperolok golongan yang lain. Boleh jadi yang diperolok itu lebih baik daripada yang memperolok. Juga jangan ada perempuan yang menertawakan perempuan yang lain. Bolehjadi yang ditertawakan itu lebih baik daripada yang menertawakan. Janganlah kamu saling mencela dan memberi nama ejekan. Sungguh jahat nama yang buruk itu setelah kamu beriman. Siapa yang tidak bertobat, orang itulah yang zalim. 

Wahai orang-orang beriman, jauhilah prasangka sebanyak mungkin, karena sebagian prasangka adalah dosa. Dan janganlah saling memata-matai, jangan saling menggunjing. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tidak, kamu akan merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Allah selalu menerima tobat, dan Maha Pengasih (QS 49:11-12).

Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah kalian selalu menetapi kebenaran, karena kebenaran itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga. Jika seseorang berbuat benar, dan bersungguh-sungguh dengan kebenaran, ia akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang benar. Jauhkanlah dirimu dari bohong, karena bohong itu menuntun kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan itu menuntun ke neraka. Jika seseorang selalu berbohong, dan terus berbohong, niscaya ia dicatat oleh Allah sebagai pembohong.” (Muttafaq ‘Alaih).

Pada kesempatan lain Rasulullah saw bersabda, “Sungguh, seorang hamba berbicara satu kalimat, dan ia tidak dapat mempertanggungjawabkan apa yang telah ia bicarakan, maka ia akan diazab di dalam api neraka selama jarak antara timur dan barat.” (HR Bukhari).

Dalam majelis orang-orang yang mencintai Allah swt dan jujur, jika seseorang kehilangan jalan menuju keselamatan, maka jalan yang masih tersisa adalah diam dan mendengarkan dengan baik. Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa diam, maka ia selamat.” (HR Tirmidzi).

Ketika berbicara tidak terlalu penting, maka diam memiliki nilai maslahat. Nabi Muhammad saw bersabda, “Pembicaraan anak Adam itu membebaninya, kecuali apa yang diucapkan untuk memerintah kebaikan, mencegah kemungkaran, dan berdzikir kepada Allah.” (HR Ibnu Abid-Dunya).

Iman mendorong berkata baik, dan diam jika tidak ada kebaikan yang diharap. Dengan demikian, mereka memetik buahnya, baik di dunia dan di akhirat.

Al-Muhasibi berkata, “Takutlah wahai saudaraku pada lisanmu, melebihi takutmu pada singa ganas yang siap menerkam. Seorang beriman yang meninggal dunia karena gigitan binatang buas balasannya adalah surga, dan balasan orang yang terbunuh karena lisannya adalah neraka, kecuali Allah swt mengampuninya. Wahai saudaraku, janganlah lalai akan lisanmu! Sebab, lisanmu adalah binatang buas yang mangsa pertama kalinya pemiliknya sendiri.”

Menjaga lisan semakin perlu di tempat-tempat pergaulan yang berpeluang timbulnya tuduhan dan fitnah.

Seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad saw, “Apakah keselamatan itu?” Nabi Muhammad saw menjawab, “Peganglah lisanmu; hendaknya rumahmu dapat mengamankan dirimu dan menangislah atas segala kesalahanmu.” (HR Baihaqi dan Tirmidzi).

“Janganlah memperbanyak bicara tanpa menyebut nama Allah swt. Karena, banyak bicara tanpa menyebut nama Allah swt akan menutup pintu hati. Sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah swt adalah mereka yang hatinya terkunci mati.” (HR Tirmidzi).

Muslim jauh dari kata-kata kotor dan meneladani Nabi Muhammad saw yang tak pernah mengucapkan satu kata pun yang melukai perasaan orang lain atau merusak kehormatannya.

Sahabat Nabi saw, Anas ra, berkata, “Nabi Muhammad sawtidak pernah menggunakan bahasa yang kotor, memaki atau menyumpah.” Ketika beliau ingin memperingatkan seseorang, beliau mengatakan, ‘Apakah yang salah dengannya? Boleh jadi dahinya tertutup oleh debu’.” (HR Bukhari).

Muslim tidak mencurigai seseorang dengan sesuatu yang buruk, sesuai dengan firman Allah tersebut terdahulu. Nabi Muhammad saw memberikan peringatan keras terhadap prasangka yang tidak ada dasarnya. Beliau mengarahkan muslim untuk memandang seseorang dari nilai lahiriahnya, karena hanya Allah swt yang mengetahui segala yang rahasia dan tersembunyi. “Jauhilah prasangka, karena prasangka merupakan ungkapan yang palsu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Muslim berhati-hati dalam perkataan dan tidak pernah melupakan firman Allah swt, Janganlah kau ikut apa yang tidak kauketahui; karena setiap pendengaran, penglihatan atau hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17:36).

Seseorang bisa mengucapkan kata-kata yang mendatangkan ridha Allah swt dan ia tidak menyadarinya, sebab Allah akan memberikan ridha-Nya karena kata-kata itu sampai pada hari pertemuan dengan Tuhan. Demikian pula, seseorang bisa mengucapkan kata-kata yang menyebabkan murka Allah swt, dan ia tidak menyadarinya, sebab Allah swt akan menyatakan marah kepadanya karena kata-kata tersebut sampai pada hari kebangkitan.

Betapa besar tanggung jawab atas kata-kata yang kita ucapkan dan betapa seriusnya konsekuensi ucakan sembrono. Orang-orang bijak berpesan, “Belajarlah menyimak pembicaraan orang dengan baik, sebagaimana engkau belajar berbicara dengan baik.” (Ibnu Muqaffa’); “Anakku, jagalah baik-baik lidahmu dan peliharalah persahabatanmu.” (Geoffrey Chancer). “Kata-kata itu seperti sinar matahari; makin dipadatkan, makin dalam ia membakar.” (Robert Southey); “Siapa yang ingin mencintai hidup dan menikmati hari-hari yang bahagia, hendaknya menahan lidah dari dosa dan mengendalikan bibir dari perkataan dusta.” (St. Peter).

Luka yang disebabkan oleh ucapan lebih sulit disembuhkan daripada luka yang disebabkan oleh pedang. Janganlah engkau berbicara tanpa akal dan jangan bekerja tanpa perencanaan. Sebaik-baik ucapan ialah yang benar dan bermanfaat bagi pendengarnya. Seseorang mati disebabkan tergelincir lidahnya, bukan karena tergelincir kakinya.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin

Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar Tafsir Alquran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Anggota tim penyusun Tafsir Tematik Litbang Kemenag RI dan tim penyusun draft revisi Alquran dan Terjemahnya Tim Kemenag RI 2017. Telah menulis lebih dari 50 buku tentang Alquran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals